Jakarta, Semangatnews.com – Lille membungkam AS Roma dengan skor tipis 1-0 di pertandingan Liga Europa, berkat performa impresif dari pemain belakang mereka, Calvin Verdonk, dan drama tiga penalti gagal Roma di babak akhir.
Gol tunggal Lille dicetak Hákon Arnar Haraldsson di menit ke-6, memanfaatkan kesalahan pertahanan Roma. Gol ini cukup untuk membawa tim tamu pulang dengan tiga poin dari Stadio Olimpico.
Meski unggul, Lille tak lepas dari tekanan. Roma terus menggempur lini pertahanan tim tamu, mencoba membalikkan keadaan lewat sejumlah peluang dan intensitas serangan tinggi.
Momen paling menegangkan terjadi jelang akhir laga, saat wasit menghadiahkan Roma penalti. Arbitra memutuskan penalti tersebut harus diulang dua kali karena pelanggaran teknis (pelanggaran posisi kiper).
Dua eksekusi pertama dari Artem Dovbyk berhasil ditahan kiper Lille, Berke Özer, walau dihukum karena berada sedikit maju. Setelah penalti diulang lagi, Roma mengganti algojo menjadi Matías Soulé — dan sekali lagi, Özer menggagalkan upaya tersebut.
Keberhasilan kiper Lille tersebut menjadi sorotan utama. Tak hanya satu, namun tiga penalti gagal menjadi momen yang sangat langka dalam sebuah pertandingan kompetitif.
Sementara Verdonk pun mendapat pujian. Laporan rapor pertandingan menyebut bahwa ia bermain solid di sektor bek sayap, berkontribusi dalam pertahanan dan turut membantu transisi serangan Lille.
AS Roma sendiri tampil agresif di paruh kedua, berusaha menggempur pertahanan Lille dari sayap dan tengah. Namun, ketidakakuratan penyelesaian akhir dan penanganan tekanan lawan muncul sebagai kendala utama.
Gian Piero Gasperini, pelatih Roma, mengakui bahwa timnya punya peluang, tetapi performa teknis dan keputusan dalam momentum penalti menjadi pembeda. Ia menyebut bahwa kegagalan mengambil kesempatan penalti adalah pukulan berat.
Dengan hasil ini, Lille mengukir kemenangan penting di kandang lawan dan memimpin posisi di grup, sedangkan Roma harus mengevaluasi ambisi di turnamen Eropa musim ini setelah kekalahan menyakitkan.(*)
