Lukisan Obyek Manusia, Perkampungan, Pemandangan Alam Bermula Era Wakidi di Sumbar

by -
Lukisan Obyek Manusia, Perkampungan, Pemandangan Alam Bermula Era Wakidi di Sumbar
Diantara Lukisan Wakidi obyek Suasana alam dengan rumah gadang di Minang

Oleh : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Mengamati seni lukis masa lalu, kini dan memperkirakan masa datang sebagai bagian dari seni rupa dan budaya yang terus bergerak di Sumatera Barat banyak hal menarik yang dapat ditelusuri. Mengingat seni lukis di Sumbar telah hadir sejak zaman penjajahan belanda persisnya seni lukis dengan paradigma pandangan Barat. Hal ini ditandai gejalanya sejak berdirinya Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di Bukittinggi 1837.

Baca Juga :Seni Rupa Menyentuh Hampir Semua Lini Kehidupan Masyarakat

Di Kweekschool Wakidi, kelahiran Plaju Sumatera Selatan (1889) asal Semarang Jawa adalah pelukis naturalis Indonesia  yang lukisannya bercorak Mooi Indie, bersama Abdullah Surio Subroto (1879-1941) ayah Basuki Abdullah dan Pirngadie (1875-1936), Wakidi dalam catatan yang ditelusuri mulai menggambar sejak usia 10 tahun adalah satu di antara tiga pelukis naturalistik Indonesia yang terkemuka di zamannya.

Wakidi, Ngarai Sianok, di Bukittinggi, Sumatera Barat
Wakidi, Ngarai Sianok, di Bukittinggi, Sumatera Barat

Di Kweekschool Wakidi mendalami pelajaran menggambar, kemudian menjadi guru di sekolah ini hingga murid muridnya dari berbagai daerah dipengaruhi gaya Wakidi. Bahkan ada yang menyebut sang guru dianggap monopoli mazhab seni lukis saat itu, sebagaimana sejarah mencatat setidaknya lebih kurang 60 tahun terdapat gaya melukis Wakidi.

Di samping mengajar disekolah guru, Wakidi, selain di Kweekschool juga jadi guru di sekolah INS Kayu Tanam. Cukup banyak pelukis hasil didikannya yang dikenal masyarakat. Dengan kedudukannya dibuktikannya dengan ikut jadi anggota Persagi (persatuan Ahli‐Ahli Gambar Indonesia) di tahun 1938 dan pernah pula ikut dalam pameran bersama Persagi di Jakarta.

Wakidi  ”Danau Maninjau”, koleksi dr. Syamsir Daily-Padang
Wakidi ”Danau Maninjau”, koleksi dr. Syamsir Daily-Padang

Yang paling mengesankan dari riwayatnya Wakidi dikenal sejak zaman Belanda. Karya karya wakidi sering dibeli dengan harga tidak kalah dari harga yang dibayarkan kepada pelukis Belanda. Walalupun dia bukan orang Minang asli, namun apa yang dicapainya dalam seni lukisnya, terutama pelukis pemandangan di daerah Minangkabau, susah membayangkan bahwa dia bukan anak alam sana.

Karena pengertian berguru kepada alam, dasar falsafah dan kebudayaan Minangkabau, secara visual, pada seni lukis Wakidi inilah yang paling lengkap dikemukakan. Manusia, binatang, rumah, kampung dan alam sekitar dalam susunan yang organis dan harmonis paling maksimum dirasakan dalam lukisan Wakidi. Ditambah lagi suasana yang diambil betul‐betul pilihan, sehingga para muridnya tidak mungkin lagi menemukan suasana lain.

Lukisan Hasan Djaafar,  1969
Lukisan Hasan Djaafar, 1969

Apalagi suasananya bernafaskan ketenangan yang benar‐benar lahir dari batinnya karena Wakidi terkenal sebagai manusia yang paling tenang yang dipencarkan oleh sifatnya yang sangat sabar. Nada ketenangan ini dicapainya dengan kecendrungan membulatkan atau melengkungkan garis lentur dan meredupkan semua warna walaupun berada dalam suasana warna yang kontras.

Walaupun seni lukisnya seolah‐olah tak kenal pergolakan kebudayaan dunia Barat yang dilahirkan seni lukis yang dianutnya, namun berkat pengabdiannya kepada bakat sampai dia berhasil mencapai suatu puncak yang bisa dijajaki oleh seorang seniman komplit, karena menciptakan istana seni lukisnya sendiri, artinya khas Wakidi punya.

Nurdin, Kampung Nelayan, 1973
Nurdin, Kampung Nelayan, 1973

Perkembangan pelukis yang mengabdikan seluruh kehidupannya, seluruh jiwanya kepada bakat melukisnya dan semua itu dilakukan dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati. Sebagai seniman dalam mata dunia seni lukis sekarang kurang berarti, tetapi pengaruh melukis terhadap dirinya, dan pengaruhnya terhadap murid‐muridnya, disenangi selama lebih kurang tiga angkatan.

Seni lukis benar‐benar lahir dari orang‐orang yang senang mengembangkan bakatnya. Adanya seni lukis mazhab Wakidi ini hidup kesenian di Sumbar tak sampai begitu kering. Ini adalah suatu contoh dalam suatu masyarakat terdapat seseorang yang sadar memenuhi panggilan bakatnya dan orang‐orang yang berbakat dekat dengan dia akan ikut terpengaruh kalau tak ada yang menghalangi. Sesuatu yang muncul dan tumbuh akan mempengaruhi yang di sekitar. Tetapi mereka yang berbakat yang tidak dekat dengannya tidak akan ikut terpengaruh. Harga bakatnya tak akan disadarinya.

Mara Karma, Potret Wanita, Cat Minyak 90x60 cm
Mara Karma, Potret Wanita, Cat Minyak 90×60 cm

Mesti menjalani sesuatu kehidupan penuh berisi dan berarti bagi perkembangan hidup manusia. Mazhab Wakidi saat itu tak pernah memiliki kesempatan membandingkan diri dan mengukur diri dan menggariskan suatu cita garis juang. Karena mazhab Wakidi begitu lama berkuasa. Manusianya hidup dalam kolektivisme, sebagai manusia individu segan mengeluarkan diri dari kelompok yang banyak dan cepat menutup diri terhadap sesuatu yang baru dan yang datang dari luar.

Kesetiaan murid pada guru kuat tertanam budi seorang guru yang pertama membukakan mata hati akan kebenaran jalan yang ditempuh. Walaupun dalam kelanjutan perkembangan hidupnya mungkin dia banyak belajar lebih mengarahkan jiwanya dari berbagai kesempatan, umumnya tetap dia akan mengatakan gurunya, yang pertama itulah.

Pelukis‐pelukis Sumbar yang telah dikenal di zaman kolonial Belanda diantaranya Nasrun A.S., Dahlan, Ilyas, Sabirin, Mudahar, Beduice (Buyung Dese), Hasan Jaffar, Ramli, Syamsul Bahar, Zainal Abidin, Oesman Kagami (Oeska) Mismar, Madjizir dan lain‐lain. Pelukis‐pelukis kebanyakan tamatan INS Kayu Tanam, umumnya bermunculan pada permulaan Republik Indonesia di antara lain Mara Karma, Noerdin B.A, Anwarsjam, A.A. Navis, Nurdin, Hasan Basri, Dahlan, Arby Samah, Haznil, Gani Lubis, Huriah Adam dan lain‐lain.

Peminat seni lukis Wakidi dan murid‐muridnya, tentu ditemukan di kalangan menengah. Di kalangan masyarakat biasa, soal lukisan atau soal gambar cukup merata dikenal. Dalam catatan kita, mulai muncul sejak foto atau reproduksi dikenal. Yang membedakan lukisan Wakidi dengan murid muridnya tentulah tidak semata dilihat dari obyek lukisan. Obyek bisa saja sama, diantaranya seperti Ngarai Sianok, Bukittinggi yang terkenal hingga mancanegara

Lukisan Wakidi memancarkan daya tarik yang begitu kuat. Salah satu hal yang membuat lukisannya begitu menarik adalah kemampuannya dalam menangkap keindahan alam serta budaya Indonesia. Melalui coretan warna-warna cerah dan teknik yang brilian, Wakidi mampu menghidupkan alam dan kehidupan sehari-hari dalam lukisannya.

Salah satu karya terkenal dari Wakidi yang tak bisa dilewatkan adalah “Pasar di Pagi Hari”. Lukisan ini menggambarkan kesibukan para pedagang yang sedang beraktivitas di pasar tradisional pada pagi hari. Dengan cermat, Wakidi menggambarkan setiap detail dan nuansa yang ada, sehingga menampilkan suasana yang begitu autentik. Melihat lukisan ini, seakan-akan kita dapat merasakan aroma pedagang yang menjajakan hasil bumi dengan semangat.

Belum lagi, lukisan Wakidi juga bisa membawa kita untuk mengenang masa lalu. Salah satu karyanya yang menggambarkan pemandangan kota Solo masa lalu, menghadirkan nostalgia yang begitu kuat bagi mereka yang lahir dan besar di sana. Dengan lukisan-lukisannya, Wakidi memperlihatkan bagaimana kota Solo dahulu begitu ramai dengan pedagang kaki lima, becak, dan berbagai bangunan bersejarah.

Tak hanya itu, seni lukis Wakidi juga terkenal dengan kepiawaian dalam merepresentasikan cerita-cerita rakyat dan mitologi Indonesia dalam lukisannya. Dengan detail yang presisi, setiap tokoh dan suasana dalam cerita bisa kita lihat dengan jelas. Kita seakan-akan diajak untuk menjelajahi dunia fantasi yang dipenuhi dengan makhluk mitologi dan keajaiban.

Memiliki genre lukisan yang beragam, seperti realisme dan naturalisme, Wakidi terus menunjukkan eksplorasi dalam setiap karya yang dibuatnya. Tak jarang karyanya mengundang perdebatan dan diskusi di dunia seni rupa, karena begitu mendalamnya makna yang tersirat dalam setiap goresan kuasnya. Dengan semua keunikan dan keindahan yang dimiliki oleh lukisan Wakidi, tidaklah mengherankan jika karya-karyanya menjadi buruan kolektor seni dari seluruh dunia. Karya-karyanya telah dihargai dan dipamerkan di berbagai galeri seni di dalam dan luar negeri.
Keseluruhan, kualitas dan kehalusan dalam setiap karyanya menjadikan lukisan Wakidi berbicara sendiri. Pesan dan keindahan yang disampaikan melalui lukisan-lukisannya, membuat kita semakin mencintai alam, budaya, dan sejarah Indonesia. Sebuah warisan seni berharga yang tetap terus dikenang hingga kini.

Dalam soal teknis, Wakidi menggunakan teknik lukis memberikan kesan tiga dimensi. Ia menggunakan warna-warna cerah dan kontras untuk menciptakan efek yang menarik. Selain itu, ia juga sering menggunakan teknik goresan halus yang menghasilkan detail yang tajam pada lukisannya. Hal menarik tarikan kuasnya yang lembut tidak terasa adanya peralihan dari satu warna ke warna lain misalnya pada obyek awan dan lainnya.

Begitu juga dengan motif dan tema lukisan-lukisan Wakidi umumnya menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat dengan motif yang digunakan adalah orang-orang desa dengan aktivitas sehari-hari seperti bertani, memancing, dan berdagang. Wakidi juga sering mengangkat tema mitologi dan legenda Indonesia dalam karyanya.

Dalam penggunaan warna, pelukis Wakidi menggunakan warna-warna cerah dan mencolok dalam lukisannya. Ia percaya bahwa warna dapat mengungkapkan emosi dan suasana hati. Sang maestro juga sering menggunakan warna-warna yang kuat dan berani dalam karyanya. Semua itu turut mempengaruhi murid-muridnya dalam melukis, bahkan ada diantaranya hingga kini dalam sejumlah pelukis. (***)

Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.