Jakarta, Semangatnews.com – Negara Afrika Timur Tanzania dilanda kekacauan serius setelah penyelenggaraan pemilu pada akhir Oktober 2025 yang diwarnai bentrokan hebat antara massa demonstran dan aparat keamanan. Situasi semakin memburuk ketika pemerintah memberlakukan lockdown nasional disertai pemutusan akses internet dan pemberlakuan jam malam.
Kekerasan pecah ketika pemungutan suara berlangsung, dengan laporan muncul dari ibu kota komersial Dar es Salaam dan beberapa kota besar lainnya yang mengatakan bahwa pengunjuk rasa menyerang bangunan publik, kendaraan milik partai yang berkuasa, dan beberapa pos polisi. Aparat keamanan merespons dengan gas air mata dan tembakan peringatan.
Salah satu diplomat menyebut bahwa sudah 30 atau lebih orang tewas dalam hari pertama kerusuhan, meskipun angka resmi pemerintah belum diumumkan secara terbuka. Sementara itu, pihak oposisi menyatakan bahwa korban bisa mencapai ratusan hingga tujuh ratus dalam beberapa hari berikutnya.
Pemerintah membalas dengan pengerahan militer ke jalan‑jalan utama, blokade transportasi, penghentian sementara layanan feri ke pulau Zanzibar, dan pengumuman bahwa pegawai negeri diarahkan bekerja dari rumah. Beberapa sekolah dan universitas ditutup.
“Kami memerintahkan tindakan keamanan yang tegas untuk menjaga stabilitas negara,” ujar pejabat militer Tanzania. Pernyataan ini muncul saat kerusuhan meluas dan barikade jalan dipasang di pusat kota.
Berbagai organisasi hak asasi manusia menyatakan keprihatinan serius. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat setidaknya sepuluh orang tewas hingga saat ini dan mendesak penyelidikan independen atas penggunaan kekuatan berlebihan.
Salah satu sebab utama kerusuhan adalah pembatasan partisipasi politik: calon utama oposisi dilarang bertanding, dan pemilu dijalankan dengan sedikit kompetisi nyata menurut para pengamat.
Hasil awal menunjukkan kemenangan telak bagi presiden petahana Samia Suluhu Hassan yang mendapat angka suara tinggi dalam pemilu yang dinilai oleh banyak pihak tidak adil.
Sementara itu, warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam politik merasakan dampak langsung dari penguncian: transaksi elektronik terganggu, akses transportasi di kota besar lumpuh, dan wisatawan asing terdampar di bandara.
Di tengah situasi genting, dunia internasional mengawasi dengan seksama. Para pengamat mengatakan bahwa stabilitas politik Tanzania kini berada pada titik kritis dan dampaknya bisa meluas ke kawasan Afrika Timur.
Situasi ini menegaskan perlunya pengawasan internasional dan upaya diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat membahayakan rakyat sipil dan kestabilan kawasan.(*)

