BENGKULU, SEMANGATNEWS.COM – Meski tak menempuh pendidikan seni rupa secara formal, namun kemampuan pelukis Ujang Hamidi dalam melukis, baik ketika mengangkat obyek pemandangan alam, apalagi melukis potret dari model model yang dihadapinya tidak diragukan lagi. Karya karyanya bukan hanya menarik bahkan menghipnotis mata, tetapi juga sangat kuat, baik aspek unsur fisik maupun psikologis karya setiap yang dihasilkannya.
Ujang Hamidi pensiunan PNS di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bengkulu beberapa tahun lalu, sejak lebih 3 tiga dekade silam, melukis baginya bukan hanya dengan cat minyak, cat air atau gabungan keduanya, tetapi kerap menggunakan bubuk kopi diberi air untuk dieksplorasi menjadi bahan baru melukis beragam obyek lukisan yang sangat terbilang langka dilakukan perupa di tanah air.

Di propinsi Bengkulu, Ujang Hamidi mungkin merupakan satu diantara sedikit perupa yang terus berkolaborasi menjelajahi berbagai kemungkinan sifat dan karakter bahan melukis, diantaranya memanfaatkan bubuk kopi sebagai bahan melukis yang hasil-hasilnya luar biasa menarik dan sempurna.
Ketika ditemui di kediamannya Jalan Bumi Ayu, No. 31, RT 21/04, Kelurahan Bumi Ayu, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Ujang Hamidi, belum lama ini, Ujang Hamidi memperlihatkan sejumlah karya lukisnya berbahan cat minyak, cat air, pensil warna dan berbahan bubuk kopi yang tak kalah menarik dengan bahan bahan cat impor.

Menurut Ujang Hamidi, demikian panggilan akrabnya, ia melihat dunia seni lukis atau seni murni secara umum merupakan dunia yang mengasyikkan karena berurusan dengan keindahan. Keindahan akan obyek-obyek yang ada di alam semesta ini. Apalagi jika dilukis dengan teliti, bersih dan sempurna.
Selain ia belajar memahami bahan cat minyak atau cat air dengan beragam merek yang dikenalnya dan diasa digunakan para perupa selama ini, ia juga mencoba berbagai kemungkinan dari bahan-bahan baru yang dikenalnya, termasuk bubuk kopi yang ternyata luar biasa hasilnya dengan campuran air dan intensitas berbeda.

Mulai dari warna yang warna terang, agak gelap dan gelap, Ujang menggoreskan kuasnya ke obyek-obyek yang dibuatnya dipermukaan kertas maupun kanvas, dengan mengambil obyek-obyek yang ada di alam, seperti obyek manusia, hewan, flora dan fauna kemudian untuk penguat tempelan bubuk kopi agar tidak luntur. Ujang memberi fiksatif sebagai pelindung bubuk kopi agar tahan lama.
Menurut Ujang Hamidi, secara prosedur melukis potret di awali dengan mengatur komposisi obyek, anatomi dan proporsi obyek dan diawali membuat sketsa dasar potret yang dibantu garis-garis berupa sketsa sebagai fondasi lukisan untuk kemudian melanjutkannya menggunakan cat minyak, cat air, pensil warna yang dilakukannya dengan sabar, teliti dalam mengaplikasikan warna dan detail wajah,” ujar Ujang Hamidi.

Dari yang kita telusuri pada sejumlah lukisan potret karya Ujang, terlihat detail-detail kecil, bermula bagian dari wajah seperti mata dengan kilauannya, hidung, mulut, telinga, rambut helai demi helai terlihat realistis dan begitu mengagumkan. Semua dikerjakan secara detail, rinci dan apik.
Saya tertarik melukis dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan dan pemahaman saya terhadap dunia seni lukis. Pada saat-saat waktu luang saya memberanikan diri untuk melukis apa pun yang saya bisa, tutur Ujang Hamidi menceritakan pengalamannya.

Bakat melukis itu Ujang kembangkan, setelah ia melihat dan menyaksikan teman-teman pelukis di propinsi Bengkulu dengan latar belakang pendidikan seni membuat beragam obyek lukisan ke permukaan kanvas atau kertas.
Ada jenis karya selama puluhan tahun saya kerjakan, yakni karya pribadi berupa karya-karya idealis dan karya-karya komersial yang siap di jual setiap saat dengan beragam ukuran dan format, sebagian memakai bahan bubuk kopi dan sebagian lagi memakai bahan cat minyak dan akrilik,” ujarnya.
Puluhan karya-karya lukis bernilai estetis tinggi tampak bertebaran di setiap dinding dan lantai rumah kediamannya berisikan beragam pengalaman empirisnya terhadap keindahan alam dan seisinya itu yang ia refresentasikan dalam bentuk lukisan bernilai estetis tinggi. Belum termasuk yang dokoleksi sejumlah kolektor. (muharyadi)
