JAKARTA, SEMANGATMEWS.COM – Ruang Garasi di Jalan Gandaria IV/2 Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kembali menggelar pameran seni rupa yang sangat menarik untuk dikunjungi dan diapresiasi karya-karya yang ditampilkan. Kali ini pameran menggelar sejumlah karya seniman seni rupa provinsi Jambi bekerjasama dengan Taman Budaya Jambi.
Pameran yang diresmikan langsung Gubernur Provinsi Jambi Dr. H. Al Haris, S. Sos., M. H Jumat (9/8/2024) berlangsung sejak 9 sd 23 Agustus 2024 mendatang mengusung tema Estetika Urban tersebut mengikutsertakan nama nama perupa yang karya-karyanya tak asing bagi publik tanah air, khususnya provinsi Jambi.

Perupa yang berpameran seperti : Berryman Girsang, Defifa Eca Syahwa, Diana Sepvira, Edi Purnomo, Faryadhiga (blatz), Rafif Saleh, Rian Kurnia, Ricky Priyantoso, Rinaldi, Rulliyanto, Sanusi, Sheila Vika Ayu Delima, Yosan Novendra sebagaimana disampaikan pimpinan Ruang Garasi yang juga Pelukis Wanita Indonesia Kana Fuddy Prakoso, kepada Semangatnews.com, Sabtu (17/8/2024).

Menurut Kana demikian sapaan pemilik Ruang Garasi dan Pelukis Wanita Indonesia itu, menyebutkan, seni rupa memiliki peran penting dalam mengenalkan dan melestarikan kebudayaan. Melalui ekspresi visual yang mendalam, pelestarian warisan budaya, pendidikan budaya, dan komunikasi antarbudaya, mana seni rupa dapat membantu masyarakat memahami dan menghargai nilai-nilai tradisi kebudayaan. Karena itu untuk mengenalkan kebudayaan melalui seni rupa seyogyanya harus didukung dan dikembangkan secara berkesinambunga dan tak pernah henti agar warisan budaya kita dapat terus hidup dan berkembang saat ini dan masa depan.

Perihal tema Estetika Urban, ujar Kana didefinisikan sebagai ekspresi subyektif yang muncul dari pandangan lokal-global, dari wilayah-wilayah yang jauh dari pusat namun pada dasarnya sering memberi kontribusi gagasan dan praktik visual yang tak terduga. Mereka dipengaruhi oleh pengalaman sekitaran dan mengkonsumsi apa yang sedang beredar di era informasi sekarang ini, mengadopsi berbagai hal yang relevan, baik problem-problem klasik maupun kontemporer. Karya-karya mereka menggambarkan bentuk-bentuk surreal, realistik dan simbolik, mengadaptasi ikon lama yang diperbaharui dengan pemaknaan baru. Para perupa Jambi ini nampaknya memiliki strategi berkarya yang cukup kuat.

Sehubungan dengan hal tersebut, pameran seni rupa yang menunjukkan matra atau dimensimengenai budaya Jambi ini bisa dipahami sebagai upaya untuk menunjukan bentuk representasi (‘perwakilan’ atau ‘pernyataan kembali’) secara visual mengenai dimensi pengenalan atau penghayatan seseorang (seniman) terhadap budaya yang menjadi sumber garapan. Bentuk budaya itu sendiri adalah manifestasi ‘penghadiran’ (presensi, the presence) atas pemahaman nilai yang luhur, sedangkan ekspresi visual yang dinyatakan melalui karya adalah perwakilan bentuk representasi (representation) yang merujuk pada dimensi pamahaman seniman,” ujar Kana lagi.
Semoga apa yang dihadirkan dalam pameran ini tidak hanya memperkaya kreativitas artistik tetapi juga mendalamkan pemahaman tentang budaya itu sendiri. Sebuah dialog yang semoga dapat membuat kita menikmati perjalanan dan menemukan kekayaan budaya dari sudut pandang yang segar dan inspiratif, tambah Kana.
Sementara Penulis dan Kurator Pameran Mayek Prayitno dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa pameran yang mengusung Estetika Urban ini, menyebutkan bahwa, pergerakan aktivitas manusia sejak semula didorong oleh naluri alamiah atas insting bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari berupa sandang, pangan dan papan. Untuk merealisasikannya maka pekerjaan merupakan tumpuan, bentuk kreativitas serta praktik nyata dalam upaya bagaimana segala kebutuhan dasar niscaya terpenuhi. Namun demikian kebutuhan dasar telah berkembang melampaui ekspektasi dan imajinasi manusia itu sendiri.
Sehingga imajinasi yang dibayangkan menjadi bagian dari harapan, cita-cita dan rasa ingin memiliki terhadap sesuatu kelak. Yang darinya kepintaran, kekayaan, gengsi, derajat, martabat ataupun kategori kelas muncul dan berkelindan dengan mereka yang kurang beruntung. Ketika fantasi nilai itu datang dari mereka yang berjibaku dalam menarik perhatian ditengah publik, keberhasilannya secara umum direduksi dan diukur dengan rizki melimpahnya uang atau aset, posisi magis jabatan dengan diikuti rasa puas, meningkatnya ego dan superioritas. Pergulatan masyarakat semacam ini adalah salah satu ciri dari urban publik, masyarakat urban yang bergantung kepada sebuah akumulasi nilai, mendewakan kapital.
Dalam pameran kali ini didefinisikan sebagai ekspresi subyektif yang muncul dari pandangan lokalglobal, dari wilayah-wilayah yang jauh dari pusat namun padadasarnya sering memberi kontribusi gagasan dan praktik visual yang tak terduga. Perupa dipengaruhi pengalaman sekitaran dan mengkonsumsi apa yang sedang beredar di era informasi sekarang ini, mengadopsi berbagai hal yang relevan, baik problem-problem klasik maupun kontemporer. Karya karya para perupa menggambarkan bentuk-bentuk surreal, realistik dan simbolik, mengadaptasi ikon lama yang diperbaharui dengan pemaknaan baru. Perupa Jambi memiliki strategi berkarya yang cukup kuat, ujar Mayek Prayitno. (muharyadi)
