Jakarta, Semangatnews.com – Seorang pemandu wisata (tour guide) di Pulau Jeju, Korea Selatan, menjadi sorotan setelah emosinya terekam kamera ketika mendapati bahwa rombongan turis Taiwan yang dibawanya hanya berbelanja sedikit.
Kejadian berlangsung pada hari terakhir kunjungan mereka, setelah empat malam berwisata. Pemandu itu membawa rombongan ke toko oleh-oleh dan menyarankan agar mereka membeli masker wajah atau produk lokal kecil sebagai kenang-kenangan.
Namun rombongan mencoba produk tersebut dan gagal menemukan yang cocok. Akhirnya mereka memilih kembali ke bus tanpa membeli apa pun.
Saat di dalam bus, pemandu tersebut tiba-tiba mengomel kepada rombongan. Ia menyatakan perasaan kecewa dan malu karena pengunjung yang didampingi “belanja sangat sedikit”.
Ungkapan kemarahan itu kemudian dibagikan di media sosial dan menjadi viral dalam waktu singkat, menarik reaksi dari netizen dan perusahaan perjalanan.
Menurut catatan, meskipun rombongan membeli barang senilai lebih dari S$1.400 (hampir Rp 18 juta), pemandu itu tetap merasa jumlah itu belum pantas dibanding ekspektasinya.
Perusahaan perjalanan yang menyelenggarakan tur tersebut kemudian angkat bicara dan meminta maaf kepada rombongan serta publik atas kejadian tersebut.
Pihak perusahaan menyebut bahwa tindakan pemandu itu tak mencerminkan nilai perusahaan dan berjanji akan memperketat pelatihan etika bagi para pemandu di tur selanjutnya.
Insiden ini memicu diskusi di kalangan traveler: apakah kewajiban turis untuk membeli barang di tempat yang ditentukan pemandu?
Beberapa traveler menyatakan bahwa belanja ketika berwisata adalah hak, bukan kewajiban. Mereka menolak tekanan untuk membeli demi kepentingan finansial pihak tertentu.
Di sisi lain, industri pariwisata lokal kadang menggantungkan pendapatan pada komisi dari toko rekanan. Tekanan di bagian “Turisme belanja” kerap menjadi bagian dari paket perjalanan.
Kasus ini menambah catatan kontroversi lama tentang hak turis vs ekspektasi pihak turisme lokal. Banyak yang berharap ada regulasi tegas agar pemandu wisata tak mengambil hak turis secara coercive.
Untuk selanjutnya, banyak pihak meminta agar dalam paket tur jelas disebut apakah kunjungan toko termasuk “opsional” atau “wajib”, agar tidak memicu konflik seperti ini lagi.(*)
