Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Memotret momen beraneka peristiwa bersejarah di Minangkabau baik berupa peristiwa religi, adat istiadat berisikan tradisi, sistem kekerabatan matrilineal, upacara adat, dengan nilai-nilai budaya yang merupakan bagian integral kehidupan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, memang bukan gampang dilakukan dalam waktu sekejap.
Baca Juga : In Memoriam Agus Taher (9 Agustus 1951-28 Oktober 2025)
Hal ini pulalah yang dilakukan seniman, budayawan dan jurnalis, Edy Utama melalui pameran etnofotografi bertajuk “Islam di Minangkabau: Surau dan Ritus di Sumatera Barat” di galeri Taman Budaya, Sumatera Barat, Jalan Diponegoro 31 Padang sejak 24 – 31 Oktober 2025.

Setahu saya, kegiatan pameran ini merupakan kegiatan kedua yang pernah dilakukan Edy Utama, setelah pameran pertama berla ngsung tahun 2021 silam dan sukses luar biasa saat itu.
Banyak foto foto menarik berbagai rekaman peristiwa yang diusung Edy Utama melalui pamerannya kali ini. Kepekaan pengamatan terhadap sejumlah peristiwa dan bidikan kameranya, sang fotografer merefresentasikan secara visual berbagai peristiwa religi maupun budaya dalam bentuk foto yang diperbesar bernilai estetika tinggi.
Apa yang dilakukan bung Edy Utama, demikian saya memanggilnya paling tidak dapat menjadi jembatan untuk membuka tirai persoalan aktivitas religi dan kebudayaan yang pernah ada di Minangkabau sejak lama dengan segala fenomenanya.
Mengamati karya karya Edy Utama melalui seretan foto foto yang saya simak lebih jauh dan lebih dalam, ia memberi isyarat kepada publik untuk membangunkan kembali memori kultural dan spiritual masyarakat masyarakat Minangkabaum terlebih untuk kalangan generasi muda sebagai pewaris kelak dikemudian hari.
Apa yang dilakukan Edy Utama ini, bukan merupakan pekerjaan gampang dilakukan, jika tidak dilandasi pengetahuan dan pemahaman yang kuat terhadap ranah kultural dan spritual yang cukup, dan ditambah lagi pengetahuan teknik memotret beragam persoalan yang ada di hadapannya secara profesional dalam ranah estetik hingga pada akhirnya membuat publik bukan hanya mengetahui dan memahami potret sejarah bermuatan kultural tetapi juga aktivitas religi yang sudah melekat di akar budaya masyarakat.

Hal ini dilakukan Edy Utama sebagai seniman, budayawan dan jurnalis tentu tidak terlepas dari beragam suku-suku yang ada di Sumatera Barat melalui aktivitas etnofotografi. Meski diakui secara teori etnofotografi dapat dilakukan para peneliti, mahasiswa, para pendidik hingga ke generasi muda saat ini. Namun, dalam kondisi realitasnya sedikit sekali pelaku etnofotografi melakukan di daerah ini, kecuali Edy Utama yang memang eksis di dunia ini.
Dalam catatan kita, Minangkabau, sebuah wilayah yang terletak di bagian barat Sumatera, Indonesia, memiliki sejarah dan budaya yang kaya dan unik. Sejak abad ke-15, Islam telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Minangkabau, membentuk nilai-nilai, tradisi, dan identitas mereka. Pengaruh Islam begitu kuat sehingga telah meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, dari sistem sosial, adat istiadat, hingga seni dan arsitektur.

Dalam masyarakat Minangkabau, Islam tidak hanya dipraktikkan sebagai agama, tetapi juga sebagai filosofi hidup. Ajaran Islam tentang persaudaraan, keadilan, dan kasih sayang telah menjadi dasar bagi nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Prinsip-prinsip Islam seperti “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” (adat bersandar pada syariat, syariat bersandar pada kitab Allah) menunjukkan bagaimana ajaran Islam dipadukan dengan nilai-nilai adat istiadat yang telah ada sebelumnya.
Peristiwa Religi dan Adat istiadat di Minangkabau
Mendiskripsikan puluhan karya fotografi dalam ranah seni bernilai estetik baik dari tujuan maupun fungsi foto tersebut yang diangkat kepermukaan saat menyaksikan satu-satu persatu obyek foto bermuatan peristiwa religi dan budaya berisikan seperangkat nilai-nilai dengan keanekaragamanya sebagai bahasa utamanya.
Menurut hemat kita, inilah salah satu bentuk karya visual melalui fotografi seni yang bertutur tentang alam Minangkabau dan dinamika peristiwa budaya merujuk “alam takambang jadi guru”. Semuanya mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menjadikan alam sebagai guru.
Alam dapat ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam. Seperti terdapat pada filosofis padi yang mengajarkan agar manusia tidak sombong dan senantiasa menunduk. Pohon memberikan keteduhan atau kesejukan. Alam mengajarkan manusia tentang makna keikhlasan, perjuangan, rendah hati dan lain sebagainya.
Jika saat ini sering terjadi bencana alam, mungkin ini cara alam mengajarkan kepada manusia bagaimana cara untuk bersabar dan selalu mengingat keberadaan Allah SWT kepada seluruh umatnya di muka bumi ini. Karena itu di Minangkabau sejak lama juga dikenal filosofis “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.
Pembelajaran tidak hanya dapat diperoleh atau dilakukan di bangku pendidikan formal semata. Dengan mengamati apa yang ada di alam dan seisinya bisa membuat suatu pembelajaran yang sangat berharga sebagaimana tercermin di rata-rata karya Edy Utama.
Pemandangan alam dan seisinya secara luas ciptaan Allah SWT, yang memuat beraneka perisitwa di dalamnya merupakan kekayaan Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang yang bisa diamati melalui puluhan karya fotografi seni memuat nilai estetika dan seperangkat nilai-nilai pada karya Edy Utama.
Dalam sejarah, setidaknya kita memahami atau paling tidak mengetahui bahwa, sejak lama Minangkabau menjadi salah satu wilayah terpenting di Indonesia dengan aktivitas religi dan keelokan panoramanya yang indah. Keanekaragaman peristiwa budaya masyarakatnya seperti yang kita catat selama ini.
Sebagai ilustrasi merujuk sejumlah nama besar Fotografer dunia seperti Julie Sarperi atau dan Renaud Bonnet (francis), hasil jepretan mereka berupa pemandangan alam secara teliti dapat melahirkan rasa tenang, indah, lalu berdecak kagum pikiran, bahkan terkesima, betapa indah obyek danau dan perbukitan dengan hamparan pohon di dalamnya.
Begitu juga fotografer Max Rive (Belanda), yang paling kreatif dalam memotret pegunungan, karena terdorong fokus dalam pemotretan di pegunungan. Ia juga memotret pegunungan pada musim dingin di tahun 2008 atau tempat-tempat yang menjadi ikon pada tahun 2012 mengikuti gaya petualangannya dalam dunia fotografi yang menghasilkan banyak foto-foto unik miliknya berisikan seperangkat nilai-nilai di dalamnya.
Evgeni Dinev (Bulgaria), yang memulai karirnya sebagai fotografer landscape kreatif tahun 2007. Ia memilih tempat yang pas pemotretan untuk menguak keindahan alam karya fotografi landscape agar hasilnya semakin menakjubkan. Evgeni Dinev membutuhkan kesabaran dalam memotret foto-foto landscape sangat sempurna di saat-saat momen terbaik, ia juga memotret keindahan alam yang tersembunyi untuk menggugah hati para pecinta alam.
Dari beberapa nama ini di atas kita melihatnya secara utuh dan fleksibel diantaranya seperti dilakukan Evgeni Dinev, ia memotret keindahan alam tersembunyi untuk menggugah hati para pecinta alam. Hasilnya tampil indah, memukau bahkan menghipnotis mata.
Sementara pengalaman empiris Edy Utama kelahiran Lubuk Sikaping 66 tahun lalu yang dikenal sebagai budayawan, seniman dan jurnalis selama kariernya secara sungguh-sungguh puluhan tahun lamanya turut memperkayanya dalam memotret banyak momen dan peristiwa sebagaimana tergambar dalam karya-karyanya. Artinya fotografi seni bukan sebatas menuangkan ide/imajinasi dari obyek kepermukaan, tanpa menyentuh substansi konsep dan makna foto secara utuh.
Edy Utama diyakini sedang bergulat melalui fotografi seninya yang memuat peristiwa religi dan budaya beisikan seperangkat nilai-nilai. Lihat sejumlah obyek pergunungan, hamparan sawah terbentang luas, bangunan rumah ibadah, tempat tinggal maupun rumah tradisi yang selama ini luput dari perhatian kita. Melalui karya karyanya kita dapat menyimak peran Ulama, Islam dalam Struktur Sosial, Islam dalam Adat Istiadat, Islam dalam Seni Budaya dan pendidikannya, Islam dalam kehidupan Sehari-hari sebagai cerminan Identitas Minangkabau secara umum
Lihat sekelompok wanita wanita muslim berbaju kurung dengan beragam aktivitasnya, kalangan kaum lelaki baindang dimana Indang salah satu kesenian Minangkabau dengan nilai nilai Islam yang bermula dari surau sebagai pusat pendidikan agama di Minangkabau merupakan manifestasi akulturasi budaya lokal dan Islam yang telah berkembang sejak lama di Minangkabau, upacara serak gulo, pemandangan rumah ibadah seperti surau, mesjid serta tradisi pernikahan dan baralek gadang, wanita membawa hantaran dan lainnya dalam keberagamannya memiliki makna bagaimana kita turut serta menjaga keseimbangan lingkungan tempat tinggal kita, lalu bagaimana pula cara menjaga lingkungan tersebut agar dapat berkontribusi dalam memelihara keanekaragaman budaya dengan muatan lokal di dalamnya.
Fenomena budaya lokal yang beraneka ragam dan ada di Minangkabau tak dapat dipungkiri merupakan warisan budaya yang wajib dilestarikan. Ketika daerah lain hanya sedikit mempunyai warisan budaya lokal berusaha keras untuk melestarikannya demi sebuah identitas, maka sungguh naïf jika kita yang memiliki banyak warisan budaya lokal lantas mengabaikan pelestariannya.
Lalu bagaimana cara menjaga dan memelihara alam dan pemandangan didalamnya dengan beragam peristiwa budaya yang tersebar di banyak daerah, lokasi dan tempat di Minangkabau? Semua dijabarkan melalui ratusan karya-karya etnofotografi Edy Utama bernilai seni dan estetika tinggi merujuk “Alam takambang jadi guru”.
Walau, ruang pameran galeri Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Sumatera Barat tidak cukup besar dengan fasilitas yang serba terbatas untuk menampung ratusan karya karya hingga lay out karya terkesan sempit, hingga pengunjung tak dapat menikmati peristiwa demi peristiwa secara leluasa.
Namun sesungguhnya publik telah digiring untuk melihat dan menyaksikan beragam peristiwa religi dan adat istiadat yang kaya dan unik yang nyata nyata menjadi bagian identitas Minangkabau dengan keberagamannya. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
