Jakarta, Semangatnews.com – Amerika Serikat resmi mengerahkan pesawat pengebom strategis B‑52 Stratofortress dalam operasi militer terhadap Iran, menandai pertama kali bomber legendaris itu digunakan dalam konflik yang kini memasuki fase intensif. Aset udara berat ini dilaporkan terlibat dalam serangkaian serangan di bawah operasi yang dinamakan “Operation Epic Fury”.
Komando Pusat AS (United States Central Command atau CENTCOM) merilis fact sheet terbaru yang menyatakan bahwa pengerahan B‑52 dilakukan sebagai bagian dari kampanye udara luas yang dipimpin Washington bekerja sama dengan sekutu regional, termasuk Israel. Namun, pernyataan resmi tidak menjelaskan secara rinci waktu dan lokasi pasti bomber tersebut melakukan misi.
Pesawat B‑52 sendiri dikenal sebagai bomber strategis jarak jauh yang mampu membawa muatan amunisi besar dan melaksanakan serangan stand‑off dari jarak aman. Kemampuan dan daya jelajahnya membuat pesawat ini menjadi simbol kekuatan udara AS sejak era Perang Dingin.
Sebelumnya, militer AS sudah lebih dahulu menggunakan bomber siluman B‑2 Spirit dan bomber swing‑wing B‑1B Lancer dalam serangan terhadap berbagai target militer Iran. Pengerahan B‑52 mencerminkan eskalasi lanjutan dari operasi yang telah berjalan sejak 28 Februari 2026.
Menurut laporan CENTCOM, dalam 72 jam pertama sejak operasi diluncurkan, pasukan AS telah menggempur lebih dari 1.700 target di seluruh wilayah Iran. Target‑target tersebut mencakup instalasi militer, fasilitas pertahanan udara, serta titik komando dan kendali.
Skala serangan ini menunjukkan salah satu aksi militer terbesar yang pernah dilancarkan AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, Serangan tersebut berfokus pada pelumpuhan kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan dalam jangka pendek maupun menengah.
Meski begitu, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran terkait respons langsung terhadap penggunaan bomber berat AS dalam operasi ini. Laporan media kawasan sebelumnya menyampaikan bahwa Teheran terus bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan dari wilayahnya maupun dari sekutu regionalnya.
Keterlibatan B‑52 juga menarik perhatian para analis militer internasional, karena pesawat ini sejatinya tidak memiliki kemampuan stealth seperti B‑2. Namun, penggunaannya kemungkinan didukung oleh senjata jelajah jarak jauh (stand‑off missiles) yang memungkinkan serangan tanpa harus memasuki wilayah udara musuh.
Dampak serangan udara yang melibatkan berbagai platform militer seperti bomber, jet tempur, dan rudal jelajah memperlihatkan perubahan strategi AS dalam kampanye udaranya terhadap Iran. Alih‑alih hanya mengandalkan serangan presisi terbatas, operasi kini menunjukkan kombinasi kekuatan udara besar dan presisi serangan teknologi tinggi.
Beberapa pengamat menyatakan bahwa keberanian AS mengerahkan B‑52 ini mencerminkan niat Washington untuk “menekan” kemampuan militer Iran secara menyeluruh, sekaligus menunjukkan tekad politiknya dalam konflik yang semakin meluas.
Situasi ini masih terus berkembang, dan para pemimpin dunia serta pengamat internasional memperingatkan potensi meningkatnya ketegangan dan risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Semua pihak kini tengah mengamati setiap langkah militer maupun diplomatik dari kedua sisi.(*)

