PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang melanda Indonesia semakin memperparah kondisi pertanian, terutama dalam hal daya tahan tanaman. Kejadian gagal panen dan hasil panen yang sedikit semakin sering terjadi.
Namun, yang paling dikhawatirkan para petani adalah ancaman hama dan penyakit tanaman yang kian merajalela. Kondisi ini turut dirasakan oleh para petani di Jorong Paraman, Nagari Sipinang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat Selasa (13/8/2024).
Pak Barat (35), seorang petani, mengungkapkan kondisi kebun yang terancam oleh hama dikarenakan pupuk kimia, “Pertumbuhan tanaman di kebun kami sering terancam oleh hama dan penyakit. Biasanya, kami hanya menggunakan pupuk kimia yang dampaknya tidak baik bagi tanaman dan lahan pertanian di masa depan.” Ucapnya
Melihat kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas 2024 yang berada di Nagari Sipinang, tepatnya di Jorong Paraman, meluncurkan metode Biosaka sebagai solusi perawatan pertanian yang ramah lingkungan. Biosaka, yang merupakan singkatan dari “BIO” dan “SAKA” (Selamatkan Alam Kembali ke Alam), adalah teknik yang memanfaatkan tanaman untuk memulihkan ekosistem pertanian.
Biosaka bukanlah pupuk, melainkan elisator biologis yang terbuat dari bahan hayati. Elisator ini memicu respon fisiologi dan morfologi pada tanaman sehingga meningkatkan produktivitas, kesuburan tanah, dan melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Metode ini pertama kali ditemukan oleh Muhammad Ansar, seorang petani asal Blitar, pada tahun 2006.
Proses pembuatan Biosaka cukup sederhana. Dibutuhkan lima jenis tanaman yang berbeda dan sehat. Tanaman ini direndam dan diremas dalam air selama 30-60 menit hingga air berubah warna menjadi hijau. Air tersebut kemudian disaring dan disimpan dalam botol untuk digunakan sebagai elisator.
Dalam sosialisasi yang dipimpin oleh Grace, seorang mahasiswi KKN Unand Sipinang 2024, pada Selasa, 13 Agustus 2024, dijelaskan bahwa Biosaka memiliki lima kelebihan utama: reaksi cepat dalam 24 jam, proses pembuatan singkat tanpa fermentasi, bahan alami dan sederhana, dosis sedikit namun efektif hingga lima tahun, dan mampu menghemat biaya perawatan tanaman.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para petani Jorong Paraman. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap langkah pembuatan dan aplikasi Biosaka. Para petani berharap bahwa metode ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan daya tahan tanaman mereka terhadap hama dan penyakit, serta memperbaiki hasil panen yang lebih baik di masa depan.
Mahasiswa KKN Unand juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam kampanye pertanian ramah lingkungan di Indonesia. Dengan menggunakan metode Biosaka, mereka percaya bahwa pertanian yang berkelanjutan dan produktif dapat tercapai, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.(Qan)
