Catatan : Muharyadi
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Hampir 32 (tiga puluh dua tahun) tidak bertemu sejak menyelesaikan pendidikan di jurusan Grafis Komunikasi SMSR (SSRI/SMKN 4 Padang) 1994 silam, lelaki paruh baya Zulfi Hendri, kelahiran Surian, Solok Selatan, Sumatera Barat 25 September 1975 silam sejak awal 2025 menjadi salah seorang guru besar di Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) yang dikukuhkan bersamaan enam guru besar lainnya.
Bahkan, bukan hanya sebagai guru besar, Zulfi Hendri pun sejak 2025 hingga 2030 mendatang menduduki jabatan baru sebagai Dekan Fakultas Bahasa, Seni dan Budaya UNY Yogyakarta bersama tiga wakilnya ; Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd bidang akademik, kemahasiswaan dan alumni, Dr. Ari Purnawan S.Pd, M.Pd, MA, Bidang Perencanaan, Keuangan, Umum dan Sumber Daya dan Dr. Dra. Heni Kusumawati, M.Pd, bidang riset, kerjasama, sistim informasi dan usaha.

“Rasanya belum lama Zulfi Hendri menyelesaikan pendidikan di SMSR Negeri Padang persisinya tahun 1994 lalu, kemudian melanjutkan pendidikan S1 di UNY, berlanjut Program studi Penciptaan dan Pengkajian Seni S-2 ISI Yogyakarta, serta Pendidikan Seni S-3 Universitas Negeri Semarang, justru sekarang telah menjadi salah seorang guru besar dan benar benar melesat kariernya, ujar sejumlah guru guru di sekolah seni rupa berbasis budaya, kelurahan Cangkeh, Lubuk Begalung, Padang kepada Semangatnews.com, Senin (02/03/26).
Masih segar dalam ingatan Zulfi, demikian teman teman seangkatan memanggilnya semasa di SMSR (SMKN 4) Negeri Padang sejak menempuh pendidikan terlihat senantiasa tekun dan kreatif menghadapi setiap bidang kompetensi demi kompetensi yang diikutinya di jurusan Grafis Komunikasi. Karena pada jurusan Grafis Komunikasi merupakan suatu bentuk proses penyampaian pesan kepada publik melalui media gambar yang senantiasa memperhatikan teks, ilustrasi grafis, warna yang dihasilkan.
Di dalam kompetensi Grafis Komunikasi proses penyampaian lambang-lambang yang mengandung pengertian tertentu kepada publik melalui media cetak. Termasuk komptensi pendukungnya dan bidang studi umum dengan perolehan nilai nilai terbaik semasa di kelasnya.
Kegigihan Zulfi Hendri menekuni pendidikan di sekolah menengah tersebut, tak sia sia. Ia pun sekaligus merupakan guru besar pertama yang embrionya bermula dari sekolah seni rupa berbasis seni budaya di Padang. Menyusul kemudian guru besar kedua juga alumni SMSR Negeri Padang angkatan 1982 diraih Prof. Dr. Dra. Farida Mayar, M.Pd dosen FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) Universitas Negeri Padang melalui orasi ilmiahnya ; “Kreativitas Anak Usia Dini dalam Pembelajaran Seni Rupa” melalui sidang terbuka Universitas Negeri Padang, sebagaimana pernah dirilis Semangatnews.com, 22/10/25.
Dalam suatu kesempatan sebagai tim asesor dalam rangka asesmen lapangan di kampus FBS UNP Padang belum lama ini Zulfi Hendri kepada Semangatnews.com, mengaku tetap konsisten dengan dunia pendidikan seni rupa yang diampunya yang dimulai dipelajarinya sejak di sekolah menengah berlanjut ke S1, S2, S3 bahkan hingga memperoleh guru besar.
Humanisme dan Literasi Visual Kurikulum Pendidikan Seni Rupa di Perguruan Tinggi
Menurut Zulfi Hendri, di orasi ilmiahnya pengukuhan guru besar UNY Yogyakarta menyebutkan bahwa ; Konsep humanisme dan post-humanisme yang dianggap baru dalam perbincangan wacana pendidikan kontemporer, sejatinya bukanlah hal baru ketika ditinjau dari lensa falsafah pendidikan bangsa Indonesia.
Konsep ini telah lama tercermin dalam prinsip hidup dan pendidikan bangsa, misalnya dalam falsafah Memayu Hayuning Bawana di Jawa, dan Alam Takambang Jadi Guru di Sumatera Barat. Memayu Hayuning Bawana berarti “menjaga alam agar tetap indah”.
Falsafah ini menekankan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan fisik serta spiritual (pelestarian alam) demi terciptanya harmoni dan kesejahteraan bersama. Sementara itu, Alam Takambang Jadi Guru merupakan falsafah Minangkabau yang berarti “alam terbuka menjadi guru” yang meyakini bahwa alam merupakan guru kehidupan sehari-hari manusia. Karena alam tidak hanya sekadar tempat hidup manusia, tetapi juga mengajari lewat pengalaman, nilai-nilai hidup, dan keselarasan. Pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan pendidikan formal. Alam dan kehidupan sehari-hari dapat menjadi guru terbaik.
Pada falsafah ini mengajarkan bahwa alam merupakan sumber pembelajaran utama, di mana manusia dapat mengambil hikmah dan nilai adab dari fenomena alam untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua falsafah ini mencerminkan prinsip-prinsip humanisme atau post-humanisme yang menekankan kesetaraan dan interkonektivitas antara manusia dan alam. Penerapan falsafah-falsafah tersebut dalam pendidikan dapat mendorong kesadaran ekologis dan etis yang selaras.
Karena itulah, Roh pendidikan humanisme atau post-humanisme ini perlu dihidupkan kembali ke dalam kurikulum pendidikan seni rupa dan program studi lainnya di perguruan tinggi melalui pendekatan multidisipliner berbasis nilai kebebasan, keadilan, dan solidaritas untuk mengurangi kerusakan dan penderitaan sesama manusia maupun alam semesta. Program studi Future Studies di Western Michigan University menjadi salah satu prodi yang telah menerapkan konsep ini (“Humanistic Future Studies Program,” 1983).
Program studi Future Studies mendorong mahasiswa terlibat dalam proyek kolaboratif untuk mengeksplorasi isu global, termasuk lingkungan dan keadilan sosial, dengan fokus pada solusi inovatif.
Program ini mendorong aksi nyata menuju masyarakat yang berkelanjutan dan harmonis. Pendekatan serupa juga diupayakan Chappell dkk. (2023) dengan menekankan penerapan pembelajaran berbasis proyek (PBL) melalui pendekatan posthumanisme guna mengatasi tantangan neoliberalisasi pendidikan tinggi. Chappell dkk (2023) menyoroti pentingnya integrasi materialitas, keberbadan, etika, dan keadilan sosial dalam pembelajaran, sambil memanfaatkan metodologi difraktif untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan etis.
Melalui redesain modul ajar yang berfokus pada isu-isu kompleks seperti gender dan kekerasan, pendekatan ini menawarkan cara baru untuk memahami dan mengatasi tantangan pendidikan global. Dengan demikian, konsep pendidikan humanisme dapat menjadi kerangka yang relevan untuk memperluas dampak pendidikan tinggi menuju transformasi sosial yang lebih adil dan berkelanjutan, ujar Zulfi.
Mengintegrasikan humanisme dan literasi visual dalam pendidikan seni rupa di perguruan tinggi adalah langkah yang sangat strategis. Keduanya saling melengkapi dalam mencptakan pengalaman belajar yang lebih holistikk dan bermakna. Pendekatan humanistikk dalam pendidikan seni rupa memungkinkan mahasiswa untuk melihat seni sebagai bentuk ekspresi yang mencerminkan pengalaman kemanusiaan mereka, sementera literasi visual memberikan alat untuk memahami dan mengomunikasikan pesan pesan tersebut.
Humanisme dalam perspektif pendidikan dipahami menjadi kerangka “back to the future”, artinya ditinjau secara diakronik maupun sinkronik, sehingga humanisme dan pengaruhnya dalam sains modern pada konteks kemanusiaan dapat diketahui dengan baik (Sugiharto; 2008).
Dalam pandangan humanistik belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, tetapi juga sebuah proses dalam diri individu terhadap seluruh domain yang ada (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 142).
Orientasi belajar dalam pembelajaran seni rupa harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri (Uno, 2006: 63). Dengan demikian, belajar seni rupa tidak hanya sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of value, sehingga siswa mampu memecahkan masalah sendiri dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Literasi Visual Pendidikan Seni Rupa
Menciptakan gambar bermakna dan literasi visual (kemampuan membaca gambar) menjadi salah satu standar dalam abad ini (Nurannisaa, 2017:52). Dalam konteks seni rupa kegiatan menggambar dan membaca gambar masuk dalam konsep kreasi seni dan apresiasi. Kreasi seni merupakan aktivitas berkarya seni yang hasil karyanya disebut sebagai ungkapan ekspresi dan buah pikirannya.
Sedangkan Apresiasi seni disebutkan sebagai aktivitas mengeindera atau melihat, mengamati, menghayati, memahami serta menangkap nilai keindahan dan kaidah artistik dari karya seni (Sunarto & Suherman, 2017).
Proses penginderaan dalam apresiasi seni terlibat dalam pemahaman (persepsi) dan refleksi terhadap pengalaman (Rondhi, 2017, p. 16). Dengan demikian literasi visual menjadi sangat penting menjadi bagian dalam pembelajaran seni rupa.
Literasi visual mengacu pada kemampuan untuk tidak hanya “melihat” gambar atau karya seni, tetapi juga untuk “memahaminya” dalam berbagai konteks baik itu estetika, sosial, atau budaya. Literasi visual adalah alat yang sangat penting dalam pendidikan seni rupa, di mana mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk menciptakan karya seni, tetapi juga untuk mengkritisi dan memahami karya seni serta pesan yang dikandungnya.
Namun, implementasi literasi visual dalam pendidikan seni rupa juga dihadapkan pada beberapa tantangan. Salah satu yang paling mendasar adalah ketidakmerataan penguasaan teknologi dan keterampilan literasi visual di kalangan mahasiswa dan dosen. Seiring dengan kemajuan teknologi digital, mahasiswa seni rupa di perguruan tinggi perlu diberi fasilitas dan pelatihan untuk memanfaatkan teknologi dalam menciptakan dan mengkritisi karya seni.
Terlepas dari tantangan tersebut, bidang pendidikan telah mengadopsi literasi visual sebagai keterampilan penting. Wolf (1989) menyoroti perannya dalam mengembangkan hubungan spasial, persepsi visual, dan kesadaran estetis dalam seni.
Demikian pula, Allen (1994) menyarankan bahwa literasi visual menggabungkan pengetahuan dan imajinasi, memungkinkan individu untuk “membaca dan menulis” melalui gambar, yang mencerminkan literasi verbal. Ausburn & Ausburn (1978) memperkuat gagasan ini dengan mendeskripsikan visual sebagai sebuah bahasa yang memiliki kosakata, tata bahasa, dan sintaksis, di mana elemen seperti warna, cahaya, dan komposisi membentuk pesan visual.
Menurut suami dari Sri Binaliwari, A.Md, dan ayah Miftah Okta Berlian S.Stat dan Zalfa Artsa Berlian menyebutkan bahwa ; kerangka linguistik mendukung pengintegrasian literasi visual ke dalam program pendidikan, dengan menekankan pentingnya literasi bagi guru dan siswa di semua tingkat pendidikan. Lebih jauh lagi, literasi visual melampaui pendidikan formal, memungkinkan individu untuk menavigasi dan menafsirkan dunia visual, sekaligus mendorong pemikiran kritis dan ekspresi diri (Kleinbauer, 1987).
Pengakuan yang semakin besar terhadap literasi visual menegaskan relevansinya dalam lingkungan pembelajaran kontemporer, di mana literasi ini terhubung dengan teori kognitif dan multimedia untuk menjawab berbagai gaya belajar (Aisami, 2015), ujar Zulfi memberi ilustrasi. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Guru Purnabhakti SMSR (SMKN 4 Padang, Seniman dan Jurnalis

