Oleh: Fitri Novyanti
Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Selamat Sri
SEMANGATNEWS.COM – Profesi akuntan sering kali dipersepsikan sebagai pekerjaan yang identik dengan angka, laporan keuangan, dan ketelitian tinggi. Namun, di balik angka-angka tersebut terdapat manusia yang memiliki emosi, tekanan, dan keterbatasan psikologis. Dalam praktiknya, akuntan tidak hanya dituntut untuk akurat, tetapi juga cepat dalam mengambil keputusan, terutama ketika menghadapi tenggat waktu, target organisasi, dan tekanan dari atasan. Kondisi inilah yang kerap memicu stres kerja, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan akuntan.
Dalam perspektif akuntansi keperilakuan, stres kerja menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan karena keputusan akuntansi bukanlah hasil dari proses yang sepenuhnya rasional, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis individu.
Stres kerja dapat didefinisikan sebagai kondisi tekanan fisik dan mental yang muncul ketika tuntutan pekerjaan melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Dalam dunia akuntansi, sumber stres dapat berasal dari berbagai hal, seperti beban kerja yang tinggi, tenggat waktu yang ketat, tuntutan akurasi yang tinggi, serta tekanan untuk memenuhi target kinerja organisasi.
Akuntan sering berada dalam posisi dilematis, di mana mereka harus menjaga kepatuhan terhadap standar akuntansi sekaligus memenuhi ekspektasi manajemen. Tekanan yang terus-menerus ini dapat menyebabkan kelelahan mental (burnout), menurunkan konsentrasi, dan mengganggu objektivitas dalam bekerja.
Dalam kondisi ideal, pengambilan keputusan akuntansi dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan data dan standar yang berlaku. Namun, ketika akuntan berada dalam kondisi stres, kemampuan kognitif seperti berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mempertimbangkan risiko dapat menurun.
Akuntansi keperilakuan menjelaskan bahwa stres kerja dapat mendorong individu untuk mengambil jalan pintas dalam berpikir (heuristik), mengabaikan informasi penting, atau bahkan melakukan kesalahan dalam penilaian. Akuntan yang mengalami stres tinggi cenderung lebih mudah terpengaruh oleh tekanan atasan dan lebih berisiko melakukan keputusan yang kurang etis atau tidak optimal.
Selain itu, stres juga dapat menyebabkan sikap defensif, seperti menghindari tanggung jawab atau menunda pengambilan keputusan. Hal ini tentu berdampak pada kualitas laporan keuangan dan kredibilitas profesi akuntansi secara keseluruhan.
Sebagai mahasiswa akuntansi, fenomena stres kerja dalam profesi akuntan menjadi hal yang patut diperhatikan sejak dini. Tekanan akademik seperti tugas, ujian, dan tenggat waktu dapat menjadi gambaran awal dari tekanan yang akan dihadapi di dunia kerja. Oleh karena itu, pemahaman mengenai aspek keperilakuan dalam akuntansi menjadi sangat penting.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menjadi akuntan yang berkualitas. Kemampuan mengelola stres, menjaga integritas, dan mengambil keputusan secara bijak merupakan bagian dari kompetensi profesional. Dengan memahami hubungan antara stres kerja dan kualitas pengambilan keputusan, calon akuntan diharapkan mampu bersikap lebih adaptif dan etis ketika menghadapi tekanan di lingkungan kerja.
Sehingga stres kerja merupakan realitas yang tidak terpisahkan dari profesi akuntan. Dalam perspektif akuntansi keperilakuan, stres kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pengambilan keputusan akuntan. Tekanan yang berlebihan dapat menurunkan objektivitas, meningkatkan risiko kesalahan, dan memengaruhi perilaku etis dalam praktik akuntansi.
Oleh karena itu, penting bagi organisasi dan individu akuntan untuk memperhatikan aspek psikologis dalam lingkungan kerja. Bagi mahasiswa akuntansi, pemahaman ini menjadi bekal penting agar kelak mampu menjadi akuntan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga sehat secara mental dan profesional dalam mengambil keputusan.
