Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Jepang baru saja merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa jumlah warga negaranya yang berusia 100 tahun ke atas kini mendekati angka 100.000. Per 1 September 2025, total centenarian tercatat sebanyak 99.763 jiwa, menandai peningkatan berturut-turun selama 55 tahun terakhir dalam demografi usia lanjut.
Salah satu hal mencolok dari data tersebut adalah dominasi perempuan: sekitar 88 persen dari para centenarian adalah perempuan. Artinya, lebih dari delapan dari sepuluh orang yang berhasil menembus usia 100 tahun di Jepang berjenis kelamin wanita.
Lonjakan jumlah centenarian dibanding tahun sebelumnya mencapai ±4.644 orang. Jika tren ini terus berlanjut, Jepang kemungkinan akan segera memiliki populasi berusia 100 tahun yang benar-benar menembus batas enam digit.
Di tengah angka tersebut, ada sosok inspiratif yang turut diperhitungkan: Shigeko Kagawa, seorang wanita berusia 114 tahun, muncul sebagai individu tertua yang masih tercatat aktif di Jepang. Kiprahnya sebagai dokter serta gaya hidupnya yang terus aktif menjadi sorotan.
Perlu dicermati, peningkatan jumlah centenarian ini tidak terjadi dalam kondisi demografis yang ideal. Jepang juga menghadapi problem serius: penurunan angka kelahiran, penuaan populasi, dan beban ekonomi untuk merawat populasi lanjut usia.
Jumlah lansia yang terus bertumbuh menekan sistem jaminan sosial, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah harus menyiapkan kebijakan agar beban ini tidak menimbulkan krisis baru bagi generasi produktif.
Dalam hal geografis, beberapa prefektur memperlihatkan kepadatan centenarian lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Misalnya, Prefektur Shimane di wilayah barat Jepang tetap mencatat salah satu angka tertinggi per 100.000 penduduk.
Fenomena ini juga mengundang pertanyaan: apa resep umur panjang ala Jepang? Banyak yang menyebut pola makan dengan dominasi ikan, sayuran, fermentasi, serta kebiasaan rutin berjalan kaki sebagai bagian dari kunci mereka.
Tak kalah penting adalah budaya sosial mereka—hubungan antar generasi yang intens, komunitas lokal yang erat, dan rasa tanggung jawab individu terhadap kesehatan pribadi sejak usia muda. Semua itu membentuk lingkungan yang mendukung hidup panjang.
Tantangan besar selanjutnya adalah memastikan kualitas hidup para centenarian: bukan sekadar bertahan hidup hingga usia lawas, tetapi juga dapat menjalani hari-hari dengan kemandirian, keterlibatan, dan martabat.
Momen ini bisa menjadi pelajaran bagi negara lain: bahwa peningkatan jumlah lansia adalah prestasi sekaligus panggilan untuk menata ulang sistem sosial, ekonomi, dan kesehatan agar generasi tua tidak menjadi beban, melainkan aset keberlanjutan.(*)
