Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah diprediksi memiliki peluang menguat dalam jangka menengah hingga panjang, namun kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat pergerakannya tetap berisiko tinggi.
Sejumlah analis menilai ada beberapa indikator yang mendukung potensi penguatan rupiah ke depan. Faktor fundamental ekonomi Indonesia disebut masih cukup solid untuk menopang stabilitas mata uang.
Meski demikian, tekanan jangka pendek masih membayangi. Likuiditas global yang ketat dan kebutuhan dolar AS yang tinggi menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi rupiah.
Di sisi lain, intervensi aktif Bank Indonesia menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Otoritas moneter terus menggunakan berbagai instrumen untuk meredam gejolak di pasar valuta asing.
Tekanan terhadap rupiah juga tidak lepas dari dinamika global, termasuk konflik geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang cenderung agresif.
Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarahnya terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya mata uang domestik terhadap sentimen global.
Namun, Bank Indonesia menilai nilai rupiah sebenarnya berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi nasional.
Hal ini memberi ruang bagi penguatan di masa depan, terutama jika tekanan eksternal mulai mereda dan aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Sejumlah ekonom memperkirakan rupiah bisa bergerak di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.700 per dolar AS pada akhir 2026 jika kondisi stabil.
Meski begitu, skenario negatif tetap perlu diwaspadai. Dalam kondisi ekstrem, rupiah bisa kembali tertekan jika ketidakpastian global meningkat tajam.
Situasi ini menjadi pengingat bagi pelaku pasar dan masyarakat bahwa pergerakan rupiah ke depan tidak hanya bergantung pada faktor domestik, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi global.(*)

