Jakarta, Semangatnews.com – Suasana di depan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memanas pada Rabu malam. Puluhan keluarga korban job scam Kamboja menggelar aksi menuntut pemerintah bertindak lebih cepat menyelamatkan kerabat mereka yang hilang atau disekap di luar negeri.
Dengan membawa foto anggota keluarga dan poster bertuliskan “Bawa Mereka Pulang”, para demonstran menuntut transparansi dan tindakan nyata dari pemerintah. Mereka menilai langkah-langkah diplomatik yang diambil sejauh ini masih terlalu lambat dan tidak menghasilkan kemajuan signifikan.
Salah satu peserta aksi, seorang ibu yang anaknya hilang sejak Agustus lalu, menuturkan bahwa keluarganya belum mendapat kabar apa pun selama lebih dari dua bulan. Ia mengaku hanya menerima satu pesan terakhir yang berisi permintaan tolong sebelum sang anak tak lagi bisa dihubungi.
Kasus ini mencuat ke publik setelah lebih dari seribu warga Korea diketahui menjadi korban jaringan penipuan kerja di Kamboja. Para korban dijebak dengan tawaran pekerjaan bergaji tinggi di sektor teknologi, namun sesampainya di lokasi, mereka justru dikurung dan dipaksa bekerja dalam operasi scam daring.
Pemerintah Korea sebenarnya sudah merespons dengan membentuk tim krisis dan melarang perjalanan ke beberapa wilayah di Kamboja. Namun bagi keluarga korban, langkah itu dianggap terlambat. Mereka menuntut agar Seoul menekan Phnom Penh dengan tindakan lebih keras, termasuk jalur diplomatik tingkat tinggi.
“Larangan bepergian tidak akan membantu anak saya keluar dari tempat dia disekap. Kami butuh aksi nyata,” ujar seorang ayah korban dengan suara bergetar. Banyak keluarga berharap pemerintah segera mengirim misi penyelamatan langsung, bukan hanya melakukan negosiasi di meja diplomasi.
Gelombang kritik juga datang dari kalangan oposisi politik. Mereka menuding pemerintah gagal memberikan perlindungan bagi warga negara di luar negeri dan lamban merespons laporan awal yang sudah disampaikan sejak pertengahan tahun.
Beberapa anggota parlemen menyerukan agar kasus ini dijadikan momentum memperkuat undang-undang perlindungan pekerja migran digital, mengingat semakin banyak warga muda Korea mencari pekerjaan di luar negeri melalui platform daring tanpa perlindungan kontrak yang jelas.
Selain tekanan politik, opini publik di Korea pun memanas di media sosial. Tagar #BringThemHome dan #StopCambodiaScam menjadi tren selama dua hari berturut-turut. Ribuan netizen menuntut agar pemerintah segera memulangkan semua korban dan menindak agensi perekrut yang terlibat.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengaku tengah berupaya maksimal dengan mengirimkan tim penyelamat yang bekerja sama dengan kepolisian Kamboja. Namun, mereka juga mengakui bahwa sebagian lokasi sindikat scam berada di area tertutup dan dijaga ketat, sehingga sulit diakses.
Sementara itu, lembaga kemanusiaan lokal di Seoul telah membentuk kelompok pendamping psikologis bagi keluarga korban yang mengalami trauma berat akibat kehilangan komunikasi dengan kerabat mereka. Banyak di antara mereka mengaku hidup dalam ketidakpastian setiap hari.
Gelombang tekanan publik ini menjadi ujian besar bagi pemerintah Korea Selatan. Jika langkah penyelamatan dan diplomasi gagal membuahkan hasil cepat, krisis ini berpotensi berkembang menjadi isu politik besar yang mengguncang kepercayaan publik terhadap otoritas luar negeri negara itu.(*)
