Jakarta, Semangatnews.com – BNPT kembali memperkuat strategi pencegahan radikalisme dengan menggandeng Universitas Indonesia (UI) melalui kegiatan bedah buku yang digelar di Kampus UI Salemba, Jakarta. Acara ini bertujuan memperluas literasi publik mengenai bahaya ideologi kekerasan dan pentingnya penangkalan sejak dini.
Kegiatan tersebut membedah buku hasil kajian terhadap barang bukti tindak pidana terorisme berjudul “Tercerahkan dalam Kedamaian”. Buku tersebut disusun berdasarkan analisis terhadap ribuan buku yang disita dari jaringan terorisme di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
Sejak April 2023, tercatat 134 putusan pengadilan menyerahkan buku-buku sitaan kepada BNPT untuk dianalisis. Dari jumlah itu, lebih dari 11.000 buku telah masuk proses pemeriksaan dan sekitar 10.000 di antaranya dimusnahkan karena terbukti mengandung konten radikal.
Direktur Penegakan Hukum BNPT, Sigit Widodo, menegaskan bahwa penyebaran paham radikal tidak dapat ditangani satu pihak. Menurutnya, kolaborasi dengan akademisi, kampus, dan masyarakat sipil merupakan bagian penting dalam memperluas jangkauan edukasi.
“BNPT tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu kolaborasi dengan perguruan tinggi dan seluruh elemen masyarakat agar pemahaman tentang bahaya radikalisme semakin kuat,” ujar Sigit dalam acara tersebut.
UI menyambut positif kerja sama ini. Pihak kampus menilai bahwa literasi terhadap isu radikalisme penting untuk memperkuat daya kritis masyarakat, terutama generasi muda yang paling rentan terhadap paparan ideologi ekstrem.
Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Supriatna, menilai bahwa literasi menjadi benteng utama melawan penyebaran narasi berbahaya. Ia menekankan pentingnya peran sekolah, kampus, dan komunitas pemuda dalam mengawal wacana kontra-radikalisme.
Kegiatan bedah buku ini juga merupakan bagian dari strategi preventif nasional BNPT yang tidak hanya mengandalkan penindakan hukum, tetapi juga menguatkan pendidikan, pemahaman, dan kesadaran publik melalui literasi.
Materi buku yang dibedah memberikan gambaran tentang pola penyebaran paham radikal melalui literatur, metode perekrutan, hingga strategi propaganda kelompok ekstrem. Analisis ini diharapkan dapat memperkaya wawasan akademis dan masyarakat umum.
Selain membahas hasil kajian, acara tersebut juga membuka ruang diskusi luas mengenai peran pendidikan dalam meredam ideologi kekerasan. Para peserta, termasuk mahasiswa, akademisi, dan aktivis sosial, terlihat antusias memberikan pandangan mereka.
BNPT dan UI berharap kegiatan ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kampanye literasi anti-radikalisme ke berbagai kampus lain di Indonesia. Dengan dukungan akademisi, pemerintah percaya upaya kontra-radikalisasi akan lebih efektif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, gerakan literasi anti-radikalisme diharapkan semakin masif, sehingga masyarakat dapat membangun daya tahan terhadap narasi kebencian, memperkuat nilai toleransi, serta menjaga keutuhan kehidupan berbangsa.(*)
