Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tekanan pada awal pekan ini. Pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar AS.
Data pasar menunjukkan rupiah dibuka melemah tipis di sekitar Rp17.341 per dolar AS. Pergerakan ini menandakan mata uang Garuda masih berada dalam tekanan eksternal.
Sepanjang sesi pagi, rupiah cenderung bergerak fluktuatif namun tetap berada di zona lemah. Level Rp17.300-an menjadi area yang cukup krusial bagi arah pergerakan selanjutnya.
Sejumlah analis menyebut pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS secara global. Sentimen tersebut datang dari ketidakpastian ekonomi internasional yang masih tinggi.
Selain itu, pasar juga tengah menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Faktor geopolitik juga turut memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketegangan global membuat investor lebih memilih aset safe haven seperti dolar AS.
Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup solid. Namun, tekanan eksternal membuat rupiah sulit menguat secara signifikan.
Bank Indonesia diperkirakan terus memantau pergerakan nilai tukar untuk menjaga stabilitas pasar. Intervensi jika diperlukan menjadi salah satu langkah yang disiapkan.
Sementara itu, pergerakan rupiah yang berada di kisaran Rp17.300–Rp17.360 per dolar AS menunjukkan kondisi yang masih rentan.
Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan global, termasuk langkah bank sentral Amerika Serikat. Kebijakan tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan dolar AS.
Dengan berbagai tekanan yang ada, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat. Stabilitas jangka pendek sangat bergantung pada sentimen global yang berkembang.(*)

