Restorasi Siri’na Pacce : Kebudayaan Masyarakat Bugis-Makassar Yang Menjangkarkan Martabat di Arus Digital

by -
Restorasi Siri’na Pacce : Kebudayaan Masyarakat Bugis-Makassar Yang Menjangkarkan Martabat di Arus Digital
Andi Muhammad Alie

Oleh : Andi Muhammad Alief
Mahasiswa Pascasarjana Penciptaan Seni Musik ISI Yogyakarta

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Dunia di abad ke-21 tengah didera paradoks sosiologis yang akut. kita menyaksikan pengikisan fondasi kemanusiaan yang mengkhawatirkan atomisasi individu, degradasi etika digital, hingga hilangnya rasa malu dalam ruang publik.

Fenomena “kematian kepakaran” dan “banalisasi kejahatan” di media sosial menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan lurus dengan kematangan karakter.

Siri' na Pacce -- Foto : Andi Muhammad Alief --
Siri’ na Pacce — Foto : Andi Muhammad Alief —

Di tengah kegamangan identitas global ini, Filosofi Siri’ na Pacce  yang berasal dari kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, sebenarnya telah lama mewariskan “teknologi spiritual” yang melintasi zaman.Siri’ na Pacce, filosofi ini bukan sekadar artefak kebudayaan atau romantisme masa lalu, melainkan merupakan kompas moral yang mendesak untuk direstorasi di tengah badai modernitas yang kian mencerabut akar kemanusiaan kita. Secara ontologis, Siri’ na Pacce bekerja sebagai dialektika yang harmonis antara integritas personal dan solidaritas sosial.

Siri’ mencakup benteng martabat, ia merupakan mekanisme sensor internal yang mencegah manusia terjatuh ke dalam nista karena rasa malu yang positif (self-respect). Dalam struktur psikososial manusia Sulawesi Selatan, Siri’ adalah nyawa. Tanpanya, seseorang dianggap bukan lagi manusia seutuhnya (rupa-rupa tau).

Ia adalah rasa malu saat berkhianat pada janji, malu saat melakukan praktik korupsi, dan malu ketika harga diri digadaikan demi materi sesaat. Siri’ menuntut individu untuk berdiri tegak dengan prinsip, bukan karena takut pada hukum formal, melainkan takut pada penghakiman nurani sendiri.

Sementara, Pacce (atau Pesse dalam bahasa Bugis) hadir sebagai penyeimbang yang memperhalus ketegasan Siri’. Jika Siri’ bergerak pada sumbu vertikal integritas, maka Pacce bergerak pada sumbu horizontal kemanusiaan.

Ia adalah kecerdasan emosional kolektif ; sebuah kemampuan metafisik untuk merasa “pedih” atau “perih” di ulu hati saat melihat penderitaan sesama. Perekat yang mencegah masyarakat hancur menjadi sekumpulan ego yang saling memangsa juga disebut sebagai “Pacce”.

Dalam konteks ini, jika Siri’ adalah tegaknya eksistensi individu, maka Pacce adalah anyaman yang menyatukan individu antar individu tersebut dalam satu tubuh sosial yang utuh. Kini, relevansi nilai nilai do dalamnya melampaui sekat-sekat etnisitas dan menjadi jawaban atas tantangan global citizenship di era “ekonomi perhatian” (attention economy).

Kita hidup di masa di mana validitas diri sering kali hanya diukur dari angka followers, jumlah likes, dan virulensi konten. Dalam ketergesaan untuk menjadi relevan di ruang digital, banyak individu yang mengabaikan Siri’.

Ruang digital kita sering kali berubah menjadi rimba penghinaan tanpa filter, di mana fitnah dan caci maki dianggap sebagai komoditas demi engagement. Tanpa filter Siri’, manusia modern kehilangan rem darurat dalam berkomunikasi.

Mereka merasa aman di balik anonimitas layar gawai, lupa bahwa setiap karakter yang diketik membawa beban moral yang nyata.

Hilangnya Pacce di ruang publik tercermin dari sikap apatis terhadap ketimpangan sosial di depan mata. Kita sering menyaksikan fenomena komodifikasi penderitaan demi konten, atau yang populer disebut poverty porn.
Alih-alih membantu dengan tulus, kemalangan orang lain justru dijadikan latar belakang swafoto atau objek eksploitasi digital untuk mendulang simpati personal.

Ini adalah antitesis dari Pacce. Mengaktivasi kembali Pacce di era digital berarti menumbuhkan kembali empati radikal, sebuah kesadaran bahwa di balik algoritma yang dingin, masih ada denyut kemanusiaan yang hangat perlu dihormati dan dilindungi martabatnya.

Urgensi restorasi nilai ini juga menjadi jawaban atas krisis keteladanan dalam kepemimpinan dan birokrasi. Dalam diskursus politik modern, kita sering melihat praktik-praktik culas yang dilakukan tanpa rasa bersalah, asalkan tidak melanggar prosedur hukum tertulis.

Di sinilah letak kegagalan hukum jika tidak ditopang oleh etika. Siri’ memberikan standar yang lebih tinggi dari sekadar “legalitas” yang memberikan standar “moralitas”.

Seorang pemimpin yang menghayati Siri’ akan lebih takut pada noda nama baik dan sanksi sosial ketimbang kehilangan jabatan. Kepemimpinan berbasis Siri’ na Pacce akan melahirkan figur yang tidak hanya unggul secara kognitif-teknokratis, juga tajam secara nurani dan berkarakter.
Implementasi Siri’ na Pacce Menuntut Pergeseran Paradigma

Dalam dunia pendidikan, implementasi Siri’ na Pacce menuntut pergeseran paradigma. Saat ini, sistem pendidikan kita cenderung terobsesi pada capaian angka dan standarisasi kognitif. Akibatnya, integritas akademik seringkali dikorbankan melalui praktik plagiarisme atau kecurangan ujian demi nilai tinggi.

Restorasi Siri’ dalam institusi pendidikan berarti menanamkan kesadaran bahwa pengetahuan tanpa karakter adalah kekosongan yang berbahaya.

Mahasiswa dan pendidik harus memiliki “rasa malu” untuk mencuri ide orang lain dan memiliki “kepedihan” (Pacce) untuk melihat ilmu pengetahuan yang mereka miliki bermanfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar untuk menumpuk gelar di atas kertas.

Mengimplementasikan Siri’ na Pacce di abad ke-21 tentu tidak berarti kita harus bersikap konservatif, menutup diri, atau menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, ini adalah tentang bagaimana kita menjadi global secara kompetensi, namun lokal secara moral.

Kita memerlukan transformasi nilai tradisional sebagai perangkat lunak (software) yang mengoperasikan perangkat keras (hardware) modernitas. Budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai pertunjukan tari atau pakaian adat di hari seremoni tetapi harus menjadi sistem operasi yang mendikte bagaimana kita bertindak, berinteraksi, dan mengambil keputusan di tengah kompleksitas dunia modern. Transformasi ini dimulai dari lingkaran terkecil: keluarga dan komunitas.

Di Sulawesi Selatan, pengajaran nilai ini dilakukan melalui tuturan (pappasang) dan teladan nyata. Di era sekarang, ini bisa diterjemahkan ke dalam kurikulum literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga etika berjejaring yang bermartabat.

Kita harus mampu membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus berarti menjadi hampa. Kita bisa menjadi masyarakat yang maju secara ekonomi dan teknologi, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai makhluk yang memiliki budaya rasa malu. Perahu peradaban bangsa kita tidak boleh sekadar hanyut mengikuti arus globalisasi yang sering kali anonim, cair, dan tak bermoral.

Globalisasi tanpa nilai ibarat badai yang menghantam kapal tanpa kemudi. Siri’ na Pacce adalah jangkar dan layar bagi perahu tersebut. Siri’ sebagai jangkar yang menahan kita agar tetap berpijak pada bumi martabat, dan Pacce sebagai layar yang menangkap angin solidaritas untuk membawa kita bergerak maju bersama-sama.

Dengan menghidupkan kembali filosofi ini, kita mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa kemajuan sejati tidak boleh dibayar dengan kehilangan kemanusiaan. Kita bisa menjadi pemenang dalam persaingan dunia yang sengit tanpa harus menginjak kepala orang lain.

Kita bisa tetap bersinar di bawah lampu panggung global tanpa harus memadamkan cahaya orang lain. Menghidupkan Siri’ na Pacce berarti upaya untuk memastikan bahwa pembangunan bangsa tetap berpijak pada martabat dan empati, memastikan bahwa di masa depan, Indonesia dikenal bukan hanya karena pertumbuhan ekonominya, tetapi karena keteguhan karakternya yang melampaui zaman.

Catatan Redaksi :
Andi Muhammad Alief Praktisi dan Peneliti Seni Musik kini menempuh studi Pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Program Penciptaan Seni Musik, memiliki ketertarikan pada eksperimen musik, kajian seni pertunjukan dan tekun menelusuri rekam jejak kebudayaan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.