Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi salah satu sorotan dalam acara penandatanganan Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu momen diplomasi penting Indonesia dalam kancah global.
Penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian berlangsung di Congress Hall Davos pada Kamis siang waktu setempat. Prabowo berada di barisan pemimpin dunia yang dipanggil maju untuk menandatangani dokumen tersebut di samping Trump dan sejumlah kepala negara lain.
Saat sesi penandatanganan berlangsung, Trump sempat memberikan salam hangat kepada para pemimpin yang hadir. Dalam momen itu, hubungan diplomatik antara Trump dan Prabowo tampak akrab meskipun keduanya datang dari latar politik yang berbeda.
Dalam rekaman momen tersebut, Trump bahkan menepuk pundak Prabowo dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán sambil menyebut keduanya sebagai “pria yang tangguh”, sebuah ungkapan yang menarik perhatian media internasional.
Interaksi antara Prabowo dan Trump tersebut kemudian menjadi viral di media sosial setelah video pendeknya dibagikan oleh sejumlah akun berita global. Reaksi publik beragam, namun sebagian besar melihatnya sebagai tanda diplomasi yang positif antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Penandatanganan piagam ini menandai keterlibatan Indonesia sebagai salah satu founding members Dewan Perdamaian yang bertujuan mendukung upaya perdamaian di wilayah konflik, khususnya Gaza, Palestina. Indonesia menjadi satu‑satunya negara dari Asia Tenggara yang hadir langsung dalam momen bersejarah itu.
Prabowo menyampaikan bahwa keterlibatan Indonesia bukan sekadar simbolis, tetapi mencerminkan komitmen nyata dalam mengurangi penderitaan rakyat Gaza dan mendukung penyelesaian konflik. Ia berharap langkah ini bisa membuka peluang perdamaian yang lebih luas.
Menurut Menteri Luar Negeri Sugiono, partisipasi Indonesia di Dewan Perdamaian menunjukkan pengakuan terhadap peran diplomasi Indonesia di tingkat global dan komitmen negara ini terhadap tanggung jawab kemanusiaan.
Meski begitu, langkah bergabung dengan Dewan Perdamaian juga memicu berbagai respons di dalam negeri. Beberapa pihak mendorong kehati‑hatian agar prinsip dasar kemerdekaan Palestina tetap dijunjung tinggi dalam mekanisme kerja badan internasional tersebut.
Di sisi lain, dukungan terhadap keputusan pemerintah datang dari sejumlah kalangan, termasuk Komisi I DPR RI, yang menilai bahwa langkah ini merupakan strategi penting untuk menegaskan peran Indonesia dalam diplomasi dan perdamaian internasional.
Acara penandatanganan ini bukan hanya sekadar formalitas diplomatik, tetapi juga menjadi panggung bagi pemimpin dunia untuk mempertegas visi mereka tentang pencapaian perdamaian global. Diplomasi seperti ini diharapkan dapat membuka jalur dialog baru antara berbagai pihak yang berkepentingan di kawasan konflik.
Momen Trump dan Prabowo berdampingan di Davos kemudian menjadi salah satu cerita utama di Forum Ekonomi Dunia 2026, yang mencerminkan dinamika hubungan internasional di tengah upaya bersama mengakhiri konflik panjang di berbagai belahan dunia.(*)
