Yuki Kato Berjuang di Balik Layar: Skoliosis Jadi Uji Totalitas di ‘Still Single’

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Di balik citranya sebagai artis muda penuh energi, Yuki Kato menyimpan cerita yang tak banyak diketahui publik: ia hidup dengan kondisi skoliosis, kelainan tulang belakang yang membuat postur tubuh melengkung ke samping. Kondisi ini muncul sebagai salah satu tantangan besar saat ia membintangi serial terbaru berjudul Still Single.

Yuki mengungkap bahwa skoliosis yang dideritanya bukan disebabkan oleh cedera tunggal, melainkan kebiasaan harian yang lama terlupakan—seperti sering membungkuk, bertopang satu sisi tubuh, dan durasi syuting yang panjang tanpa istirahat yang cukup. Saat proses syuting berlangsung kurang lebih tiga bulan, ia merasakan gejala kambuh yang cukup mengganggu.

“Sebenarnya itu karena habit, ya,” ungkap Yuki saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat. “Instruktur dan dokter saya bilang kalau banyak posisi yang saya lakukan selama syuting itu salah untuk kondisi saya,” tambahnya. Meski demikian, ia memilih tidak bergantung pada obat-obatan, melainkan berfokus pada perubahan kebiasaan dan perbaikan postur tubuh.

Perannya sebagai karakter Maya dalam serial Still Single menjadi titik pemicu. Karakter yang enerjik dan kerap membungkuk membuat tubuh Yuki kembali ‘terlena’ dalam pola lama. Ia mengungkap bahwa salah satu adegan membuatnya merasakan ketegangan di bagian punggung bawah—tanda bahwa skoliosisnya kembali aktif.

Untuk mengatasinya, Yuki memutuskan melakukan latihan pilates dan menjaga posisi tubuh setiap hari. “Saya nggak tahu apakah bisa sembuh total atau tidak, tapi yang pasti saya nggak mau berhenti latihan otot dan memperbaiki postur tubuh saya,” ia menegaskan. Keputusan ini ia ambil bukan hanya demi syuting, tetapi juga demi kualitas hidup sehari-hari.

Di media sosialnya, Yuki juga berbagi kejadian kecil yang menjadi sinyal: misalnya ketika ia merasa tubuhnya cepat lelah, atau saat bangun tidur merasa kaku. Ia pun mulai membiasakan diri untuk berdiri dengan tegak, menghindari bertopang satu sisi, dan memperbanyak aktivitas fisik ringan.

Meski kondisi medis seperti ini bisa menjadi beban psikologis, Yuki memilih untuk menjadikannya motivasi. Ia berharap cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi orang yang juga memiliki skoliosis atau kondisi tubuh lain agar tak merasa sendirian dan tetap berani beraktivitas.

Di sisi produksi serial, sutradara dan tim pun memberikan apresiasi atas totalitas Yuki. Mereka mencatat bahwa meski Yuki sempat mengalami ketidaknyamanan fisik, semangatnya tidak menurun. Hal ini membuat chemistry antar pemain dan kualitas produksi tetap terjaga.

Bagi publik, kisah Yuki ini menghadirkan perspektif baru tentang selebritas: tak hanya glamor dan panggung sorak sorai, tetapi juga perjuangan pribadi yang tersembunyi di balik layar—yang terkadang sangat manusiawi dan penuh tantangan.

Kini, Yuki tengah fokus menjalani pemulihan dan persiapan untuk tahap selanjutnya dalam kariernya. Dengan kondisi skoliosis yang masih menjadi teman sekaligus pengingat, ia berkomitmen untuk terus aktif, menjaga kesehatan, dan tetap memberikan yang terbaik dari dirinya—baik di layar kaca maupun di kehidupan nyata.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.