Jakarta, Semangatnews.com – Suasana penuh kebahagiaan dan rasa syukur menyelimuti acara pertunangan Teuku Rassya dan Cleantha Islan pada Sabtu malam (18 Oktober 2025). Setelah lima tahun menjalani hubungan, akhirnya keduanya memastikan langkah ke jenjang yang lebih serius dengan memasang cincin pertunangan dalam sebuah acara intim yang hanya dihadiri keluarga dan sahabat dekat.
Dalam acara tersebut, hadir pula ibu Rassya, Tamara Bleszynski, yang tak dapat menyembunyikan rasa harunya. Ia tampak terisak dan meneteskan air mata ketika melihat anaknya melangkah ke fase baru hidupnya. Dalam unggahannya di media sosial, Tamara menuliskan bahwa hari itu merupakan hari penuh syukur tak terbendung.
Selain Tamara, ayah kandung Rassya, Teuku Rafly Pasya, turut hadir mendampingi momen bahagia tersebut bersama istri barunya. Suasana yang pada umumnya dapat menegangkan justru berjalan dengan hangat dan penuh kebersamaan, menunjukkan bahwa meskipun keluarga telah melewati dinamika, ikatan untuk momen anak mereka tetap kuat.
Teuku Rassya dalam unggahan Instagram-nya menuliskan ungkapan sederhana namun sarat makna: “Bismillah, 5 years of us and a forever to go.” Kalimat tersebut menegaskan bahwa perjalanan lima tahun bukanlah titik akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupan bersama Cleantha.
Sementara itu, Cleantha Islan tampil anggun mengenakan kebaya modern warna putih gading, sedangkan Rassya memilih setelan krem yang kalem namun elegan. Pilihan busana keduanya seakan menyampaikan pesan bahwa acara mereka bukan sekadar seremoni—melainkan refleksi kedewasaan dan kesiapan.
Keduanya juga sempat mengingat momen-momen penting dalam hubungan mereka: mulai dari perayaan hari jadi, liburan bersama, sampai dukungan satu sama lain melalui naik turunnya karier publik masing-masing. Keserasian dan saling pengertian menjadi fondasi yang banyak dipuji oleh keluarga dan sahabat.
Dalam pernyataannya kepada media hiburan, Rassya menegaskan bahwa pertunangan ini bukan untuk pamer, tetapi untuk mengukuhkan komitmen. Ia ingin memasuki kehidupan rumah tangga dengan kesiapan matang—baik dari segi emosional, finansial, maupun hubungan interpersonal antara dua keluarga.
Para undangan menyampaikan bahwa suasana acara terasa begitu hangat dan bersahaja. Tak ada pesta besar atau kemewahan berlebihan. Yang terasa justru keakraban, tawa ringan, dan saling tatap antara dua keluarga yang hendak menyatu. Momen ini dianggap tampil sebagai contoh bahwa “yang sederhana tapi bermakna” bisa jauh lebih kuat.
Dengan gelanggang pertunangan selesai dilalui, pandangan kini tertuju ke persiapan pernikahan yang akan datang. Kapan dan di mana akan berlangsung? Gaya adat apa yang akan diangkat? Semua masih dijaga privat oleh pasangan—namun publik pun sudah antusias menanti dengan penuh harap.(*)
