Acha Septriasa Ungkap Kisah Co-Parenting dengan Vicky Kharisma: Anak Tetap Prioritas Meski Jalan Terpisah

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Acha Septriasa berbicara terbuka mengenai dinamika kehidupan barunya setelah perpisahan dengan Vicky Kharisma. Dalam wawancara terbarunya, ia menegaskan bahwa meski rumah tangga mereka telah berakhir, komitmen bersama dalam mengasuh putri mereka tetap menjadi prioritas.

Menurut Acha, pola co-parenting yang diterapkan bersama Vicky bukanlah sekadar solusi sementara, melainkan suatu keputusan sadar untuk memastikan tumbuh-kembang anak mereka tidak terganggu oleh perubahan keluarga. Ia menyebut bahwa komunikasi rutin dan penjadwalan bersama sudah disepakati demi kesejahteraan buah hati mereka.

Ia bercerita bagaimana awalnya ia dan Vicky memilih jalur co-parenting setelah menyadari bahwa konflik pasca-perceraian justru bisa merugikan sang anak. Langkah tersebut muncul dari kesepahaman bahwa anak mereka membutuhkan suasana stabil, bukan konflik yang berkepanjangan.

Dalam praktik sehari-hari, Acha mengatakan bahwa dirinya dan Vicky berbagi tanggung jawab — mulai dari menjemput anak di sekolah, memastikan waktu liburan bersama, hingga mengatur agenda kesehatan anak. Meskipun tidak tinggal bersama, keduanya tetap hadir secara aktif dalam kehidupan putri mereka.

Acha mengekspresikan bahwa perubahan ini menuntut adaptasi. Ia mengaku bahwa awalnya ada perasaan canggung, namun perlahan pola ini menunjukkan hasil positif. Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa tumbuh-kembang anak jauh lebih penting daripada ego atau hubungan suami-istri yang sudah usai.

Ia juga menyinggung pentingnya transparansi antara orang tua dalam co-parenting. Kedua pihak sepakat untuk melakukan koordinasi terkait sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan waktu bersama anak agar tidak terjadi tumpang tindih atau kebingungan. Dengan begitu, anak mendapatkan kepastian dan rasa aman.

Meski demikian, Acha tak menampik bahwa co-parenting tetap menghadirkan tantangan, terutama dalam urusan logistik dan emosional ketika orang tua tinggal jauh atau memiliki kesibukan masing-masing. Ia menyebut bahwa dibutuhkan fleksibilitas dan saling pengertian.

Bagi Acha, pola ini juga menjadi bagian dari identitas baru sebagai ibu tunggal yang aktif. Ia pun berharap bahwa pengalamannya bisa menjadi contoh bahwa perceraian tidak harus dihentikan dengan konflik, melainkan bisa dilanjutkan dengan kerja sama demi anak.

Publik menanggapi kisah ini dengan apresiasi karena dianggap memberi gambaran positif bagi anak-anak dalam keluarga yang mengalami perubahan struktur. Banyak yang mendoakan agar Acha dan Vicky terus kompak dalam pola pengasuhan bersama ini.

Dengan tekad yang kuat dari kedua orang tua, Acha optimistis bahwa putri mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa meskipun orang-tuanya tidak lagi bersama secara rumah tangga, cinta dan dukungan mereka terhadap anak tetap tak terbagi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.