Jakarta, Semangatnews.com – Kesepakatan gencatan senjata yang baru saja berlaku antara Gaza Strip dan Israel kini menghadapi ujian berat setelah pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah selatan Gaza, termasuk kota Rafah, yang mengancam runtuhnya penghentian sementara konflik tersebut.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan dilakukan sebagai respons atas tembakan yang dilancarkan ke pasukan mereka di Rafah—termasuk roket anti-tank dan tembakan sniper—dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata. Mereka menegaskan bahwa target operasi adalah infrastruktur militan, seperti terowongan dan pos tersembunyi.
Sementara itu, pihak Hamas membantah bertanggung jawab atas serangan di Rafah dan menyatakan tetap berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata. Namun klaim ini terhambat oleh fakta di lapangan bahwa sebagian wilayah Rafah berada di bawah kontrol Israel atau berada di zona abu-abu yang sulit dipantau secara independen.
Organisasi lokal dan penasihat kemanusiaan memperingatkan bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan, puluhan pelanggaran telah tercatat dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan langsung ke daerah sipil, sehingga suasana di Gaza berubah menjadi penuh ketidakpastian kembali.
Penutupan jalur kritis bantuan kemanusiaan melalui Rafah juga menjadi sorotan. Israel menyebut akan menahan pembukaan penuh pintu Rafah hingga syarat-syarat tertentu dipenuhi—termasuk penyerahan semua jenazah sandera—yang membuat situasi kemanusiaan di Gaza makin memburuk.
Bagi warga Gaza yang semula sempat menghela nafas lega, serangan ini kembali memunculkan rasa takut dan ketidakpastian. Banyak keluarga yang sudah mulai kembali ke rumah mereka kini harus mengungsi ulang, sedangkan layanan dasar seperti air bersih dan listrik kembali mengalami gangguan karena serangan terbaru.
Dari perspektif diplomasi, kejadian ini menjadi momen kritis karena menunjukkan bahwa gencatan senjata masih sangat rapuh dan bergantung pada disiplin serta pemahaman kedua pihak terhadap ketentuan yang disepakati. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat dan sanksi bagi pelanggaran, perjanjian bisa cepat roboh.
Pengamat konflik menyebut bahwa serangan ke Rafah adalah “tes nyata” bagi keberlanjutan gencatan senjata — jika Israel dan Hamas tidak dapat menghormati zona henti tembak, kemungkinan eskalasi penuh kembali terbuka dalam waktu dekat.
Meski demikian, masih ada harapan bahwa jalur diplomasi akan segera dipacu kembali. Beberapa mediator internasional telah menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti pertemuan lanjutan guna membahas mekanisme pertukaran tahanan dan jenazah yang tertunda, dan untuk memperkuat protokol zona aman bagi warga sipil.
Sekalipun hari ini situasi tampak tegang, banyak pihak berharap bahwa guncangan ini bisa menjadi momentum bagi kedua belah pihak untuk memperkuat kesepakatan—mengubah jeda senjata menjadi pondasi perdamaian yang lebih kokoh.(*)
