Oleh: Ridwan Syarif
DHARMASRAYA, SEMANGATNEWS.COM – Beberapa catatan segar masih tersimpan utuh dalam benak ini usai mengikuti Uji Kompetensi Wartawan atau UKW dari tanggal 5-6 Juli 2024 lalu di hotel Santika Padang.
Uji Kompetensi yang terlaksana atas kerjasama Dewan Pers, lembaga uji PWI dan lembaga uji Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas PROF. DR.MOESTOPO Jakarta ini bebas biaya alias gratis, bahkan ada uang saku.
Ada rasa cemas, nervous sebelum memulai dan mengikuti ujian, hal itu biasa. Namanya juga di uji, sejauh mana kita menguasai secara tekhnis dan non tekhnis tentang apa yang menjadi profesi kita, memahami kode etik dan UU tentang Pers, pasal demi pasal.
Kecemasan itu semakin komplit ketika saat diuji dihadapkan dengan 11 modul mata uji yang mesti dituntaskan dalam hitungan menit, jangankan menikmati kopi yang disediakan panitia, candu merokok pun hilang seketika.
“Untuk saat ini wartawan atau jurnalis tidak hanya dituntut mampu membuat berita, tetapi bagaimana dia memahami Kode Etik dan Undang-Undang,” sebut M.Agung Dharmawijaya, Wakil ketua Dewan Pers saat membuka acara Pra UKW tanggal 28 Juni 2024 lalu.
Penulis berpandangan bahwa perkara kompetensi adalah keinginan setiap orang yang memang ingin menjadi yang terbaik dalam hidupnya, apapun profesi yang dilakoni.
Sebagai ilustrasi untuk menjadi seorang figur ayah atau suami yang baik bagi anak dan istri, tentu harus berupaya menjadi “hero” pria terbaik di tengah keluarga dalam mengayomi, membimbing dan mencintai orang-orang tersayang nya.
Bila kita umpamakan dalam kehidupan beragama (Islam) untuk menjadi seorang muslim yang kompeten pun itu juga mengalami ujian terlebih dahulu.
“Jangan kalian kira sudah beriman (kompetensi) sebelum iman kalian itu diuji” (Al-Ankabut ayat 2)
Proses menuju itu semua bukan perkara mudah, bukan tidak ada ujian, banyak halang rintang yang dilewati. Tetapi bukan berarti tidak bisa, bisa! sepanjang sungguh-sungguh dan serius.
Nah..kembali ke pokok bahasan. Catatan yang tersisa pasca UKW sesungguhnya uji kompetensi di tingkat muda adalah lebih pada me “manage” sikap, prilaku seorang wartawan (atitude) di samping wajib menguasai materi dasar 5w + 1 H.
Bahkan untuk hari ini “W” ditambah satu lagi, words next, kelanjutannya apa?. Sementara di tingkat Madya lebih kepada tugas seorang Redaktur (hanya 10 modul uji).
Selanjutnya bagaimana melakukan teknik wawancara, apa yang perlu dipersiapkan, semuanya perlu di kalkulasi dengan baik, output dari wawancara itu apa, timer yang dibutuhkan dan anggaran yang diperlukan.Terlebih dari itu semua adalah kesiapan materi kita sebagai pewawancara.
“Wawancara terasa hambar dan tidak menggigit, berbelit-belit, tidak dimengerti, karena wartawan kurang paham dengan materi, hingga tidak mampu menggali apa yang hendak diketahui dari narasumber,” sebut Marah Sakti Siregar, wartawan senior yang juga Dewan Pengarah Lembaga Uji Kompetensi PWI
Sesungguhnya uji kompetensi itu menurut Dewan Pers adalah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan. Menjaga harkat dan martabat kewartawanan itu sendiri.
Kompetensi akan menempatkan diri seorang wartawan itu sebagai penghasil karya intelektual. Profesi yang bicara atas dasar data dan fakta, menyebarkan ilmu pengetahuan, karena wartawan dianggap sebagai makhluk serba tahu.
Kode etik melarang wartawan untuk menyebarkan berita bohong, tendensius, mengandung unsur kebencian, apalagi masuk kategori Trial by the Press tanpa mengindahkan azas praduga tidak bersalah.
Setuju tidak setuju Kode Etik Jurnalistik serta UU No.40 tahun 1999 tentang pers wajib dipahami.
Secara non tekhnis seorang wartawan harus memiliki wawasan dan nalar yang kuat. Dalam konstitusi, Pers disebut sebagai pilar ke empat dari Demokrasi setelah yudikatif, eksekutif dan legislatif.
Kaum Jurnalis berada pada barisan ke empat menjaga negara untuk tetap konsisten dalam koridor berbangsa dan bernegara yang baik melalui fungsi kontrol sosialnya. Luar biasa!
Sisi lain tujuan UKW adalah untuk meng “Up grade” nilai tawar wartawan yang akhir-akhir ini sudah terdegradasi.
Intinya uji kompetensi jangan dijadikan momok menakutkan. Uji Kompetensi lebih kepada me “review” apa yang sudah biasa dilakukan. Mulai dari menggali informasi sampai menyiarkan dalam bentuk berita.
Kuncinya, jangan biasakan “copy paste” bila anda tak mau menikmati “kopi pahit” saat UKW. Selamat mencoba saat waktunya tiba.!!
