Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah gagal bertahan di level psikologis 7.000 dan cenderung bergerak di zona merah pada awal pekan April 2026.
Pada perdagangan terbaru, IHSG tercatat melemah dan ditutup di kisaran 6.989 atau turun sekitar 0,53 persen. Level ini menunjukkan bahwa tekanan pasar masih cukup kuat dan belum mereda sepenuhnya.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat mencoba kembali ke level 7.000. Namun, tekanan jual yang konsisten membuat indeks gagal menembus batas psikologis tersebut.
Level 7.000 kini dinilai sebagai titik krusial yang menentukan arah pergerakan pasar dalam jangka pendek. Selama belum mampu ditembus, IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif.
Tekanan terhadap IHSG tidak terjadi secara merata di semua sektor. Sektor infrastruktur menjadi salah satu pemberat utama yang menyeret indeks ke zona negatif.
Di sisi lain, sektor konsumer primer justru menjadi penopang dengan mencatat penguatan, menunjukkan adanya pergeseran aliran dana ke sektor yang lebih defensif.
Selain faktor sektoral, tekanan eksternal juga memainkan peran besar. Ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, membuat investor cenderung berhati-hati.
Kondisi tersebut turut berdampak pada nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS, menambah tekanan pada pasar saham domestik.
Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global juga menjadi faktor yang membebani pasar keuangan, termasuk IHSG.
Secara teknikal, analis menilai IHSG berpotensi kembali menguji level support di kisaran 6.930 jika tekanan berlanjut dalam waktu dekat.
Meski demikian, pergerakan pasar tidak sepenuhnya menunjukkan kepanikan. Aktivitas transaksi tetap tinggi, menandakan masih adanya minat investor meski dalam kondisi selektif.
Dengan berbagai sentimen yang membayangi, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi dalam waktu dekat, sambil menunggu kepastian arah dari kondisi global dan domestik.(*)

