Presiden Prabowo Subianto Wacanakan 34 Pembangkit Listrik Tenaga Sampah untuk Atasi 55 Juta Ton “Gunung Sampah” di Bantar Gebang

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Prabowo Subianto menyentil masalah serius penumpukan sampah di lokasi TPA Bantar Gebang, yang diperkirakan telah menumpuk hingga sekitar 55 juta ton. Untuk menanggulangi krisis lingkungan ini, pemerintah bersama BPI Danantara merancang pembangunan 34 unit pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di sejumlah wilayah strategis, termasuk Bekasi, Bandung, dan Bali.

Menurut laporan resmi, setiap PLTSa akan mengoperasikan sistem “waste to energy” dengan kapasitas pengolahan hingga sekitar 33 000 ton sampah per hari. Teknologi yang diusung memungkinkan sampah, yang selama ini menjadi beban lingkungan, diubah menjadi sumber daya listrik yang kemudian akan disalurkan ke jaringan nasional.

Presiden Prabowo menyebut bahwa penanganan sampah bukan sekadar soal kebersihan kota, tetapi juga terkait dengan kesehatan masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan ketahanan energi nasional. “Sampah yang membuncit seperti gunung harus segera kita ubah menjadi energi, agar tidak menjadi beban bagi generasi berikutnya,” ujarnya pada pertemuan kabinet.

Pelaksanaan proyek ini akan terjadi dalam dua tahun ke depan, dengan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPI Danantara sebagai operator strategis, serta mitra swasta dan asing yang akan memasok teknologi terbarukan. Salah satu titik utama proyek adalah TPA Bantar Gebang yang selama ini menampung sebagian besar sampah DKI Jakarta.

Inisiatif waste-to-energy ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah substansial—bahkan disebut dapat menurunkan kebutuhan lahan pembuangan hingga 90 persen jika dijalankan secara optimal. Angka itu menjadi sinyal bahwa pengolahan sampah dapat menjadi industri transformatif, bukan hanya tanggung jawab lingkungan.

Di samping manfaat lingkungan dan energi, pembangunan PLTSa juga memunculkan potensi ekonomi lokal. Penciptaan lapangan kerja baru, pengembangan industri penunjang dan peningkatan nilai tambah dari pengelolaan limbah menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih luas.

Namun, proyek ini juga dihadapkan pada tantangan serius. Antara lain adalah teknis pengoperasian fasilitas, persetujuan masyarakat sekitar, serta pengendalian emisi dari pembakaran sampah agar tidak menimbulkan dampak kesehatan. Pemerintah menyatakan bahwa teknologi yang digunakan adalah standar modern dengan sistem filtrasi dan kontrol polusi yang ketat.

Pemerintah daerah Bekasi, yang berada dekat dengan area TPA Bantar Gebang, telah berlomba‐lomba memperkuat kerjasama dengan pusat dalam proyek ini. Pemprov menegaskan bahwa inisiatif ini adalah kesempatan untuk menjadikan wilayahnya sebagai pusat pengelolaan sampah dan energi terbarukan di Jawa Barat.

Dengan langkah ini, Indonesia berharap dapat memperkuat komitmen menuju ekonomi hijau, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menghadirkan solusi konkret untuk krisis sampah yang telah lama menjadi momok bagi wilayah metropolitan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.