Pameran Tunggal Pelukis Sepuh Chris Suharso di Art 1 New Museum Jakarta Mengusung Tema “Perlawanan Melalui Tatapan”

by -
Pameran Tunggal Pelukis Sepuh Chris Suharso di Art 1 New Museum Jakarta Mengusung Tema "Perlawanan Melalui Tatapan”
Pameran Tunggal Pelukis Sepuh Chris Suharso di Art 1 New Museum Jakarta Mengusung Tema "Perlawanan Melalui Tatapan”

JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Sedikitnya 48 lukisan karya pelukis sepuh otodidak Chris Suharso digelar dalam suatu pameran tunggal di Art 1 New Museum Jalan Rajawali Selatan Raya Gunung Sahari Utara, Sawah Besar, Jakarta sejak 17 Januari sd 1 Februari 2026.

Baca Juga : Anggota IPEMI Kota Payakumbuh Mengikuti Magang Batik-Ecoprint di Canting Buana Kreatif Padang Panjang

Hal yang terpenting pula dalam kerangka lebih luas, pameran ini juga mengingatkan kita bahwa banyak pelukis Indonesia belum mendapatkan posisi layak di peta seni global. Karena hanya sedikit nama yang masuk dalam wacana seni internasional, padahal Indonesia memiliki kekayaan tradisi visual dan sejarah estetika yang mampu menghadirkan perspektif baru dalam perbincangan global tentang seni modern, ujar kurator pameran Mikke Susanto kepada semangatnews.com, Jumat, 23/01/26.

Lukisan Chris Suharso, Fishing Boats, oil on canvas 1961 -- buku koleksi lukisan Bung
Lukisan Chris Suharso, Fishing Boats, oil on canvas 1961 — buku koleksi lukisan Bung

Bagi dunia seni rupa Indonesia nama Chris Suharso, tak asing ditelinga publik. Lelaki kelahiran 1931 dan meninggal tahun 1999 itu bukan hanya mewakili generasi pelukis yang banyak menekuni medium pastel, cat air dan minyak, tetapi juga mencerminkan kisah perjumpaan kebudayaan, sejarah politik, dan pergulatan identitas. Suharso mengarungi perjalanan hidup yang kompleks yang kemudian membentuk sensibilitas visualnya yang lembut, jernih, sekaligus sarat pengalaman batin.

Awal 1960-an, bakatnya mulai mencuri perhatian publik seni di Jakarta. Pada tahun 1963, ia bahkan dilibatkan pelukis penting Indonesia Lee Man Fong untuk membantu penyelesaian lukisan monumental Margasatwa dan Puspita Indonesia di Hotel Indonesia dan pembuatan buku koleksi Presiden Sukarno. Dua lukisannya bertajuk Perahu Nelayan (1961) dan Kitanan (1961) masuk ke dalam buku koleksi Presiden Sukarno (Tokyo, 1964). Ini semua merupakan proyek prestisius yang dipatronase langsung Presiden Sukarno.

Lukisan Chris Suharso Kitanan, oil on board,  1961
Lukisan Chris Suharso Kitanan, oil on board, 1961

Dari catatan kurator dapat disimak, melalui karya-karya Chris Suharso yang memadukan teknik Impresionisme dengan sensibilitas spiritual dan landskap Nusantara, kita melihat peluang untuk menegaskan kontribusi Indonesia terhadap wacana seni dunia, terutama menyangkut cara melihat, memaknai, dan mengolah pengalaman visual tropis.

1961, Suharso mengembangkan hubungan batin dengan Bali. Ia kerap tinggal di Mumbul Inn, Ubud, berkawan dengan tokoh-tokoh seperti Antonio Blanco dan Arie Smit, serta melakukan perjalanan visual yang intens ke berbagai sudut pulau tersebut. Bali bukan hanya “lokasi” bagi Suharso–melainkan ruang spiritual, sumber estetika, dan cermin bagi perenungan kosmisnya. Dari ribuan foto yang diambil dan puluhan sketsa lapangan, ia pulang membawa inspirasi yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya besar, seperti Sabung Ayam (1960), Mengadu Ayam (1964), Odalan (1989), yang memperlihatkan kepekaannya terhadap ritme ritual, cahaya, dan kebersahajaan hidup sehari-hari.

Praying for Bountiful Harvest, 1992
Praying for Bountiful Harvest, 1992

Konsep pameran ini berangkat dari gagasan bahwa karya-karya Chris Suharso tidak hanya mengandung keindahan visual, akan tetapi juga menyimpan potensi pembacaan pascakolonial yang mendalam. Pendekatan pascakolonial secara sederhana adalah cara memahami karya seni, budaya, atau sejarah dengan melihat bagaimana pengalaman kolonial–penjajahan, ketimpangan kekuasaan, dan dominasi budaya Barat–yang masih memengaruhi cara kita melihat dan menggambarkan dunia. Pendekatan ini berusaha membaca narasi tentang masyarakat yang pernah dijajah menegosiasi, menolak, atau mengubah cara pandang kolonial tersebut, lalu menciptakan suara dan perspektif (mereka) sendiri. Dengan kata lain, pascakolonial adalah upaya untuk merebut kembali cara melihat, agar budaya lokal tidak lagi dipahami melalui kacamata Barat, tetapi melalui pengalaman, nilai, dan sensibilitas yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri.

Di ujung hayat sebagai pelukis, ia pernah melukis sebuah karya bertajuk Ambil Air Suci. Lukisan ini dikerjakan 1998, tepat setahun sebelum meninggal. Lukisan ini tampak sebagai tanda kenangan yang sangat pribadi. Sekaligus bagi keluarga, lukisan ini seperti menandai Chris Suharso–yang saat itu telah berusia 67 tahun–tengah mempersiapkan diri menghadap Sang Pencipta. Di dalamnya, ada nilai kesucian, sejarah, dan spiritualitas yang terasa dan sangat penting untuk dicatat. Inilah salah satu impresi yang penting dari lukisan Suharso.

Dalam rentang kariernya, ia menyelenggarakan sedikitnya sepuluh pameran tunggal di Jakarta, termasuk pameran pertamanya di Balai Budaya pada 1965. Pada tahun 2014, warisannya dirayakan melalui buku dan pameran The Tranquil World of Chris Suharso. Kita tahu, sebuah buku adalah sebuah penegasan bahwa dunia seni rupa Indonesia mengenang dirinya sebagai pelukis yang jernih, meditatif, tetapi menyimpan kedalaman pengalaman historis yang tak selalu tampak di permukaan.

Karena itu, pada pameran di Art : 1 New Museum Jakarta ini bertujuan untuk membuka kembali pembacaan terhadap karya-karya Suharso, khususnya melalui kacamata teori pascakolonial, yang memberi ruang bagi interpretasi baru terhadap cara ia melihat–dan membuat kita melihat—dunia,” ujar Mikke Susanto memaparkan. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.