Catatan Kecil : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Kekayaan seni rupa – diantaranya seni lukis — Indonesia dalam perspektif budaya sejak lama hingga kini menjadi bagian dari pembangunan kebudayaan yang terus di dorong patisipasi para senimannya yang hingga kini tak terhitung lagi jumlahnya dan terus bergerak dan berkembang sesuai ruang dan waktu.
Baca Juga : Lukisan Obyek Manusia, Perkampungan, Pemandangan Alam Bermula Era Wakidi di Sumbar
Pergerakan dan perkembangannya yang signifikan dari masa pra-kemerdekaan hingga kini yang dipengaruhi oleh berbagai budaya yang berasal kelompok, komunitas, maupun perguruan tinggi seni yang hidup bagai cendawan subur dan terus mewarnai iklim berseni rupa di tanah air didasari semangat menciptakan ekosistem kondusif berbagai ekspresi budaya, mendorong dialog lintas budaya, dan menjadi representasi identitas nasional secara dinamis.

Melalui kehadiran satu diantara banyak ruang pameran seperti “Ruang Garasi” di Jalan. Gandaria 4 No. 2, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, walau belum berumur panjang tetapi tetap eksis menggelar sejumlah pameran bergengsi yang mengikutsertakan banyak seniman tanah air.
Tahun ini melalui sejumlah pameran baik di Jakarta, Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di tanah air, dapat disimak bahwa seni rupa di Indonesia tidak hanya menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat seni rupa Asia bahkan dunia, namun juga menunjukkan capaian luar biasa yang kian mengglobal.
Sejumlah iven tidak hanya hadir sebagai platform dinamis dalam mempertemukan seniman, kolektor, institusi, hingga publik, akan tetapi juga memiliki nilai kebersamaan dalam merayakan kekayaan ekspresi budaya sekaligus membuka ruang kolaborasi.
Karena itu pulalah pameran tunggal Yaksa Agus kali ini yang tidak asing lagi dalam peta seni rupa Indonesia Yaksa Agus mencoba membagi kisah hidupnya terkait kondisi kesehatannya, serta harapan dan perjuangannya dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
Bagi Yaksa Agus, lelaki kelahiran Bantul, Yogyakarta, 23 Agustus 1975 tersebut, baginya pameran ini tentulah bukan peristiwa baru. Selain pameran kolektif sejak 1991 hingga kini di negeri sendiri dan sejumlah negara lain, ia telah beberapa kali melakukan pameran tunggal,” ucap KaNa Fuddy Prakoso, seniman dan founder Ruang Garasi, kepada Semangatnews.com Minggu Sore, (12/09/2025) di Jakarta Selatan.
Pameran yang berlangsung sejak 18 sampai 26 Oktober 2025 tersebut menampilkan sejumlah karya yang menawarkan pengalaman artistik dan estetik yang menarik untuk disaksikan, disimak dan ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam, tutur KaNa.
Kurator pameran, Mayek Prayitno dalam pengantar pameran menyebutkan, pameran tunggal Yaksa Agus kali ini merupakan suatu bentuk art therapy, yang merekam pengalaman pribadinya sebagai penyitas hemofilia. Meski menampilkan karya-karya yang dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti kardus bekas box obat, kertas brosur resep, dan alat injeksi semuanya merupakan hasil refleksi dan pengalaman Yaksa selama menjalani pengobatan rutinnya. Eksplorasinya tidak hanya menghadirkan lukisan, gambar dan patung tetapi juga 2 buku ” Terapi Seni Cipta Rasa Karsa” dan satu Novel fiktif.
Karena itu, ungkap Mayek Prayitno pada pameran di tahun 2025, bukan hanya merupakan pameran seni biasa, tetapi juga sebuah pernyataan tentang ketahanan dan harapan. Melalui karya-karyanya, Yaksa Agus mengajak kita semua untuk memahami dan merenungkan tentang kehidupan yang hadir lewat eksplorasi seni sejak 31 Desember 2024 silam bahkan hingga kini.
Bukan Sekedar Menggambar Objek di Depannya
Bagi Yaksa Agus alumni ISI Yogyakarta ini, dalam catatan yang kita himpun dari berbagai sumber dapat dikemukakan bahwa melukis baginya sama seperti ia bercerita. Yaksa Agus bukan hanya sekedar menggambar objek di depannya, melainkan ia lebih inten bahkan akrab untuk menceritakan kisah-kisah yang dibawa objek tersebut. Kebiasaan itu dilakukan Yaksa selama puluhan tahun menggeluti dunia seni rupa. Dalam pengalamannya, Yaksa bahkan pernah melukis seorang tukang sol sepatu.
Yang dimulai sejak tukang sol sepatu tersebut berangkat melakukan aktivitasnya, kemudian beristirahat, sampai pulang ke rumah. Ternyata hampir seharian tidak ada panggilan sama sekali. “Yaksa pun, akhirnya beri judul lukisan itu ; tidak ada sepatu rusak hari Ini. Ide Yaksa untuk mengangkat persoalan tukang sol sepatu paling tidak dapat dikatakan sebagai fenomena sosial di tengah tengah masyarakat kurang mampu yang entah kapan akan berakhirnya? Yaksa menyuarakannya dalam ranah visual yang dapat disimak secara kasat mata. Yang disajikan melalui ranah estetis karyanya.
Dari apa kita telusuri pada sejumlah karya karya Yaksa Agus melalui sejumlah pameran yang diikuitinya kita dapat menelisik bahwa, Yaksa Agus merupakan sedikit dari perupa tanah air yang tetap konsisten dan peka mengungkap isu-isu bermuatan sosial dengan merespons langsung sejumlah peristiwa penting.
Dari catatan literatur perjalanan pamerannya, terutama pameran tunggal Yaksapedia (2022) di RuangDalam Art House, Bantul (22 Januari – 5 Februari 2022) lalu, jelas ini merupakan terobosan dalam presentasi seni. Yaksa Agus memajang sederet kanvas kosong, sebuah tindakan yang menantang ekspektasi pengunjung (Sabandar, 2022).
Selama pameran, ia melukis secara langsung (on the spot) di hadapan pengunjung, menjadikan proses kreatif itu sendiri sebagai inti pameran. Ia melukis “model” yang berinteraksi langsung dengannya, seperti Ibu Pon, seorang pengayuh becak yang pernah menjadi modelnya tahun 1999.
Di Pameran “Titir” (2020) 1 April – 1 Juni 2020 misalnya, Yaksa Agus menggelar pameran tunggal “Titir” di Studio Bodo miliknya di Pendowoharjo-Bantul, di tengah pandemi COVID-19. Pameran ini diselenggarakan secara unik, dengan pembukaan daring tanpa penonton fisik, dan seluruh pameran berlangsung virtual melalui media sosial.
Judul “Titir” merujuk pada bunyi kentongan/kenthongan yang dipukul cepat sebagai sistem peringatan dini atau “alarm sosial” dalam budaya Jawa, yang mengindikasikan bahaya besar seperti “pageblug” (wabah penyakit menular). Yaksa Agus kemudian menyampaikan pesan pencegahan pandemi dikaitkan konsep “empat sehat lima sempurna” yakni melalui : memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan, istirahat cukup, tidak panik, dan asupan gizi.
Kemudian jauh sebelumnya melalui pameran tunggal “Prima Donna” (2002) di Gelaran Budaya, Yogyakarta, Yaksa Agus mencoba mengangkat lingkungan panggung sebagai bingkai sentral lukisannya. Fokusnya adalah panggung-panggung pinggiran atau desa, seperti panggung musik dangdut, tayub, atau pertunjukan toeng monyet. Yaksa Agus menampilkan karakter masyarakat menengah ke bawah yang kadang dianggap menyalahi pakem tradisional. Pameran ini menunjukkan ketertarikannya pada budaya populer akar rumput dan kehidupan masyarakat yang sering terabaikan.
Lalu seperti apa pula ranah persoalan yang akan dikemukakannya melalui pameran tunggalnya kali ini di Ruang Garasi, Jakarta Selatan melalui pameran tunggalnya selama satu minggu itu yang beberapa hari kedepan akan diresmikan. Tentulah, karya karyanya berisikan seperangkat nilai nilai di dalamnya, mampu menjawab dalam denyut kreativitasnya tanpa henti yang terus mengalir di setiap karya karyanya di Ruang Garasi. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
