Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Puluhan perupa Sumatera Barat sejak dua bulan silam hingga kini setiap hari minggunya mengadakan kegiatan melukis dan mematung bersama di sisi pelataran bengkalai gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat.
Kegiatan bersama tersebut mengapung, usai pameran Internasional 95 tahun pematung abstrak pertama Arby Samah diikuti 6 (enam) negara yang digelar Taman Budaya Sumbar minggu ketiga Juni 2025 lalu yang digulirkan perupa Amrianis, Anita Dikarina (puteri kedua pematung Arby Samah) Ardim, Jon Wahid, Jhon Hardi, Trikora Irianto dan beberapa seniman lainnya.

“Kato bajawek, gayuang basambuik”, dari ide teman teman perupa tersebut muncul nama sejumlah nama perupa lain yang turut berpartisipasi diantaranya Zulkifli Mukhtar, Asniati, Syam Chaniago, Erizal, Jamaidi, Elvis, Zaref Lina, Yulizarni bahkan ikut pula salah seorang dosen dan guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan UNP, Prof. Dr. Farida Mayar, M.Pd yang semasa SLTA nya menempuh pendidikan di SMSR Negeri Padang (1978-1982) serta sejumlah nama lainnya yang turut serta berkarya bersama.
Ide mematung dan melukis bersama tersebut pada awalnya diilhami tingginya animo masyarakat untuk menyaksikan karya seni rupa saat usai pameran Internasional Arby Samah. Apalagi sejumlah perupa pameran Internasional dari 6 (enam) negara di gelar sebagian peserta ada yang menyelesaikan karyanya di dekat lokasi pameran menjelang beberapa hari kegiatan pembukaan pameran berlangsung. Ide ini pulalah yang melatarbelakangi teman teman perupa untuk kemudian membuat komitmen berkarya bersama “melukis dan mematung”.

Melukis dan mematung bersama itu, kini ternyata menjadi trend tersendiri bagi teman teman perupa, dengan beragam obyek lansung maupun imajinatif untuk menuangkan emosi, pikiran, bahkan pengalaman pribadi masing masing secara visual. Yang pada gilirannya memungkinkan para perupa dapat mengkomunikasikan hal-hal yang mungkin sulit diungkapkan dengan kata-kata atau yang tersembunyi dalam pikiran selama ini, menjadi sebuah keniscayaan.
Karena itu, ide mematung dan melukis bersama ini layak kita apresiasi bersama, karena masing masing perupa menyiapkan bahan dan alat secara mandiri berupa kanvas, kuas, cat, bahkan kertas dan alat lainnya, kemudian dibekali konsumsi dan makanan sendiri sendiri tanpa mengurangi gelak dan tawa masing masing, hasil karya setiap saat kemudian didiskusikan bersama dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sebagian diantara mereka ada berstatus ASN, Purna ASN guru, Dosen dan seniman lepas yang menyatu untuk melukis bersama sebagai sarana ekspresi diri untuk bereksperimen dengan warna, bentuk, dan komposisi menciptakan karya visual melalui eksplorasi estetika murni dalam merepresentasikan objek-objek yang dapat dikenali dengan baik.
Membangun Silaturrahmi Dalam Mengekplorasi Keindahan
Dari kegiatan yang kita amati di lapangan, tujuan mereka melukis dan mematung selain menjadi ajang silaturrahmi antar sesama perupa yang selama ini mungkin saja disibukkan pekerjaan rutinitas, tak lain adalah untuk mengeksplorasi konsep keindahan dan estetika.
Mereka bereksperimen dengan warna, bentuk, dan komposisi untuk menciptakan karya yang menarik secara visual dan merangsang indera publik melalui eksplorasi estetika murni merepresentasikan objek-objek yang dapat dikenali dengan baik dan sempurna.
Prof. Dr. Farida Mayar, M.Pd (64 th) yang selama ini disibukkan tugas sebagai dosen di PGPAUD (Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini) di kampus UNP Fakultas Ilmu Pendidikan, Keahlian Pendidikan Seni Rupa Anak Usia Dini mengaku ; kegiatan melukis selain merupakan ajang silaturrahmi yang selama ini disibukkan tugas masing masing, juga merupakan upaya untuk dapat menuangkan emosi, pikiran, dan pengalaman pribadi ke dalam bentuk visual. Bagaimana pun lukisan menjadi cerminan jiwa untuk mengkomunikasikan kepada penikmatnya.
Proses melukis melibatkan berbagai fungsi kognitif, termasuk perencanaan, pengambilan keputusan, dalam pemecahan masalah. Ketika melukis, kita harus mempertimbangkan komposisi, warna, dan teknik yang akan digunakan, yang semuanya merangsang aktivitas otak. Bagi kita berkarya bersama ini yang tidak lagi berusia muda ini, berkarya dapat menjadi cara yang efektif untuk menjaga ketajaman mental dan memperlambat penurunan kognitif yang terkait dengan penuaan, sekaligus menjadi aktivitas kreatif dalam meningkatkan memori dan konsentrasi pribadi,” tutur Farida Mayar memberi ilustrasi.
Pelukis Amrianis (65 th) Alumni seni rupa IKIP Padang (1988) yang juga mantan guru di jurusan seni lukis di SMSR Negeri Padang yang dalam kegiatan melukis bersama ini mengangkat obyek sebuah cafe di komplek Taman Budaya Sumbar dengan backround galeri seni UPTD Taman Budaya Sumbar mengaku merasa enjoy saat menghadapi obyek yang akan direfresentasikannya kepermukaan Kanvas.
Melalui melukis, Amrianis berupaya meningkatkan kreativitas dan kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide baru dan inovatif, juga mengalirkan emosi, sehingga membantu untuk menghasilkan harmoni antara hati dan pikiran yang akan membawa perasaan bahagia, cinta, empati, dan kedamaian sebagai suatu alat untuk mengatur emosional, energi, dan kehidupan. Sebagaimana tercermin dalam lukisannya yang direfresentasikannya melalui kecendrungan impresionis dan realis yang begitu memikat dalam melukis bersama ini.
Trikora Irianto (64 th), pelukis yang mantan pendidik seni budaya do SMA PGRI I Padang ini dengan backround seni rupa IKIP Padang angkatan 1981 yang pernah berpameran tunggal tahun 1984 silam menyebut baginya melukis dapat membantu memicu imajinasi dengan cara mendorong saya untuk berpikir di luar kebiasaan untuk menciptakan dunia dan karakter baru, serta mengeksplorasi ide-ide yang selama ini mungkin tidak dilakukan dalam bentuk karya seni lainnya.
Dan yang tidak kalah pentingnya melalui melukis saya terus melatih fokus dan konsentrasi untuk memusatkan perhatian pada suatu objek, dan memfokuskan pada detail kecil dan konsentrasi selama berkarya hingga selesai menjadi lukisan,” ujar Trikora Irianto.
Sementara pelukis dan pematung Ardim DT Saripado (66 th) yang juga mantan pendidik di SMSR Negeri Padang yang tengah menggarap patung kayu non figuratif menjadi karya seni simboliks yang tidak menggambarkan bentuk objek nyata dan lebih menekankan pada ekspresi bentuk, garis, warna, dan tekstur.
Konsep karya yang tengah saya buat ini dalam bentuk non figuratif merupakan alat menyampaikan pesan sosial melalui bentuk abstrak untuk mengekspresikan emosi pribadi didukung unsur fisik non figuratif berupa bentuk, warna, dan proporsi yang menarik,” ujar Ardim DT Saripado yang merasa enjoy berkarya karena diajak teman teman berkarya di ruang publik Taman Budaya Dinas Kebudayaan Sumbar memberi penjelasan.
Dalam catatan kita, mematung maupun melukis bersama selain merupakan ajang silaturrahmi sesama teman teman perupa sekaligus juga dapat meningkatkan kreativitas, melatih fokus dan konsentrasi, terapi mengurangi stres, mengembangkan keterampilan motorik, meningkatkan koordinasi tangan-mata, mengekspresikan emosi dan ide hingga mengabdikan obyek maupun peristiwa penting yang selama ini terabaikan. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
