Tragedi di Rutan Makobrimob, Depok Jawa Barat, Selasa, Rabu (8-9 Mei 2018) kembali menyontakan kita sebagai anak bangsa. Rutan yang menyatu dengan markas brimob itu dengan sangat mudah dikuasai Narapidana. Apalagi napi sekelas teroris yang pasti pengawasannya sangat ketat, ketimbang napi umum.
Kerusahan di Makobrimob ini tercatat yang ke dua, setelah tragedi 17 November 2017 pasca Sholat Jumat, namun tidak ada korban jiwa.
Mei berdarah ini, membuat bangsa berkabung karena 5 anggota densus gugur dalam peristiwa tersebut, sedangkan di pihak napi(tetoris) hanya satu orang. Alangka sedihnya kita Rutan yang menyatu dengan markas, bisa dikuasai napi teroris dengan merebut 6 senjata petugas keamanan saat itu.Antara percaya dan tidak, tapi itulah kenyataannya Napi lebih lihai dari petugas. Atau petugas lalai dengan senjatanya.
Tidak masuk akal, bila menyimak luka tubuh pada petugas yang gugur, terlihat ada bekas tusukan dan tembakan. Ini mengindikasikan napi mempunyai senjata tajam, yang luput dari pengawasan petugas.
Tragedi kerusuhan baik di rutan maupun di lembaga kemasyarakatan tidak kali ini saja. LP di berbagai daerah sering bobol dan ricuh. Di Medan dengan peristiwa Kusta, di Pekanbaru, Jambi dan Palembang.
Mereka sepertinya mempunyai perencanaan yang sistimatik rapi dan matang, membuat petugas tidak tahu sama sekali.
Kerusuhan sering muncul hanya dipicu masalah sepele, ya masalah makan dan waktu kunjungan yang dinilai terlalu singkat antara napi dan keluarganya. Tapi menurut hemat kita, masalah itu hanya pemantik dari rencana napi yg dipersiapkan jauh jauh hari.
Tak salah juga ada anggapan bahwa di lp itu semua bisa direncanakan. Ingat sejumlah Gembong narkoba sukses mengendalikan bisnisnya dari dalam Lapas.
Bahkan ada gejala napi narkoba yang sudah habis masa pembinaannya, berkeinginan kembali ke penjara. Oleh karena itu, ia berbuat kejahatan lagi di dalam masyarakat agar ia ditangkap dan penghuni lp kembali.
Jebol dan rusuh di dalam lp, penyebabnya banyak faktor. Pertama, kapasitas huni lp dengan napi yang masuk tidak ideal lagi. Kapasitas yang seharusnya100 dipaksakan sampai 500 napi. Kedua, jumlah petugas dengan warga napi juga tidak sebanding. Tiga atau empat petugas harus mengawasi satu blokbdari yang dihuni puluhan bahkan ratusan napi. Sehingga bila terjadi keributan petugas lp tak sanggup mengatasi. Kalapas pasti menghubungi aparat polisi untuk mengatasi keributan tersebut.
Ketiga, mental petugas lapas yang suka disogok, sehingga memuluskan sesuatu yang diinginkan napi.
Kita memang tidak tahu pesis protap di lp itu, namun begitu ada razia, banyak ditemukan handphone, senjata tajam dan narkoba dengan bermacam jenis.
Awam tentu bertanya, darimana datang dan masuknya, barang barang tersebut?. Sebab, setiap jam kunjungan semua barang dan tamu harus melalui pemeriksaan. Soal ketat atau tidak pemeriksaan itu, ya tergantung petugas.
Itulah gambaran umum lapas di negeri ini yang perlu menjadi perhatian kita semua.
Dan kita prihatin dengan tragedi Depok dan duka kita untuk 5 putra terbaik bangsa yang gugur dalam peristiwa tersebut yang harus kita lihat ada hikmahnya.
