Jakarta, Semangatnews.com – Enam hari setelah aksi perampokan spektakuler yang terjadi di Galeri Apollon dalam museum Louvre, pihak kepolisian Prancis mengumumkan bahwa mereka telah menemukan jejak DNA yang tertinggal di lokasi kejadian sebagai bagian dari penyidikan. Bukti genetik ini diambil dari helm dan sarung tangan yang digunakan oleh para pelaku saat melancarkan aksinya.
Dalam jumpa pers, jaksa penuntut umum Paris menyebut bahwa selang waktu untuk memulihkan perhiasan bersejarah itu sangat terbatas—pakar menyebut peluang terbesar hanya dalam 24 hingga 48 jam setelah tindakan. Jejak DNA yang kini tengah dianalisis di laboratorium forensik ini diharapkan bisa menghubungkan pelaku dengan database internasional.
Kejaksaan juga menyampaikan bahwa modus operandi pencurian ini dilakukan dalam tempo sangat cepat, hanya dalam hitungan menit. Para pelaku yang menyamar sebagai pekerja konstruksi memasuki bangunan lewat balkon sisi Sungai Seine menggunakan sebuah kendaraan angkat (cherry picker) dan mengeksekusi pencurian dengan pemotongan kaca dan kabur menggunakan sepeda motor.
Meskipun sistem alarm dan kamera di museum telah aktif, pengakuan dari direktur Louvre sendiri menyebut bahwa aspek keamanan salah satu titik akses — yakni jendela balkon yang digunakan pelaku — gagal terpantau secara optimal oleh kamera eksternal. Hal ini memunculkan kritik publik terkait kesiapan museum untuk menghadapi serangan semacam ini.
Dokumen penyidikan menunjukkan bahwa helm dan sarung tangan yang tertinggal memuat DNA yang dapat dipakai untuk melacak pelaku melalui jaringan DNA forensik nasional maupun lembaga seperti Interpol. Pakar forensik menilai temuan ini sebagai peluang emas yang jarang muncul dalam kasus pencurian seni berskala besar.
Sementara itu, sebagian besar perhiasan hasil curian belum ditemukan dan dinilai memiliki nilai sejarah yang jauh melebihi nilai pasar. Salah satu barang yang dicuri termasuk mahkota milik Empress Eugénie yang kemudian ditemukan dalam kondisi rusak akibat penggelapan pelaku saat pelarian.
Analisis sementara menunjukkan bahwa pelaku kemungkinan besar bagian dari jaringan kriminal terorganisir yang menguasai teknik pembobolan dan pengelolaan barang curian tingkat tinggi. Penyidik tidak menutup kemungkinan bahwa barang curian akan dipecah komponen demi mempersulit pelacakan.
Masyarakat dan komunitas seni di Prancis bereaksi keras terhadap pencurian ini. Mereka menilai bukan hanya kehilangan materi, tetapi juga pukulan terhadap warisan budaya nasional. Presiden Prancis menyebut aksi ini sebagai “serangan terhadap sejarah kita bersama.”
Seiring pengembangan penyidikan, pihak Louvre menyatakan akan menutup sementara Galeri Apollon dan mengevaluasi seluruh sistem keamanan museum, termasuk memperkuat pengamanan eksternal yang selama ini dianggap menjadi titik rentan.
Tahapan selanjutnya adalah apakah jejak DNA bisa segera mengarah ke penangkapan pelaku. Jika berhasil, kasus ini bisa menjadi contoh bagaimana teknologi forensik mutakhir memainkan peran kunci dalam pemulihan hantaran seni dan warisan budaya dunia.(*)
