PADANGPANJANG, SEMANGATNEWS.COM – Kunjungan peserta didik di dampingi guru guru pembina dalam rangkaian mempelajari batik dan ecoprint ke Sanggar Batik Canting Buana Batik Padangpanjang dari berbagai tingkat sekolah beberapa daerah dalam seminggu (3-5 November 2025) terakhir cukup tinggi. Puluhan peserta didik mulai Paud, SMP hingga SMA kelihatan antusias untuk mempelajari batik dan eco print.
Bahkan untuk puluhan peserta didik SMA Negeri Batang Anai, Padang Pariaman, dalam seminggu dua kali berturut turut mengunjungi Canting Buana untuk menimba ilmu belajar batik dan ecoprint 3 dan 5 Nov 2025. Kemudian juga ada Madrasah Aliyah Swasta (MAS) YDSI-IC Kota Pariaman di hari yang berbeda.

Tak ketinggalan puluhan peserta didik dari PAUD Faturhaman, Padang Panjang di dampingi sejumlah guru juga turut berlajar mewarnai batik, ujar pimpinan Sanggar Batik Canting Buana Batik, Widdiyanti, kepada Semangatnews.com, Jumat sore (7/11/25).
Menurut Widdiyanti, animo belajar membatik dan membuat ecoprin di kalangan peserta didik selama kunjungannya ke Canting Buana cukup tinggi. Mereka diperkenalkan motif motif ragam hias Minangkabau menggunakan canting dan kain serta malam. Sementara ecoprin peserta didik diberi kebebasan untuk memilih bahan bahan yang ada di alam terutama dedaunan sebagai sumber motif dan memakai larutan bahan ramah lingkungan.

Saat ini kegiatan membatik maupun membuat ecoprin sangat digemari di kalangan anak didik dan peserta didik secara umum. Dengan kegiatan langsung di arena membatik dan ecoprin, paling tidak peserta didik mulai dari PAUD hingga SMA selain diperkenalkan cara membatik dan ecoprint beserta ruang lingkupnya, mereka juga dapat menyalurkan bakatnya melalui pola bermain membuat batik dan ecoprint, secara santai tanpa mengurangi keseriusan bekerja.
Peserta didik selama berada di Canting Buana dilatih kreativitasnya untuk berpikir tentang hasil karya yang diinginkan didahului proses awal kerja sampai hingga jadi. Dengan sendirinya, peserta didik telah turut melestarikan budaya bangsa dalam bentuk batik dan ecoprint yang cuma ada di Indonesia versi UNESCO.

Hal yang tak kalah pentingnya sesuai tingkatan pekerjaan mulai peserta didik PAUD/TK, SD, SMP bahkan SMA melalui membatik dan ecoprint mereka juga telah melatih kecerdasan motorik masing masing.
Bila peserta didik dilatih sejak usia dini, pendidikan dasar hingga menengah secara langsung/tidak lansung mereka juga telah turut melatih kesabaran melalui proses kerja batik dan ecoprint, terutama saat menggunakan bahan agar tidak menetes yang dikhawatirkan dapat merusak motif motif yang telah dikerjakan, ujar Widdiyanti, dosen seni kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang yang juga instruktur batik Nasional itu, memberi penjelasan. (mh)
