Pameran Seni Grafis Kelompok 7 di Ruang Garasi Jakarta Selatan
Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Ruang Garasi Jalan Gandaria IV/2 Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dalam eksistensinya kembali memberikan kejutan kepada publik di tanah air. Sejak 2024 lalu bahkan di tahun 2025 ini kembali mempersembah pameran seni rupa, yang kali ini mempersembahkan pameran seni grafis “Welas Asih” karya Kelompok 7 yang berlangsung sejak 22 Februari sd 8 Maret 2025.
Ruang garasi ternyata dalam perjalanannya memiliki komitmen kuat untuk memfasiltasi kegiatan seni rupa guna mempertahankan eksistensi kreativitas seniman agar tetap tumbuh, hidup dan berkembang baik maestro seni, seniman profesional, pemula yang pada dilirannya dapat menghadirkan proses pembelajaran secara alamiah dan berkelanjutan, sebagaimana dikemukan pendiri dan pimpinan ruang Garasi yang juga pelukis wanita Indonesia Kana Fuddy Prakoso.

Sukses menggelar pameran karya maestro Ipe Makruf di tahun lalu dan beberapa kegiatan lain pameran kolektif di ruang Garasi, kini komunitas Garasi mengangkat pameran seni grafis kelompok 7 dengan tema “Welas Asih” menampilkan seni grafis, seni cetak tinggi karya-karya seniman seni rupa Indonesia seperti Ardian, Gemar Aridewo, Mayek Prayitno, Puji Bagio, Ruth Adelyne, Sari Koeswoyo dan Taufik Rachman.
Pameran yang telah diresmikan Sabtu 22 Februari 2025 kemarin menarik untuk disimak dan ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam dalam ranah visual estetika menyangkut gagasan, ide dan juga emosi hasil penjelajahan kreativitas peserta pameran.
Kasih Sayang Dalam Bahasa Vusual
Sebagaimana tema pameran ini “Welas Asih” (kasih sayang) menjadi sifat umum manusia ditampilkan melalui penjelajahan kreativitas bermuatan seperangkat nilai nilai di dalamnya.

Mayek Prayitno dalam pengantar kuratorialnya mengurai bahwa ; “Manusia dalam kodratnya membawa sifat – sifat yang kompleks, inherenitas seperti dorongan hasrat, perasaan mencintai dan agresi merupakan salah satu watak yang sudah melekat didalam kerak alam bawah sadar. Ia merupakan fondasi insting, yakni naluri untuk bertahan hidup. Dengan itu semua selain rasionalitas, peradaban dimungkinkan berkembang.
Mayek juga mengilustrasikan, disepanjang sejarah, dua entitas cinta dan benci (kekerasan) selalu mewarnai drama kehidupan. Kisah mitologi Yunani kuno Oedipus Rex yang diadopsi Sigmund Freud sebagai Oedipus komplexs dan Electra komplexs yang dipaparkan dalam psikoanalisa adalah representasi dari sifat paradoks dan ambigu manusia, ia mencintai tapi sekaligus juga berpotensi bertindak kasar (benci).

Dalam banyak literatur dikaitkan ajaran agama terutama agama Islam sebagaimana tercermin dalam Al Qur’an sebenarnya banyak sifat-sifat yang muncul di dalam diri manusia. Karena mengetahui dan memahami sifat sifat manusia tersebut dapat membuka ruang terhadap sifat sifat manusia dimuka bumi in yang pada gilirannya dapat membantu manusia itu sendiri untuk lebih instrospeksi diri sehingga menjadi manusia yang dicintai Allah SWT.
Mayek memberi ilustrasi dari aspek disepanjang sejarah : bahwa dua entitas cinta dan benci (kekerasan) selalu mewarnai drama kehidupan. Kisah mitologi Yunani kuno Oedipus Rex yang diadopsi Sigmund Freud sebagai Oedipus komplexs dan Electra komplexs yang dipaparkan dalam psikoanalisa adalah representasi dari sifat paradoks dan ambigu manusia, ia mencintai tapi sekaligus juga berpotensi bertindak kasar (benci).

Yang digagas psikoanalisa tak lain merupakan upaya untuk mengurai dan memetakan jiwa manusia yang kompleks tersebut agar pertentangan batin, cinta dan benci dapat ditilik akarnya, karena kompleksitas dorongan cinta memicu banyak peperangan atau kekerasan, baik di masa lalu ataupun di masa sekarang.
Secara realita kasih sayang merupakan sebuah kenikmatan manusia di dunia. Dengan kasih sayang, tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Juga turut mendorong membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh manusia lainnya. Tanpa rasa kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain yang bermuara pada kebencian dan bertolak belakang dengan kasih sayang.
Secara kasat mata sejumlah karya seni grafis yang dipajang ini empat diantaranya karya Adian yang betutur tentang kasih sayang diilustrasikan melalui kasih ibu I, 2, 3 dan 4. Dari bahasa kasih sayang ibu ini kita menjadi teringat peribahasa “Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah”.
Sama dengan apa yang dijelajahi empat karya Puji Bagio berjudul “Cinta Tanpa Syarat” Linocut Print On Paper, 45x60cm, 2024, Selimut Untuk Cucu, Linocut Print On Paper, 50×50 cm, 2025, Peduli Sejak Dini, Linocut Print On Paper, 50×50 cm, 2025 dan Waktunya Mandi, Linocut Print On Paperm 30×42 cm, 2025 merupakan simbol kasih sayang manusia antar sesama dan lingkungan melalui seni grafis yang digarapnya.
Begitu juga karya Taufik berjudul Loving, Hardboarcud, print on paper, 30×31,5 cm, 2025, Caring, Hardboarcud, print on paper, 29,5×30 cm, 2025, Always Beside You, Hardboarcud, print on paper, 31×42 cm, 2025 dan Warmth, Hardboarcud, print on paper, 30×38 cm, 2025 memvisualkan kasih sayang secara totalitas.
Sejumlah karya Ruth Adelyne, Sari Koeswoyo, Gemar Aridewo dan Mayek Prayitno melalui sentuhan kerja seni grafis memandang kasih sayang menjadi akar sebuah kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia.
Dengan kasih sayang tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain Mengingat kasih sayang memiliki makna yang tidak terbatas antar sesama dan makhluk lain dan merupakan fitrah manusia sebagaimana menjadi isu penting pada pameran kelompok tujuh ini yang syarat makna dan nilai nilai di dalamnya. (***)
Catatan Redaksi :
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Seniman dan Jurnalis
