By : Ridwan Syarif Dt.Mj Kayo
DHARMASRAYA, SEMANGATNEWS.COM – LEBARAN seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, hari di mana gema takbir menyatukan hati, bukan memisahkannya. Namun di 1447 Hijriah kali ini suasana itu terasa sedikit berbeda—ada yang hilang, ada yang terasa hambar. Bukan karena kurangnya hidangan, bukan pula karena sepinya silaturahmi, tetapi karena perbedaan sudut pandang dalam menetapkan 1 Syawal.
Di satu rumah, takbir telah berkumandang sejak malam. Di rumah lainnya, masih menahan diri, merasa Ramadhan belum usai. Jalanan yang biasanya serentak riuh dengan gema kemenangan, kali ini seperti terbagi dalam dua irama. Sama-sama mengagungkan Allah, tetapi dalam waktu yang berbeda. Suasana yang tak enak, seperti masakan yang tak terasa bumbu, kurang garam.
Pemerintah sebagai pemegang otoritas, masyarakat berharap, sangat berharap untuk mampu merajut perbedaan menjadi satu kesepahaman. Bukan untuk menghapus keyakinan, bukan pula untuk meniadakan metode, tetapi menghadirkan titik temu agar Lebaran dalam satu negara dapat dirayakan pada hari yang sama.
Masyarakat sesungguhnya tidak sedang menuntut keseragaman yang memaksa, melainkan kepastian yang menenangkan. Di tengah kehidupan yang sudah penuh dengan berbagai perbedaan, setidaknya pada hari kemenangan, rakyat ingin berdiri pada satu garis yang sama—bertakbir di waktu yang sama, bersujud di pagi yang sama, dan saling bermaafan tanpa sekat waktu.
Pemerintah memiliki ruang untuk itu. Melalui pendekatan ilmiah yang kuat, dialog lintas ormas yang tulus, serta kebijakan yang merangkul, bukan memukul. Hisab dan rukyat bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipertemukan dalam semangat ukhuwah. Jika komunikasi dibangun dengan hati yang jernih, perbedaan bukan lagi jurang, melainkan jembatan menuju kesepahaman.
Lebih dari itu, kehadiran negara dibutuhkan sebagai peneduh, bukan sekadar penentu. Keputusan yang lahir hendaknya tidak hanya berdasar pada data dan metode, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial—bagaimana perasaan umat, bagaimana keutuhan kebersamaan dijaga.
Selamat hari lebaran 1447 H bagi yang sudah merayakan pagi ini, Jum’at (20/3/2026) dan juga tentunya yang maaih menunggu datangnya 1 Syawal esok hari, Sabtu (21/3/2026)

