Oleh : Nurani Indah Pertiwi
Mahasiswa Seni Kriya Tekstil Pascasarjana ISI Yogyakarta
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia tidak hanya dipahami sebagai produk tekstil yang memiliki nilai estetis, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang diwariskan melalui praktik, pengalaman, serta interaksi sosial.
Pengetahuan mengenai batik tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga melalui proses praktik yang berlangsung secara langsung dalam lingkungan kerja para pengrajin.
Dalam perkembangannya, batik sebagai salah satu warisan dunia versi UNESCO yang cuma ada di Indonesia, ternyata cukup digemari masyarakat, baik di kalangan anak muda milenial, kalangan ibu-ibu rumah tangga bahkan kalangan kaum lelaki kini terus berkembang dengan banyaknya muncul batik kontemporer yang semakin dinamis.

Ruang belajar tidak lagi terbatas pada institusi pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi.
Tetapi juga telah merambah berbagai studio batik yang berperan sebagai ruang pembelajaran alternatif hingga memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara langsung melalui PKL.
Salah satu contoh ruang belajar diantaranya seperti Studio Tiyas Batik berlokasi di Jalan Bantul No. 16, Area Sawah, Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Studio milik Sakti Nugroho dan Tiyas Puji itu selain berfungsi menjadi tempat produksi batik tulis, batik cap, dan batik kontemporer, juga yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi tempat praktik bagi siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya Yogyakarta dan Solo.
Melalui PKL siswa diberi ruang untuk mempelajari proses produksi batik ; mulai merancang motif, teknik mencanting, proses pewarnaan, strategi pemasaran produk batik hingga bersinergi menjadi kegiatan “Link and match” (kesesuaian dan kesepadanan) antara lembaga pendidikan SMK melalui kurikulumnya dengan studio yang lebih melihat kondisi kekiniannya.

Keberadaan program praktik kerja lapangan di studio ini menunjukkan bahwa studio batik dapat berperan sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja dalam ekosistem batik kontemporer.
Melalui pengalaman langsung di ruang produksi, siswa tidak hanya mempelajari keterampilan teknis dalam pembuatan batik, tetapi juga memahami dinamika industri kreatif berbasis tradisi.
Dengan demikian, Studio ini sangat menarik untuk dikaji sebagai ruang belajar alternatif yang berkontribusi pada pengembangan pengetahuan serta keterampilan generasi muda dalam bidang kriya tekstil.
Studio Batik Sebagai Ruang Pembelajaran dan Ruang Produksi
Studio Tiyas Batik berada di kawasan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas seni kriya yang cukup aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lingkungannya berada di area persawahan menghadirkan suasana kerja yang relatif tenang, nyaman di alam terbuka. Secara sensorial, ruang ini menghadirkan pengalaman belajar yang khas melalui berbagai elemen proses produksi batik, seperti aroma “malam” yang dipanaskan, suara kompor kecil mencairkan lilin, serta visual kain-kain terbentang di atas gawangan.
Kesemuanya menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga atmosferik, sehingga siswa merasakan langsung lingkungan kerja pengrajin batik.
Dalam praktik produksinya, Studio menghasilkan beberapa jenis batik, antara lain batik tulis, batik cap, batik kontemporer dengan pendekatan visual lebih eksperimental. Keragaman jenis batik menjadikan studio tidak hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai ruang eksplorasi kreatif karena terdapat berbagai teknik dan gagasan visual dapat diuji.
Proses Pembelajaran Praktik di Studio Batik Berbeda Dengan Sekolah
Melalui PKL, siswa dapat menyaksikan secara langsung bagaimana proses produksi batik berlangsung dalam konteks industri kriya. Proses pembelajaran di studio batik bersifat langsung dan berbasis praktik. Berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas yang cenderung teoritis, pengalaman belajar di studio memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami setiap tahapan produksi batik secara nyata.
Tahap awal yang dipelajari adalah proses perancangan motif. Pada tahap ini siswa diperkenalkan pada cara merancang motif batik yang proporsional serta memahami komposisi visual pada kain. Setelah perancangan, siswa mempelajari teknik mencanting sebagai keterampilan utama pembuatan batik tulis.
Proses mencanting membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kontrol tangan yang baik. Bagi sebagian siswa, sensasi panas dari malam cair yang mengalir melalui ujung canting menjadi pengalaman baru yang menantang. Pada tahap awal, garis yang dihasilkan sering kali masih tidak stabil. Namun melalui latihan yang berulang, siswa mulai memahami ritme gerakan tangan serta teknik yang diperlukan untuk menghasilkan garis batik yang rapi dan konsisten.
Tahapan selanjutnya adalah proses pewarnaan kain batik. Teknik pewarnaan yang diajarkan di studio mencakup berbagai metode, seperti pewarnaan celup maupun teknik kombinasi warna yang lebih kompleks.
Pada tahap ini siswa belajar memahami hubungan antara warna, lapisan malam, serta proses pelorodan yang dilakukan untuk menghilangkan lilin setelah pewarnaan selesai.
Selain proses produksi, siswa juga diperkenalkan aspek pemasaran dan penjualan batik. Mereka belajar bagaimana produk batik dipresentasikan kepada konsumen, bagaimana menentukan harga produk, serta bagaimana memahami selera pasar dalam konteks batik kontemporer.
Proses pembelajaran di studio tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai mata rantai produksi hingga distribusi.
Narasi Pengalaman dan Dinamika PKL
Bagi banyak siswa SMK kriya tekstil, pengalaman menjalani PKL di studio batik menjadi bagian penting dalam proses belajar mereka. Di studio, siswa dapat berinteraksi langsung dengan pengrajin yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam membuat batik.
Interaksi tersebut memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara langsung melalui demonstrasi teknik, percakapan, maupun kebiasaan kerja sehari-hari.
Melalui pengalaman ini, siswa tidak hanya belajar mengenai teknik pembuatan batik, tetapi juga memahami batik sebagai praktik budaya yang memiliki nilai historis dan identitas.
Komparasi antara Pembelajaran Formal dan Studio Batik
Jika dibandingkan pembelajaran batik di sekolah, studio batik menawarkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Di sekolah, pembelajaran biasanya berlangsung dalam kerangka kurikulum dengan waktu praktik terbatas.
Sebaliknya, di studio siswa berhadapan langsung dengan realitas produksi batik, termasuk proses pemenuhan pesanan, pengaturan waktu produksi, serta standar kualitas produk.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa studio batik memiliki peran penting sebagai ruang belajar guna melengkapi pendidikan formal.
Studio Batik Sebagai Ekosistem Pengetahuan
Secara keseluruhan, Studio dapat dipahami sebagai bagian dari ekosistem pengetahuan batik yang terus berkembang. Studio tidak hanya memproduksi batik sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan antara pengrajin dan siswa.
Melalui kegiatan praktik kerja lapangan, siswa memperoleh pengalaman langsung sekaligus memahami dinamika industri kriya berbasis tradisi. Dengan demikian, studio batik memiliki peran penting strategis dalam mendukung keberlanjutan praktik batik di era kontemporer melalui proses pembelajaran yang bersifat praktis, kontekstual, dan berbasis pengalaman kekinian.
Bahkan dari pengalaman PKL ini bukan tidak mungkin akhirnya dapat menginspirasi para siswa untuk kemudian mengembangkan seni kriya batik kontemporer sebagai sarana pengembangan profesi yang sangat menjanjikan kelak di tengah tengah masyarakat setelah menyelesaikan pendidikannya yang pada gilirannya juga dapat membuka lapangan kerja baru untuk anak anak muda berbakat dalam seni batik. (*)
Catatan Redaksi
Nurani Indah Pertiwi, Kini mengikuti Kuliah di Pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Program Studi Seni Kriya Tekstil dan memiliki ketertarikan pada Seni Kriya Tekstil berbasis budaya Nasional

