Jakarta, Semangatnews.com – Sebuah laporan pemantauan tingkat radiasi ponsel kembali memicu perhatian publik setelah sejumlah model terungkap memiliki tingkat emisi yang lebih tinggi dibandingkan perangkat lain di kelasnya. Meski masih berada dalam ambang batas aman yang ditetapkan regulator internasional, temuan ini kembali memunculkan diskusi tentang keamanan jangka panjang penggunaan smartphone.
Para peneliti yang terlibat dalam pemantauan tersebut memastikan bahwa pengukuran dilakukan menggunakan standar SAR atau Specific Absorption Rate, yakni seberapa banyak energi radiasi yang diserap tubuh saat ponsel digunakan. Dalam beberapa model, angka SAR tercatat mendekati ambang batas sehingga direkomendasikan untuk digunakan secara lebih bijak.
Di sisi lain, sejumlah pakar teknologi menegaskan bahwa radiasi ponsel modern masih jauh lebih aman dibandingkan perangkat elektronik era sebelumnya. Namun begitu, mereka tetap menyarankan pengguna untuk memahami potensi risiko agar bisa menggunakan perangkat secara lebih sehat.
Temuan ini pun memicu reaksi beragam dari masyarakat. Banyak pengguna mulai mencari tahu model ponsel mereka masuk daftar radiasi tinggi atau tidak, sementara sebagian lainnya menilai masalah ini kerap dibesar-besarkan. Meski demikian, isu kesehatan selalu menjadi topik sensitif sehingga hasil pemantauan tersebut tetap mendapat sorotan luas.
Beberapa ponsel yang dirilis dalam dua tahun terakhir tercatat memiliki tingkat radiasi yang lebih tinggi akibat penggunaan komponen pemancar sinyal yang lebih kuat. Ini dipicu oleh kebutuhan jaringan yang semakin cepat, terutama pada perangkat 5G yang membutuhkan daya pancar lebih besar untuk menjaga kestabilan koneksi.
Laporan tersebut juga memuat daftar perangkat yang justru memiliki tingkat radiasi paling rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan perangkat yang lebih aman tetap tersedia bagi konsumen yang memiliki kekhawatiran khusus terkait kesehatan.
Pakar kesehatan kemudian mengingatkan bahwa risiko radiasi ponsel biasanya meningkat jika perangkat digunakan terlalu dekat atau dalam waktu sangat lama. Mereka menyarankan penggunaan earphone atau mode speaker untuk mengurangi paparan langsung ke kepala.
Selain itu, mereka juga menyarankan agar pengguna menghindari kebiasaan menempatkan ponsel di bawah bantal saat tidur. Kebiasaan ini bukan hanya meningkatkan paparan radiasi, tetapi juga dapat menimbulkan risiko panas berlebih pada perangkat.
Reaksi produsen ponsel pun bervariasi. Sebagian perusahaan memastikan bahwa produk mereka telah melalui uji keamanan berlapis, sementara lainnya menyatakan akan melakukan evaluasi untuk memastikan standar keselamatan terus ditingkatkan. Namun, tak sedikit yang menilai publikasi daftar radiasi sering kali tidak menggambarkan kondisi penggunaan nyata.
Pemerintah melalui badan regulasi telekomunikasi kembali menegaskan bahwa setiap ponsel yang beredar di pasar telah memenuhi standar SAR internasional. Meski begitu, mereka mendukung penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan publik tetap menjadi prioritas.
Konsultan teknologi menilai bahwa transparansi seperti ini penting agar masyarakat dapat menentukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Dengan semakin banyaknya pilihan perangkat, konsumen kini bisa mempertimbangkan faktor radiasi sebagai salah satu aspek sebelum membeli.
Laporan tersebut diprediksi akan memicu diskusi lanjutan terkait keamanan teknologi komunikasi, terutama di tengah persaingan produsen ponsel yang semakin ketat dalam menawarkan performa dan kecepatan. Pada akhirnya, edukasi publik menjadi kunci agar masyarakat bisa menggunakan teknologi secara cerdas dan aman.(*)
