Meneropong Empati Pelayan Rakyat Dari Warung Kopi Ni Susi

by -
Meneropong Empati Pelayan Rakyat Dari Warung Kopi Ni Susi
Meneropong Empati Pelayan Rakyat Dari Warung Kopi Ni Susi

Oleh : Ridwan Syarif *

DHARMASRAYA, SEMANGATNEWS.COM – “Warung Kopi Ni Susi” penggalan judul ini dipilih tidak bermaksud promo warung kopi gula aren yang cita rasanya juga tak kalah enak dibanding resto coffe shop lain yang ada di Kabupaten Dharmasraya.

Warung ini menjadi istimewa, karena boleh dikata seluruh wartawan, jurnalis yang bertugas di daerah ujung ranah Minang itu menjadikan warung ini sebagai tempat ngumpul. Di lapak yang cukup sederhana, bangku panjang di sisi kiri kanan beralas spanduk bekas sembari ditemani “kopi setengah” menjadi saksi bagaimana para kuli tinta berdiskusi, berdebat memberikan usulan tentang banyak hal isue nasional maupun daerah.

Bersitegang urat leher ber-argumen sambil menyeruput kopi hitam, teh talua adalah pemandangan keseharian di meja ini.

Di siang ini, Senin, (1/9/2025) di tempat ini nyaris tidak ada perbedaan pendapat, pandangan dan fikiran fokus melihat apa yang sedang terjadi di Jakarta, jantungnya Indonesia lewat layar ponsel masing-masing.

Ibarat jantung manusia, jantung Indonesia sedang berdegup kencang, Jakarta riuh bergemuruh, meledak ledak, liar tak terkendali, menjarah.

Tanpa sensor, terlihat bagaimana adegan kemarahan ditumpahkan, terang-terangan melakukan penjarahan.
Tensi naik menjalar ke ubun-ubun menjangkit hampir ke seluruh tubuh. Artinya daerah-daerah pun turut serta. Demo!

Apa pasal, rupanya tekanan demi tekanan yang dihadapi masyarakat sudah menyesakkan dada, sampai pada titik klimaks.

Ketika yang semestinya bertindak sebagai pencari obat atas nestapa, turut serta memancing lara, memperkeruh suasana.

Bahkan dengan tenangnya, tanpa ada rasa bersalah menunjukkan kepongahan, mempamerkan kemewahan, berjoged ria di tengah kondisi sebagian besar masyarakat sedang mengalami himpitan ekonomi

Seolah olah jabatan adalah kursi empuk untuk menangguk keuntungan pribadi dan golongan.

Tengoklah ketika salah seorang diwawancarai, ditanya tentang penghasilan sebagai seorang wakil dari rakyat, kalau ditotal, tidak lagi puluhan bahkan ratusan juta mengalir ke rekeningnya setiap bulan.

Berbanding terbalik dengan penerimaan tuan yang diwakili, bak langit dan bumi, jangankan untuk menabung, cukup pun tidak.

Tidak hanya sampai disitu, dengan enteng oknum ini menyudutkan, merendahkan, mentololkan masyarakat. Padahal yang ditololkan itu adalah pemilik kedaulatan yang sesungguhnya.

“Tuan hidup pas pasan, Pelayan Bergelimang Tunjangan”, ungkap Muhamad Reza Pangiangan, Minggu, (31/8/2025)

Ilustrasi kehidupan pejabat menurutnya penuh kenikmatan, sementara rakyat hidup berhemat.

Menurutnya demokrasi itu begitu sederhana, rakyat atau masyarakat adalah tuan, sang pemberi mandat. Pejabat adalah pelayan yang menjalankan mandat, menjalankan perintah dari tuannya.

Namun makin ke sini, makin terlihat kebalikannya, sang tuan berulang-ulang kali turun ke jalan, mengetuk pintu hati para pelayan yang sudah mulai lupa dengan jalan dan janji kesetiaan.

Tuannya hanya mengurut dada, sepanjang batas wajar, tuan sang pemilik kedaulatan tetap sabar dan berprasangka baik. Mungkin dia capek, lelah letih memikirkan keperluan tuannya. Tak apalah banyak prioritas, fasilitas dan tunjangan yang diterima. Kalau di “inapmenung”kan tidak berkekurangan lagi, malahan berlebih lebih.

Sebenarnya yang kurang itu apa? bukan materi, tetapi empati.

Empati itu ikut merasakan, ikut larut dalam keadaan orang lain. Rasa itu hanya bisa tumbuh apabila kita bisa mendengar dengan hati, bukan sekadar dengan telinga. Lihat langsung ke lapangan, diam-diam, jangan menerima laporan saja dan peka, intuitif terhadap lingkungan. Sekali kali tinggalkan ajudan itu, berjalan sendirian, duduk dan bercengkrama dengan orang-orang susah itu, yakinlah empati anda akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

*Philantropy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.