In Memoriam Agus Taher (9 Agustus 1951-28 Oktober 2025)

by -
Agus Taher menikmati salah satu tembang terbaru ciptaannya, Agustus 2024 yang dibawakan penyanyi muda usia dari Sijunjung, Vanesha
Agus Taher menikmati salah satu tembang terbaru ciptaannya, Agustus 2024 yang dibawakan penyanyi muda usia dari Sijunjung, Vanesha

In Memoriam Agus Taher (9 Agustus 1951-28 Oktober 2025)
Musisi dan Pencipta Lagu “Kasiak Tujuah Muaro” Serta 400-an Tembang Minang Ciptaan Sang Maestro itu, Kini Telah Tiada

Oleh : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Minggu, 12 Agustus 2025, sekitar pukul 14.00 Wib saya bertandang ke rumah Agus Taher di Komplek BPTP Sumbar Blok A 4 RT.01/RW 01, Rimbo Datar, Lubuk Kilangan, Bandar Buat, Padang, Sumatera Barat.

Baca Juga : Pameran Tunggal ke 8 “Dewa Made Mustika” di Gallery Plaza Lev.4, M.H. Thamrin, Jakarta Bertutur Tentang Mitologi, Budaya dan Lingkungan Alam

Sampai di kediaman Agus Taher, seorang ibu ibu paruh baya keluar menemui saya, mangatakan kalau Agus Taher sedang istirahat, karena kurang enak badan. Hampir satu setengah jam saya menunggu, baru beliau keluar kamar dan menemui saya duduk menunggu di ruang tamu.

Musisi dan Pencipta Lagu Minang, Agus Taher dan Penulis
Musisi dan Pencipta Lagu Minang, Agus Taher dan Penulis

“Ambo kurang lamak badan, tadi siap sholat zuhur makan obat dan kemudian tertidur, kata Agus Taher memulai percakapan perihal musik yang dalam lebih setahun sejak 2024 mulai eksis kembali ditekuninya.

Dalam bincang bincang ringan tersebut, Agus Taher mengaku selama tahun 2024 lalu, ia sedikitnya telah merilis 20 (dua puluh) lagu lagu minang berbasis budaya lokal terbaru berhasil diciptakannya.

Agus Taher dan sang isteri tercinta saat menerima Pematung Nasional Yusman di kediamanya, Tahun 2023
Agus Taher dan sang isteri tercinta saat menerima Pematung Nasional Yusman di kediamanya, Tahun 2023

Lagu lagu tersebut umumnya dibawakan muka muka baru yang suaranya enak di dengar dan merdu di telinga publik bila dihayati sejak awal hingga selesai. Bahkan nama nama pembawa tembang ciptaan Agus Taher tersebut, ada yang baru saja menamatkan pendidikan salah satu SMK Negeri di Sijunjung bernama Venissa yang kini baru lulus di salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera Barat dan sejumlah nama lain yang cocok dengan suara dan liriknya.

Selama 5 tahun sebelumnya ia mengaku vakum menciptakan lagu lagu minang, apalagi setelah ditinggal pergi isteri tercinta untuk selama lamanya, Yunimisnun, tahun 2023 silam teman satu angkatan dengan saya di SMSR Negeri Padang (1977-1981).

Agus Taher dan sang isteri tercinta saat menerima Pematung Nasional Yusman di kediamanya, Tahun 2023
Agus Taher dan sang isteri tercinta saat menerima Pematung Nasional Yusman di kediamanya, Tahun 2023

Sejak kepergian almarhumah, Yuni Misnun, saya benar-benar sangat kehilangan. Banyak suka dan duka yang dilalui bersama almarhumah dalam biduk rumah tangga lebih kurang selama 41 tahun. Bahkan suatu kali kami pernah tak memiliki uang sedikit pun dalam rumah tangga menjelang saya mengikuti pendidikan S3 di University of the Philippines Los Baños (UPLB) Filipina, kenang Agus Taher mentikan air mata mengenang almarhumah isterinya itu.

“Namun demikian saya tak boleh larut dalam kedukaan. Maka di sela sela waktunya sejak setahun lalu persisnya selama tahun 2024 hingga kini (agustus 2025) saya banyak menghabiskan waktu menciptakan lagu lagu Minang agar dapat dinikmati publik baik di daerah sendiri, nasional bahkan disejumlah negara yang dapat menikmati karya karya ciptaannya,” ujar Agus Taher yang pernah viral dengan sejumlah tembang- tembang terbaiknya era 80, 90 an bahkan hingga kini.

Saat ditanya berbasis budaya lokal tersebut maksudnya Bagaimana?. Menurut Agus Taher ia lebih menekankan gaya baru pada notasi lagu sebagai aspek penting dalam seni musik dengan tidak mengabaikan aspek budaya lokal yang terus digali sebagai kekuatan yang di dalamnya memuat persoalan tradisi dan nilai nilai ungkapan yang menyentuh telinga publik.

Sebagai ilustrasi di Padang Pariaman ada Indang, di Padang ada Salinok, Pesisir ada Rabab di darek ada Saluang dan lain sebagainya, semua itu menjadi rujukan seperti tembang yang mengangkat tema nasib, percintaan atau tembang lawak/lucu yang terus digali dan dicari hingga ia menjadi sesuatu yang enak di dengar untuk semua kalangan.

Bagaimana pun tembang Minang, dengan melodinya yang khas dan lirik mendalam pada dasarnya teah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Karena itu lagu lagu Minang bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga banyak menyimpan kekayaan tradisi, nilai-nilai kehidupan, hingga cerita-cerita yang menyentuh hati hingga kehadirannya tak lakang dek paneh dan tak lapuak dek hujan, ia terus mengalun diberbagai kalangan.

Apalagi lirik lagu dapat menggugah emosi dan membawa perasaan yang dalam kepada pendengar melalui kata-kata yang dipilih sekaligus membantu memori pendengar dan penikmat hingga memberikan manfaat bagi kesehatan otak kita dan membantu dalam meningkatkan daya ingat kita.

Bagi Agus Taher, notasi lagu merupakan aspek penting dalam musik. Notasi menjadi penunjuk tinggi rendahnya nada serta ketukan dari sebuah lagu untuk kemudian dibawakan penyanyi. Keunikan lagu Minang terletak pada perpaduan harmoni antara melodi yang indah dan syair. Melodi lagu seringkali menggunakan alat musik tradisional seperti saluang, bansi, dan talempong, bernuansa etnik yang khas. Iramanya yang mendayu-dayu mampu membangkitkan emosi dan membawa pendengar hanyut dalam suasana yang diciptakan.

Syair lagu Minang umumnya menggunakan bahasa Minangkabau yang kaya akan kiasan dan perumpamaan. Lirik-liriknya seringkali bertemakan cinta, kehidupan, adat istiadat, dan nasihat-nasihat bijak. Tak jarang, lagu Minang juga mengangkat isu-isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Lagu lagu terbaru sejak 2024 silam yang diciptakan Agus Taher diantaranya dinyanyikan diantaranya muka baru, Venissa berjudul ; Isak Di Pantai Mandeh, Cameh Ditinggakan, Dalam Diam Menyayangimu, Rindu Usah Bisiakan, Den Pajauah Palarian, Merengkuh Memory, Rindu Usah Bisiakan, sementara penyanyi Sri Fayola membawakan lagu berjudul ; Pandai Bana Uda Mambuai, Gali gali Galinjang dan Arinda – Aku Kehilanganmu, Cinto Acok Manyakiti dan beberapa tembang lainnya.

Untuk keberlanjutan hadirnya lagu lagu Minang sesuai era dan waktunya di tengah publik daerah sendiri, di perantauan maupun secara nasional sebagai salah satu bentuk industri kreatif, maka kegiatan penciptaan lagu lagu Minang perlu ditingkatkan di Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan Sumatera Barat berbasis budaya lokal dengan keragamannya bermuatan sastra lisan dalam syair yang diciptakan. Karena lagu yang hadir dengan sastra lisan dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan nilai-nilai moral, adat istiadat, sejarah, serta budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Agus Taher yang telah banyak mengorbitkan penyanyi legend Minang sejak tahun 1981 hingga era tahun 2000 an, Ia kini banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya untuk menikmati dan mengevaluasi tembang ciptaannya melalui youtube, tiktok dan dibawakan banyak penyanyi baru.

Karena itulah, saat ini saya tetap berkomitmen untuk terus mengolah lagu-lagu berbahasa Minang bahkan ada dengan lirik bahasa Indonesia yang Insya Allah secara estafet saya rilis ke publik, ujar Agusli Taher menjanjikan.

Yang terpenting lagi di tengah-tengah perkembangan industri rekaman lagu-lagu Minang era digital saat ini saya tetap komit untuk terus menggali warna khas berbasis budaya lokal dari musik Minang moderen yang kian berkembang sebagaimana lirik syair dalam bentuk puisi. Apalagi saya pengagum lirik lagu lagu Ebiet G Ade yang syairnya puitis sekali tanpa mengabaikan budaya lokal,” ujar Agus Taher.

Menelusuri perjalanan karier Agus Taher dari dua sisi profesinya selama ini, ia mungkin sedikit dari teknorat ahli pertanian di Sumatera Barat yang dalam perjalanan kariernya menekuni dunia musik dengan mencipta lagu lagu Minang hingga karya laryanya mengantar sejumlah artis Minang menjadi penyanyi legend dari lebih 400-an lagu yang telah diciptakannya. Ia bahkan juga menerbitkan buku (2016) berjudul biografi Perjalanan Panjang Musik Minang. Kariernya sebagai pencipta lagu Minang kian menanjak ketika lagunya dibawakan oleh dua penyanyi legendaris, Tiar Ramon, Zalmon dan lainnya.

Tiar Ramon membawakan empat lagu ciptaan Agus, yakni Diseso Bayang, Rinai Pambasuah Luko, Paruntuangan, dan Langang di Nan Rami, Diseso Bayang meledak di pasaran. Saat itu omzet penjualannya mencapai di atas 100 ribu keeping kaset. Bahkan lagu ini menjelma menjadi lagu wajib dalam hampir setiap ajang festival lagu Minang yang pernah ada.

Tembang Nan Tido Manahan Hati hingga mengantarkan Zalmon dan Agusli Taher, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, meraih Anugerah HDX di Jakarta. Kemudian ada tembang hits dan fenomenal berjudul “Kasiak Tujuah Muaro” dengan mengantarkan tiga nama beken yakni Zalmon sebagai penyanyi, Agusli Taher pencipta lagu dan Ferry Zein sebagai pemusik.

Sebanyak 20 tembang hitsnya juga pernah dinyanyikan selain Tiar Ramon juga pernah dinyanyikan penyanyi Indonesia Harvey Malaiholo berjudul Mandeh, kemudian kado terbaik untuk Agusli Taher dipersembahkan pula oleh Harvey Malaiholo melalui tembang “Pitunang Saluang Nan Hilang” disusul Betharia Sonata dengan tembang “Minangkabau Dalam Lagu”.

Sederetan penyanyi Minang yang pernah membawakan tembang Agusi Taher diantaranya Tiar Ramon, Anroys, Kardi Tanjung, Nedi Gampo, Ferry Zein, Febian, Rosnida, Dessy Shantia, Gamawan Fauzi”, Odi Malik dan penyanyi cilik Ima Gempita yang kesemuanya pernah hits.

Hal yang menarik pula keluarga Agusli Taher sebenarnya bukanlah berasal dari keluarga seniman, ia anak seorang petani. Sejak berusia belasan tahun ia telah memiliki kegemaran mendengarkan musik dan lagu-lagu. Bahkan di usia 10 tahun, ia mengaku telah memainkan alat musik gitar. Pengalaman pertamanya saat masih berusia 15 tahun, ikut bergabung dengan orkes gamad Ikatan Budi saat itu ia merupakan anggota grup sebagai pemain gitar.

Di sela kesibukannya sebagai peneliti, ia mengaku tak pernah berhenti menciptakan lagu. Bahkan, saya sering kerja serabutan ; sebagai pencipta, produser rekaman, juga sekaligus mencari penyanyi yang pas dengan lirik yang diciptakannya.

Peneliti Pertanian, Musisi dan Pencipta Lagu lagu Minang

Agus Taher peneliti dan ahli pertanian dalam perjalanan kariernya juga merupakan musisi dan pencipta lagu-lagu Minang . Kemudian Agus Taher juga merupakan pendiri perusahaan rekaman Pitunang Record tahun 1991 yang banyak mengorbitkan penyanyi Minang di Sumatera Barat. Ia merupakan pencipta lagu yang telah menggubah sedikitnya 470 lagu dan sampai saat ini ia masih tetap menciptakan lagu.

Berkecimpung di dunia kesenian tak lantas membuat Agusli mengabaikan dunia pertanian. Ia pernah bekerja sebagai peneliti pertanian untuk Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami, yang sejak 1995 berubah nama menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sumatera Barat.

Dalam perjalanan pendidikannya, Agus Taher menempuh pendidikan S1 di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND). Kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S3 di University of the Philippines Los Baños (UPLB) Filipina. Berlatar belakang keahliannya di bidang pertanian, disertasi Agusli meraih penghargaan sebagai The Best Disertation Award dari UPBL Filipina.

Sebagai peneliti pertanian, Agusli bekerja di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sumatera Barat dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia menjadi Kepala BPTP Sumbar yang pertama. Di pengujung karienya, ia bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumbar dan memperoleh Satyalencana Wirakarya dari Presiden Soeharto pada tahun 1995 sebagai peneliti berprestasi di bidang lahan gambut.

Agusli sebenarnya tak berasal dari keluarga seniman, melainkan anak seorang petani. Sejak belia, kegemarannya adalah mendengarkan musik dan lagu-lagu. Saat masih berusia 10 tahun, ia sudah mulai memainkan alat musik gitar. Pengalaman pertama Agusli di dunia musik bermula ketika dirinya bergabung dengan orkes gamad Ikatan Budi. Saat itu, Agusli masih berusia 15 tahun dan merupakan anggota grup termuda di mana Agusli mendapatkan posisi sebagai pemain gitar. Orkes gamad ini sering tampil mengisi acara di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang.

Sebagai pencipta lagu, Agusli memulai debutnya saat berusia 19 tahun lewat lagu berjudul Derita Hati. Awalnya, Agusli hanya menciptakan lagu berbahasa Indonesia terutama lagu pop Indonesia. Ia baru menciptakan lagu Minang pada tahun 1975 setelah termotivasi sukses Yan Juneid yang populer saat itu. Lagu Minang pertama ciptaannya berjudul Selendang Mayang, tetapi lagu pertamanya yang berhasil menembus dapur rekaman yakni Palito Den Lah Padam. Lagu itu dibawakan oleh penyanyi Minang, Asben pada tahun 1975.

Popularitas Agusli Taher sebagai pencipta lagu kian menanjak ketika lagunya dibawakan oleh dua penyanyi Minang legendaris, yakni Tiar Ramon dan Zalmon. Tiar Ramon membawakan empat lagu ciptaan Agus, yakni Diseso Bayang, Rinai Pambasuah Luko, Paruntuangan, dan Lapang di Nan Rami. Lagu Diseso Bayang meledak di pasaran.

Omzet penjualannya mencapai di atas 100 ribu keeping kaset. Lagu ini menjelma menjadi lagu wajib dalam hampir setiap ajang festival lagu Minang. Adapun Zalmon menyanyikan tujuh Agusli Agus, termasul lagu Nan Tido Manahan. Lagu inilah yang mengantarkan Zalmon dan Agusli Taher, masing-masing sebagai penanyi dan pencipta lagu, meraih Anugerah HDX di Jakarta.

Di sela kesibukannya sebagai peneliti, ia tak pernah berhenti menciptakan lagu. Bahkan, Agus Taher bekerja serabutan; sebagai pencipta, produser rekaman, dan pencari penyanyi berbakat. Perusahaan rekaman Pitunang Record yang didirikannya dimaksudkan untuk memberikan kondisi iklim yang baik, terutama dalam memicu terbangunnya inovasi musik, lahirnya album yang lebih berkualitas, dan memberi lebih banyak kesempatan kepada seniman untuk unjuk kebolehan.

Walaupun berhadapan dengan Tanama Record sebagai penguasa pasar, kehadiran Pitunang Record memberikan warna tersendiri bagi blantika Musik Minang dan menginspirasi banyak seniman untuk terlibat dalam dunia rekaman. Telah banyak penyanyi dan pemusik yang diorbitkan di bawah label Pitunang Record yang dinakhodainya, termasuk Zalmon, Anroys, Nedi Gampo, Dessy Santhia, Ferry Zein, Ima Gempita, Ody Malik, dan Febian.

Festival Lagu-Lagu Minang dan Lomba Cipta Menulis Lirik Syair Lagu dalam Bentuk Puisi

Di tengah-tengah perkembangan industri rekaman lagu-lagu Minang dengan instrumen dan penggabungan alat musik tradisional yang tidak mengabaikan warna khas dari musik Minang moderen yang kian berkembang tersebut, maka untuk meningkatkan eksistensi dan kualitas lagu-lagu Minang kedepan sudah saatnya kembali digelar festival lagu-lagu Minang dan lomba cipta menulis lirik syair dalam bentuk puisi.

Menurut Agus Taher, dari banyak agenda festival seni yang di adakan di Sumatera Barat, hanya lagu-lagu Minanglah yang sangat minim festival. Padahal melalui festival itu dapat dijadikan alat ukur atau barometer, sejauh mana lagu-lagu Minang tersebut menjadi tuan rumah di negeri sendiri di tengah-tengah derasnya moderenisasi beragam lagu-lagu daerah Indonesia yang kini tumbuh bagai cendawan subur.

Terakhir kita mencatat festival lagu Minang pernah digelar tahun 1989 lalu yang berarti sudah 31 lebih tidak ada lagi festival. Kurun waktu sepanjang itu tentulah merupakan sesuatu yang kurang pas jika kita jujur ingin melihat dan menilai perkembangan kualitas lagu-lagu Minang di tengah-tengah publiknya,” ujar Agus Taher

Kemudian jika ditinjau dari lirik syair lagu-lagu Minang saat ini, kiranya juga diperlukan ada pembaharuan atau inovasi-inovasi baru yang mungkin saja muncul dari kalangan sastrawan atau pencipta puisi bahkan rekan-rekan wartawan dengan menjadikan bahasa Minang sebagai gerbongnya lirik syair lagu-lagu Minang.

Apalagi kita mengenal banyak sastrawan atau tokoh sastra pemikir maupun tokoh-tokoh penulis bahkan wartawan yang berasal dari daerah ini yang punya nama besar di Tanah Air seperti Chairil Anwar, Adinegoro, Rosihan Anwar dan lainnya yang sangat kaya dengan kalimat dan lirik kata-kata berkualitas tinggi, ujar Agus Taher.

Lirik syair lagu-lagu Minang selama ini diakui sudah baik, tetapi akan lebih baik lagi jika kalangan sastrawan maupun pencipta puisi yang sudah malang melintang di daerah ini dan punya nama besar di tingkat nasional kita rangkuh untuk bersama-sama memikirkan lirik syair lagu-lagu Minang guna memperindah bahasa Minang yang bahan bakunya ada pada mereka.

Artinya lirik syair tidak semata memakai sampiran A, B dan A, B atau AA, BB sebagaimana selama ini kita temui dalam syair lagu-lagu Minang. Kita juga bisa melihat sejumlah lirik syair puisi pada lagu-lagu Bimbo yang ditulis Taufiq Ismail, ujar Agus Taher yang di era tahun 1995 salah satu lirik syair lagunya berjudul “Kasiak Tujuan Muara” menjadi tending topik dan top HDX musik daerah terlaris di Indonesia dan anugerah Bhakti Musik Indonesia II tahun 2005.

Sementara musisi dan pencipta lagu Minang Sexri Budiman dalam kesempatan yang sama kepada Semangatnews.com juga menjelaskan, ia mengenal musisi seperti Nuskan Syarif sangat dikenal dengan lirik-lirik lagunya di era 1970 an kemudian disusul era 1980 Syahrul Tarun Yusuf dan beberapa nama lain, kemudian sesudah itu terjadi stagnan, artinya dikatakan dapat dihitung dengan jari pencipta lagu-lagu Minang yang benar-benar eksis di dunia. Hal ini pulalah barangkalai diperlukan lomba cipta lirik syair lagu-lagu Minang dengan tidak mengabaikan warna lokal sebagaimana yang jadi buah pikiran Agus Taher guna meningkatkan kualitas dan eksistensi lagu-lagu Minang di tengah-tengah publiknya.

Lebih tiga dekade silam persisnya purna tugas sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) bahkan memasuki usia tua, bukan berarti kita sebagai Insan ciptaan Allah SWT lantas berdiam diri atau tidak ada aktivitas yang bermanfaat sama sekali untuk masyarakat. Jika ada masanya stagnan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini itu merupakan hal lumrah sepanjang tidak menganggu aktivitas kita sebagai insan kreatif.

Walau demikian, saya tetap berkomitmen untuk terus mengolah lagu-lagu berbahasa Minang bahkan ada dengan lirik bahasa Indonesia yang Insya Allah secara estafet saya rilis ke publik.
Yang terpenting lagi di tengah-tengah perkembangan industri rekaman lagu-lagu Minang era digital saat ini saya tetap komit untuk tidak mengabaikan warna khas berbasis budaya lokal dari musik Minang moderen yang kian berkembang sebagaimana lirik syair dalam bentuk puisi. Apalagi saya pengagum lirik lagu lagu Ebiet G Ade yang syairnya puitis sekali tanpa mengabaikan budaya lokal,” ujar Agusli Taher.

Menelusuri perjalanan karier Agusli Taher dari dua sisi profesinya selama ini, ia mungkin sedikit dari teknorat ahli pertanian di Sumatera Barat yang dalam perjalanan kariernya menekuni dunia musik dengan mencipta lagu lagu Minang hingga karya laryanya mengantar sejumlah artis Minang menjadi penyanyi legend dari lebih 400 an lagu yang telah diciptakannya. Ia bahkan ia menerbitkan pula buku tahun 2016 silam berjudul biografi Perjalanan Panjang Musik Minang.

Kariernya sebagai pencipta lagu Minang kian menanjak ketika lagunya dibawakan oleh dua penyanyi Minang legendaris, yakni  penyanyi legendaris Tiar Ramon dan Zalmon.

Tiar Ramon membawakan empat lagu ciptaan Agus, yakni Diseso Bayang, Rinai Pambasuah Luko, Paruntuangan, dan Langang di Nan Rami,  Diseso Bayang meledak di pasaran. Saat itu omzet penjualannya mencapai di atas 100 ribu keeping kaset. Bahkan lagu ini menjelma menjadi lagu wajib dalam hampir setiap ajang festival lagu Minang yang pernah ada.

Tembang Nan Tido Manahan Hati hingga mengantarkan Zalmon dan Agusli Taher, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, meraih Anugerah HDX di Jakarta. Kemudian ada tembang hits dan lagu yang sangat fenomenal berjudul “Kasiak Tujuah Muaro” mengantarkan tiga nama beken yakni Zalmon sebagai penyanyi, Agusli Taher pencipta lagu dan Ferry Zein sebagai pemusik.

Sebanyak 20 tembang hitsnya juga pernah dinyanyikan selain Tiar Ramon juga pernah dinyanyikan penyanyi Indonesia Harvey Malaiholo berjudul Mandeh, kemudian kado terbaik untuk Agusli Taher dipersembahkan pula oleh Harvey Malaiholo melalui tembang “Pitunang Saluang Nan Hilang” disusul Betharia Sonata dengan tembang “Minangkabau Dalam Lagu”.

Sederetan penyanyi Minang yang pernah membawakan tembang Agusli Taher diantaranya Anroys, Kardi Tanjung, Nedi Gampo, Ferry Zein, Febian, Rosnida, Dessy Shantia, Gamawan Fauzi”, Odi Malik dan penyanyi cilik Ima Gempita yang kesemuanya pernah hits di telinga.

Dalam catatan, sejumlah penghargaan pernah dikantongi Agusli Taher diantaranya meraih penghargaan Gubenur Sumbar, yakni Citra Musik (1998), Anugerah Musik (2004), dan Anugerah Tuah Sakato (2008). Di tingkat nasional, ia memperoleh Nugraha Bhakti Musik Indonesia tahun 2005.

Semua itu kini tinggal kenangan, di tengah tengah usianya yang telah melebihi kepala 70 an dengan seperangkat bengkalai dan kesibukan sebagai musisi dan pencipta lagu lagu Minang yang masih tersisa di ruang kerjanya, Allah SWT telah memanggilnya bertepatan di hari peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025.

Karya karya Agus Taher menjadi saksi bisu dengan seperangkat nilai nilai yang selama ini ia pertahankan dalam suka dan duka yang tak pernah lapuk karena hujan dan lekang oleh panas. Ia memang benar benar maestro di kancah blantika musik Minang hampir lima dekade lamanya.

Sumatera Barat benar benar kehilangan tokoh penting dunia pertanian dan musik Minang yang hingga akhir hayatnya terus digelutinya, tanpa lelah.

Innalillahi Wainna Illahi Rojiun. Istirahatlah dengan tenang disisi-NYA (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.