Pameran Tunggal Angki Purbandono Berjudul “Berbunga-bunga” Tampil Menghipnotis Mata Pengunjung di Art Hub Ranuza, Jakarta Pusat

by -
Pameran Tunggal Angki Purbandono Berjudul “Berbunga-bunga” Tampil Menghipnotis Mata Pengunjung di Art Hub Ranuza, Jakarta Pusat
Pameran Tunggal Angki Purbandono Berjudul “Berbunga-bunga” Tampil Menghipnotis Mata Pengunjung di Art Hub Ranuza, Jakarta Pusat

JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Sedikitnya 108 panel berisikan 73 jenis bunga sebagai medium ingatan, simbolisasi dan refleksi personal dan komunal mewarnai pameran tunggal Angki Purbandono (54 th) berlangsung sejak 7 Februari kemarin sampai 5 April 2026 di Jakarta Art Hub Ranuza Lantai 2, Jalan Timor Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat.   

Pameran tunggal berjudul “Berbunga-Bunga” tersebut bagi angki yang berangkat dari persoalan spritual untuk mendoakan orang tua di pusara, bunga menjadi jembatan kenangan bahkan perayaan kehidupan. Melalui proses artistik dan unik, bunga bunga yang ditemui Angki mampu mengungkapkan lapisan lapisan makna yang tak hanya bersifat pribadi, tetapi juga mengakar sebagai aksi dokumentasi sains sekaligus penarasian alam budaya nusantara yang kaya.

Diantara bunga karya Angki Purbandono di ruang pameran Berbunga bunga
Diantara bunga karya Angki Purbandono di ruang pameran Berbunga bunga

Kurator pameran “Berbunga bunga” Mikke Susanto di sela sela kesibukan pembukaan pameran, Sabtu 7 Februari 2026 lalu kepada semangatnews.com, membahasakan secara simbolik bahwa ; bagi Angki membaca bunga sebagai teks yang bergerak dinamis (mulai dari kuncup hingga layu) yang menantang kita memahami bunga di tengah relasi sosial, sejarah seni juga mengungkap suka cita dan rasa bangga atas hubungannya dengan alam, tumbuhnya empati, sekaligus membuka ruang kritis terhadap upaya manusia memperlakukan alam.

Bunga bukan sekedar obyek karya secara pasif, tetapi agen yang mendorong kita untuk menghormati kehidupan – baik yang rapuh maupun tangguh – yang labil dan stabil, yang maya maupun nyata, ujar Mikke Susanto kurator yang juga dosen ISI Yogyakarta itu memaparkan di sela sela kerumunan pengunjung pameran.

Pelukis Angki tengah mendengar apresiasi salah anak terhadap karyanya saat pembukaan pameran Berbunga bunga
Pelukis Angki tengah mendengar apresiasi salah anak terhadap karyanya saat pembukaan pameran Berbunga bunga

Dalam catatan kita, sepanjang lebih dari 2 dekade Angki Purbandono telah hadir dalam babak penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia kontemporer. Ia menjadikan mesin pemindai (flatbed scanner) sebagai instrumen penciptaan, menciptakan teknik yang unik. Memindai kehidupan dengan cara yang sangat harfiah sekaligus metaforis : menyalin cahaya, menangkap waktu, dan membingkai kesementaraan dalam bentuk digital simbolik.

Pameran yang digelar di SAL Project Jakarta ini, menghadirkan bunga sebagai medium ingatan dan refleksi spiritual yang berangkat dari pengalaman personal—mendoakan orang tua yang telah tiada– memandang bunga sebagai jembatan antara kenangan dan kehadiran. Setiap bunga yang ia pindai bukan sekadar objek visual, tetapi representasi dari momen yang sunyi dan sakral : ketika doa, kehilangan, dan cinta berpadu dalam satu napas.

Bunga Kamboja Kelopak 10 diantara karya Angki pameran Bunga berbunga
Bunga Kamboja Kelopak 10 diantara karya Angki pameran Bunga berbunga

Pada teknik scanografi, bunga-bunga Angki Purbandono tampak seolah melayang dalam ruang hampa, gelap, sepi, tetapi penuh cahaya dari dalam. Keindahan itu muncul bukan karena keanggunan bunga semata, melainkan karena kehadiran waktu yang berhenti. Tepat waktu.

Proses ini seperti “ritual kecil”: memindai kehidupan, menyimpan kesementaraan, dan mengabadikan sesuatu yang hampir lenyap.

Bagi Angki Purbandono, bunga bukanlah benda pasif. Ia adalah teks yang terus tumbuh. Bergerak dari kuncup hingga layu, dari musim ke musim, dari zaman ke zaman silih berganti. Dengan pemindaian yang presisi, Angki sesungguhnya menggabungkan tiga dunia : sains, emosi, dan spiritualitas.

Hal yang terpenting pula kehadiran bunga lebih dari sekadar keindahan yang memanjakan mata, menyimpan lapisan makna mendalam yang telah terjalin erat dengan budaya manusia selama berabad-abad. Karena bunga telah lama digunakan sebagai sarana komunikasi non-verbal, sebuah bahasa bunga yang memungkinkan orang untuk menyampaikan perasaan dan pesan tanpa kata-kata. Simbolisme bunga seringkali bersifat universal, namun juga dapat bervariasi tergantung pada budaya dan tradisi lokal bermuatan seperangkat nilai nilai di dalamnya.

Karya-karya Angki Purbandono yang kini dipajang bisa dibaca sebagai dokumentasi ilmiah–mengarsipkan bentuk dan struktur bunga dengan detail mikroskopik. Di sisi lain, ia memperlakukan bunga sebagai entitas spiritual, sebagai perantara antara manusia dan alam, antara yang fana dan yang abadi. Teks inilah menjadi elemen penting dalam melihat tema pameran ini, jelas Mikke.

“Harapan dan prestasi yang ingin kucapai dari karya-karya ini adalah menjadi peseni yang menyimpan apapun yang ada dan dekat di lingkungan sekitarku, paham merawat sekaligus tulus memberi warisan kepada generasi berikutnya atau keluargaku sendiri tentang cara bekerja, cara menyimpan, dan cara berpikir kreatif seperti seorang seniman yang juga pengarsip,” ungkap Angki Purbandono kepada pengunjung pameran.

Angki Purbandono merupakan salah satu seniman terkemuka Indonesia dari Yogyakarta. Ia terkenal karena scanographies, gambar fotografi yang dibuat dari pemindaian objek menggunakan pemindai gambar flat-bed. Scan art sudah ada sejak lama, tetapi pendekatan yang unik dan bukannya tanpa kecerdasan dan pernyataan sosial. Karya-karyanya mampu melampaui batas fotografi dalam ruang lingkup seni rupa.

Angki Purbandono telah berpartisipasi dalam banyak pameran dan Asian Artist Fellowship, Changdong Art Studio, Korea Selatan (2005-2006), Pameran LIVE dan LET LIVE: Creators of Tomorrow, 4th Fukuoka Asian Triennale (2009), Jakarta Biennale XIII 2009 ARENA : Zona Pertarungan, Jakarta (2009) dan Bangkok Art Biennale (BAB18), Bangkok, Thailand (2018).

Kemudian Pameran tunggalnya, 2 Folders from Fukuoka, Fukuoka Asian Art Museum, Fukuoka, Japan (2010), Grey Area Bangkok University Gallery, Bangkok, Thailand (2017 dan pamerannya saat ini. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.