Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di tengah konflik besar yang melibatkan kawasan Timur Tengah. Pemerintah Iran disebut merasa berada di atas angin dan menetapkan “harga mahal” jika Amerika Serikat ingin melanjutkan perang secara terbuka.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel menjadi pemicu utama pecahnya perang terbuka dengan Iran.
Iran menegaskan bahwa setiap langkah militer lanjutan dari Amerika akan dibalas dengan konsekuensi besar, baik secara militer maupun ekonomi. Sikap ini menunjukkan kepercayaan diri Teheran dalam menghadapi tekanan Barat.
Para pejabat Iran menilai posisi mereka cukup kuat, terutama setelah berhasil melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke berbagai target strategis milik AS dan sekutunya di kawasan.
Tidak hanya itu, Iran juga mengisyaratkan bahwa biaya perang tidak hanya akan dirasakan di medan tempur, tetapi juga berdampak luas terhadap ekonomi global.
Konflik ini telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi dunia, terutama setelah terganggunya jalur vital seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global.
Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta perlambatan ekonomi di berbagai negara.
Di sisi lain, Amerika Serikat dikabarkan harus mengeluarkan biaya besar untuk mendukung operasi militernya, bahkan mencapai miliaran dolar dalam waktu singkat.
Kondisi ini memperkuat posisi tawar Iran yang memanfaatkan tekanan ekonomi global sebagai bagian dari strategi menghadapi konflik.
Pengamat menilai bahwa pernyataan Iran tentang “harga mahal” bukan sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa perang akan berdampak luas dan berkepanjangan.
Jika eskalasi terus berlanjut, konflik ini dikhawatirkan akan menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar dalam beberapa dekade terakhir dengan dampak global yang signifikan.(*)

