Catatan Kecil : Muharyadi
JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Untuk ke delapan kalinya pelukis Dewa Made Mustika (51 th) menggelar pameran tunggal dari sederetan pameran lain secara kolktif yang pernah diikuti dalam perjalanannya sebagai sebagai salah seorang seniman seni rupa Indonesia sejak lebih tiga dekade silam hingga kini.
Pameran yang berlangsung di Gallery Plaza Lev.4, M.H. Thamrin, Central Jakarta, 31 Oktober 2025 yang pembukaannya diresmikan Dr. H.C. Drs. Handaka Vijjananda, Apt, pukul 16. 00, menampilkan 17 karya yang menarik untuk disaksikan dan diamati lebih jauh dan lebih dalam.

Dalam catatan kita, Dewa Made Mustika, pelukis yang pernah mengenyam pendidikan di SMSR Bali (1990-1994), kemudian berlanjut di Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta tahun 1994-1999 itu, adalah sedikit dari seniman asal Bali yang hingga saat ini tetap ekses berkarya, berpameran dan berkarya lagi dengan berbagai dinamika yang diusung kepermukaan prihal tuturan Mitologi, Budaya dan Lingkungan alam yang tak tak pernah kering menjadi nyanyian merdu di ruang terbuka yang dikemas dalam ranah estetis di kanvas-kanvasnya.
Seniman adalah seseorang yang memiliki talenta dan kecakapan teknik dalam menuangkan energi estetik yang ada dalam diri, yang terangkum dan tercermin dalam karya-karyanya. Seorang seniman juga harus tetap eksist menunjukkan karya-karyanya dalam berbagai kesempatan, dalam arti seorang seniman adalah seseorang yang tetap berkarya dan melakukan komunikasi kepada masyarakat penikmat melalui pameran.

Bagi Dewa Made Mustika, keragaman menjadi suatu identitas dan jati diri masyarakat Indonesia yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk ekspresi seni di atas kanvas. Agama dan budaya etnis yang berkembang memiliki pengaruh kuat terhadap jiwa seorang seniman dan berdampak terhadap pola pikir serta pandangan hidup
Penulis pameran tunggal ini, Alexander Luthfi, menyebut, kedua orang tuanya memiliki kecintaan terhadap kesenian Bali. Keluarga Dewa Made Mustika patuh terhadap nilai-nilai keagamaan dibalut aktivitas berkesenian. Di desa tempat tinggalnya di Bali masyarakat masih konsisten melestarikan tradisi seninya seperti menabuh gamelan, menari, melukis tradisional, tajen, dan kocokan dadu cliwik. Masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya mengajarkan cara hidup berbagi, multikultural dan saling menghormati, hidup berdampingan selaras tradisi keyakinan agama (Hindu Bali).

Selama ini sebagaimana kebanyakan pelukis corak tradisional Bali yang cendrung mempertahakan eksistensi corak Bali. Namun Dewa Made Mustika menembus kolaborasi seni tradisi Bali dengan seni modern barat dalam kecendrungan karya ekspresionis tanpa kehilangan nilai “greget” selama 10 tahun terakhir yang dilaluinya.
Karya karya Dewa Made Mustika secara kasat mata tampak berada dalam ranah ekspresif didukung tarikan kuasnya yang tajam, liar dan responsif terhadap pemanfaatan efek yang muncul sehingga memberikan peluang terjadinya improvisasi dalam proses melukisnya.

Memperhatikan karya dua aspek penting yang bisa diapresiasi, pertama pada penggunaan media cat minyak dengan akrilik, kertas tisu menjadi tekstur, dan teknik kombinasi pisau palet dengan kuas. Pada aspek kedua, yaitu ide dan tema dirinya tidak mau dibatasi oleh objek atau subjek yang khusus. Konsepnya tentang kebhinekaan, multikultural terbuka terhadap semua corak seni yang ada di seluruh wilayah Nusantara.
Lukisan Dewa Made Mustika ciri fisiknya terlihat ekspresif goresan kuasnya kuat, liar dan responsif terhadap pemanfaatan efek yang muncul sehingga memberikan peluang terjadinya improvisasi dalam proses melukisnya.

Memperhatikan karya seninya, terdapat dua aspek penting yang bisa diapresiasi, pertama penggunaan media cat minyak dengan akrilik, kertas tisu menjadi tekstur, dan teknik kombinasi pisau palet dengan kuas. Kedua, ide dan tema dirinya tidak mau dibatasi oleh objek atau subjek khusus. Konsepnya ber orientasi pada kebhinekaan, multikultural terbuka terhadap semua corak seni yang ada di tanah air.
Mengapresiasi seni budaya yang sudah lama berkembang menyatu dalam urat nadi masyarakat Indonesia. Di dalam karya seninya sarat informasi tentang tanda atau simbol budaya yang bisa dipahami sebagai hasil dari perenungan terhadap objek maupun subjeknya. Hal ini dilakukan untuk menjawab kegelisahan jiwanya, bahwa emosi subjektif seperti perasaan, pikiran, keyakinan, dan preferensi pribadinya menjadi prioritas di dalam mengembangkan ide atau tema seninya.
Meski memasuki wilayah moderen barat karya karya Dewa Made Mustika masih terlihat menggunakan teknik dan gaya khas lukisan tradisional Bali. Dengan menfaatkan warna-warna cerah dan kuat dan ekspresi wajah yang detail. Ia tetap menjaga tradisi berpegang pada teknik dan gaya tradisional sambil berinovasi dengan elemen-elemen modern sebagaimana yang ia peroleh semasa di SMSR maupun di ISI Yogyakarta dan lingkungan ia tinggal selama ini.
Lihat sejumlah lukisannya berjudul ; Jaga Mata Air, 150 cm x 120 cm, Wukong#3, 200×145 cm, cat Minyak, 2025. Dalam budaya dan lingkungan yang diurakan dapat disimak karya karya berjudul ; Competetion Spirit, 145x200cm, cat minyak, 2024, Jaga Mata Air, 150 cm x 120 cm, cat minyak, 2014 dan beberapa karya lain yang bukan hanya indah, menarik bahkan mampu mengghipnotis mata.
Karya-karyanya yang ekspresif dengan garis-garis liar dan lancar dipermukaan kanvas tanpa kehilangan nilai estetika tinggi terlihat memang merupakan ekspresi Dewa Made Mustika dalam subjektifitasnya. Ia mengajak kita untuk menggali dan meresapi keindahan yang ditawarkan, disana sini dengan seperangkat nilai nilai di dalamnya. (*)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
