ATR 42-500 yang Jatuh di Sulsel Ternyata Pernah Terlibat Misi Kemanusiaan di Lampung

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan tragis di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan ternyata memiliki catatan penting dalam misi kemanusiaan nasional. Sebelum peristiwa nahas tersebut, pesawat ini sempat dikerahkan untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan korban kapal terbakar di perairan Lampung.

Fakta itu diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI M Syafi’i, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI. Ia menyebut pesawat tersebut memiliki kontribusi besar dalam mendukung operasi SAR lintas wilayah.

Peristiwa yang dimaksud terjadi pada Desember 2025, saat kapal KM Maulana-30 mengalami kebakaran hebat di perairan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Insiden tersebut menimbulkan kepanikan dan mengancam keselamatan penumpang serta awak kapal.

Dalam penanganan kejadian itu, Basarnas mengerahkan berbagai unsur, termasuk dukungan udara. Pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport digunakan untuk melakukan pemantauan dari udara guna mempercepat pencarian korban yang diduga terjatuh ke laut.

Menurut Syafi’i, kehadiran pesawat tersebut sangat membantu tim di lapangan. Dengan jangkauan dan kemampuan manuver yang dimiliki, pesawat mampu memberikan gambaran situasi yang lebih luas dan akurat selama operasi berlangsung.

“Kesan mendalam bagi kami, karena dalam operasi SAR kapal terbakar itu kami dibantu oleh pesawat yang saat ini justru sedang kami cari akibat kecelakaan,” ujar Syafi’i dalam rapat tersebut.

Tragedi semakin terasa ketika diketahui bahwa tiga penumpang dalam penerbangan ATR 42-500 yang jatuh merupakan personel yang sebelumnya terlibat langsung dalam misi pencarian korban kapal terbakar di Lampung. Dedikasi mereka kini dikenang sebagai bagian dari pengabdian kemanusiaan.

Pesawat ATR 42-500 tersebut jatuh pada Sabtu saat menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat itu diketahui dicarter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk keperluan patroli dan surveilans wilayah perairan Indonesia.

Dalam penerbangan tersebut, pesawat membawa tujuh awak dan tiga penumpang. Setelah dinyatakan hilang kontak, upaya pencarian langsung dilakukan oleh tim SAR gabungan dari berbagai instansi.

Operasi pencarian menghadapi tantangan besar berupa kondisi cuaca yang tidak bersahabat serta medan pegunungan yang terjal. Akses menuju lokasi jatuhnya pesawat juga sangat terbatas, sehingga proses evakuasi membutuhkan waktu dan kehati-hatian tinggi.

Hingga beberapa hari setelah kejadian, tim SAR berhasil menemukan sejumlah korban. Proses identifikasi dan evakuasi terus dilakukan seiring upaya pencarian korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.

Sementara itu, pihak berwenang juga melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan pesawat. Seluruh data penerbangan dan kondisi teknis pesawat tengah dianalisis oleh otoritas terkait.

Kisah ATR 42-500 yang pernah menjadi bagian dari misi penyelamatan nyawa kini berakhir tragis. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam sekaligus penghormatan atas dedikasi para awak dan penumpang yang telah mengabdikan diri bagi keselamatan dan kepentingan bangsa.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.