Oleh: Ridwan Syarif
DHARMASRAYA, SEMANGATNEWS.COM -Tulisan kali ini masih seputar membangun ekonomi masyarakat berbasis masjid.
Sejenak penulis ingin mengajak kita semua merenung, membawa alam fikiran melihat lebih dekat bagaimana orang-orang di sekitar menjalankan hidup yang secara ekonomi belum seberuntung yang lain.
Kemudian sampai pada titik dimana dengan penuh keikhlasan “merogoh kocek” memaksimalkan amal saleh zakat, infak dan sedekah.
Sejujurnya ide tulisan ini masih terinspirasi dari tragedi yang menimpa Angeli Putri, (18 th) gadis belia yang malang, menjadi korban kekerasan ayah tiri dipicu ekonomi, terlilit hutang.
Masih banyak sederetan kisah memprihatinkan di depan mata kendati tidak semiris itu. Ada banyak ibu atau seorang istri banting tulang berubah sosok menjadi pahlawan keluarga dalam mencari nafkah, seorang anak terpaksa mengubur mimpi, berhenti sekolah karena tidak ada biaya.
Banyak keluarga berantakan, hutang sana sini, tak peduli berbunga tinggi, lintah darat dan rentenir. Gali lubang tutup lubang, hingga kemudian sampai tak mampu lagi menutupi lubang itu.
Salah satu pesan moral dari kasus itu adalah agar kita dan para tokoh membuka mata, melihat dengan hati untuk memainkan peran nyata.
Peran nyata itu jangan di pandang hanya sebagai responsibility sosial duniawi semata, akan tetapi itu adalah sikap sempurna seseorang dalam menjalankan agama.
Bukankah tindakan kemanusiaan bagian dari kesalehan, namanya kesalehan sosial. Amal ibadah dalam Islam tidak saja praktek ritual shalat, zikir, puasa, haji dan baca Qur’an, akan tetapi diiringi dengan praktek sosial.
“Ibadah tidak melulu dengan yang di langit, akan tetapi juga dengan yang di bumi”
Sudah saatnya kotak amal setiap masjid yang di tempatkan pada pintu masuk, tiang utama,
atau dekat tempat wuduk, bahkan di setiap jum’atan kotak ini selalu menyapa, melewati shaf jama’ah ditambah dengan satu kotak amal lagi untuk “fakir miskin”
Pembangunan masjid adalah penting, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membangun masjid senyaman dan sesuci mungkin demi kekhusyukan dan ketenangan dalam ibadah.
Kubah yang megah, lantai keramik yang mengkilat, permadani tebal yang menenggelamkan kening saat sujud, bahkan AC penyejuk ruangan yang begitu adem, komplit dengan Imam Khatib dan Bilal yang luar biasa.
Namun di balik itu semua, ada masyarakat yang sedang menunggu harapan, sedang berjuang, banting tulang, peras keringat, dapat pagi habis petang demi penyambung hidup, demi kelangsungan pendidikan anak. Dan itupun kadang tidak mengenal waktu, pergi pagi pulang malam.
Saatnya kini kita mulai berubah, mengumpulkan receh yang nantinya disalurkan kepada mereka yang patut dalam bentuk konsumtif maupun produktif.
Kotak amal menjadi salah satu pilihan, menjadi sarana ujian hati, memberi dalam sunyi, tak ada yang memuji dan mengucapkan terima kasih, kecuali Yang Maha Suci akan penuhi janji.
Bayangkan bila setiap jamaah bersedekah Rp.5000,- atau Rp.10.000,- untuk fakir miskin ditambah dengan dana zakat yang terkumpul lewat Unit Pengumpul Zakat Masjid, dalam hitungan bulan atau tahun kira-kira sudah berapa masyarakat yang bisa terbantu.
Akhirnya, masjid bukan lagi hanya tempat sujud, tapi juga tempat membangun masa depan masyarakat.
Pengurus masjid tidak lagi melaporkan saldo kas masjid yang berjuta-juta, namun telah berubah menjadi penyuara atas orang papa yang sedang berjuang dalam susah.
Kita tidak hanya lagi berfikir membangun bangunan, tapi juga mulai membangun kehidupan dari masjid.
Semoga!!
* Pimpinan Baznas Kabupaten Dharmasraya
