Lima Bulan Jembatan Anduriang, Kayu Tanam Putus Total, Kini Baru Akan Dibangun Jembatan Darurat?

by -
Suasana Penyeberangan yang digunakan masyarakat di korong Lubuak Anduriang Kayu Tanam, Padang Pariaman
Suasana Penyeberangan yang digunakan masyarakat di korong Lubuak Anduriang Kayu Tanam, Padang Pariaman

Catatan : Muharyadi

PADANG PARIAMAN, SEMANGATNEWS.COM – Peristiwa terseretnya lansia Afrizal Yatim (70 th) warga Lubuak Napa, Anduriang, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat akibat derasnya arus sungai saat menyeberang di korong Lubu Aur Anduring beberapa hari lalu dapat dijadikan peringatan keras bagi warga lainnya yang hendak keluar masuk nagari Anduriang dan sekitarnya.

Meski Afrizal Yatim dapat diselamatkan anak muda Maiwansyah warga Pati Kayu, Padang Lapai, Guguak, Kayu Tanam, melalui aksi heroiknya, namun masyarakat tak boleh lengah mengingat air deras yang mengalir tak dapat diprediksi waktunya datang, mengingat faktor cuaca saat ini cepat berubah.

Suasana Penyeberangan Abduriang, Kayu Tanam saat debit air mulai membesar. Dari kejauhan tampak jembatan yang putus total akhir Novemver 2025 lalu
Suasana Penyeberangan Abduriang, Kayu Tanam saat debit air mulai membesar. Dari kejauhan tampak jembatan yang putus total akhir Novemver 2025

Yang membuat kita berpikir dua kali, telah 5 (lima) bulan lebih jembatan Anduriang ini putus disebabkan banjir dan longsor, Pemkab Padang Pariaman ternyata baru di bulan Mei 2026 ini mulai memprioritaskan normalisasi, sebelum pembangunan jembatan darurat dilakukan. Itu pun setelah pemerintah menerima masukan dari masyarakat dan anggota DPRD Padang Pariaman terkait kondisi sungai yang dinilai membahayakan, terlebih saat debit air meningkat.

Padahal beberapa hari setelah kejadian jembatan putus akhir Nobember 2025 lalu, Kepala Staf Kepresidenan yang saat itu dijabat M Qodari didampingi Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis telah meninjau sejumlah titik terdampak bencana di Padang Pariaman, (1/12/2025), termasuk melihat dari dekat Jembatan Anduriang yang putus total.

Rakit sederhana untuk penyeberangan di korong Lubuak Aua Anduriang, Kayu Tanam
Rakit sederhana untuk penyeberangan di korong Lubuak Aua Anduriang, Kayu Tanam

Alih alih isu viralnya jembatan Anduriang yang nyaris memakan korban tersebut, pejabat Sekretaris Daerah Padang Pariaman, Hendra Aswara, Rabu (6/5/26) kemarin menyebut ; sebenarnya pembangunan jembatan darurat telah direncanakan sejak beberapa hari lalu.

Bahkan, alat berat telah dikirim ke lokasi untuk mendukung penanganan di kawasan Jembatan Anduriang, dengan memprioritaskan normalisasi sebelum jembatan dibangun. Mudah mudahan terealisir sesuai janji Pejabat Sekda Padang Pariaman tersebut?

Untuk sementara waktu guna mengatasi agar masyarajat dapat keluar masuak negeri Anduriang dalam beberapa waktu terakhir terdapat dua rakit penyeberangan yang dibuat secara sederhana biasa digunakan masyarakat jarang beroperasi, kecuali bila air surut demi alasan keselamatan.

Namun semua itu tetap saja membuat kita khawatir, karena air bah yang datang tidak dapat diprediksi kapan datang dan kapan surutnya hingga menyulitkan warga bahkan anak anak sekolah yang selama ini memanfaatkan fasilitas jembatan penyeberangan dan bukan tidak mungkin terkena musibah berikutnya.

Akibatnya ratusan masyarakat yang ingin meakses kebutuhan sehari hari melalui pasar Kayu Tanam, Sicincin, dan Padang Panjang termasuk peserta didik, SMP, SMA/SMK yang mengikuti pendidikan untuk sementara sulit mengikuti proses pembelajaran.

Dampaknya, peserta didik yang ingin bersekolah ke Kayu Tanam, Sicincin, Lubuk Alung. Padang Pariaman bahkan Padang Panjang dan sekitarnya terpaksa menggunakan rakit tradisional untuk menyeberangi Sungai Lubuk Aur yang berarus deras, apalagi saat curah hujan tinggi.

Dalam catatan kita, jembatang penghububung antara nagari Anduriang dengan Nagari Kayu Tanam, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, Padang Pariaman sepanjang 150 meter menuju Padang maupun Bukittinggi dari Kayu Tanam, telah putus total karena diterjang longsor dan banjir bandang, akhir November 2025 lalu dari 13 (tiga belas) kabupaten/kota di Sumbar yang terdampak bencana alam berupa longsor dan banjir.

Sebagaimana pernah diberitakan Semangatnews.com, 10/11/2019 hampir tujuh tahun silam ; kondisi jembatan dan jalan yang menghubungi desa Sipisang dan Sipinang kenegarian Anduriang, Kayutanam, kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Padang Pariaman (saat itu-red) kondisinya mulai miring dan dikhawatirkan suatu saat bisa roboh bahkan putus sebagaimana pernah terjadi beberapa tahun silam. Begitu lagi jalan-jalan aspal berukuran kecil dari kenegarian Kayutanam menuju kenegarian Anduriang di desa Sipisang dan Sipisang yang terkenal dengan obyek wisata alamnya “Lubuak Galanggang Ikan” tersebut banyak pula yang rusak parah dan tidak tersentuh perbaikan sama sekali.

Nagari Anduriang, dengan luas wilayah 133,85 km² dan jumlah penduduk tahun 2023 lalu tercatat 8.815 jiwa (laki-laki 4.409 dan perempuan 4.406) dan berpenduduk terbanyak di kecamatan 2×11 Kayu Tanam dibanding Kayu Tanam, Guguak dan Kepala Hilalang (Sumber : BPS Padang Pariaman, 2024) yang mendiami 7 (tujuh) korong ; (1) Korong Lubuak Aua, (2) Korong Lubuak Napa, (3) Korong Sipisang Sipinang, (4) Korong Kampuang Tangah, (5). Korong Balah Aie, (6) Korong Rimbo Kalam dan (7) Korong Asam Pulau

Usai gempa tahun 2009 lalu jembatan yang dibangun era kepemimpinan Bupati Anas Malik tersebut pernah diperbaiki, namun akibat seringnya banjir bandang yang menghanyutkan puluhan hektar padi sawah, kolam-kolam ikan serta rumah-rumah penduduk yang berada disepanjang sungai Anduriang jembatan tampak miring hampir 45 persen.

Menjadi Kenegarian Strategis Saat Mempertahankan Indonesia Merdeka

Nagari Anduriang yang berada antara “ikua darek kepala rantau” itu dulunya pernah menjadi kenegarian yang sangat strategis pada saat mempertahankan Indonesia merdeka, terutama pada era perperangan Belanda dimana Anduriang berperan menjadi dapur umum. Karena Anduriang terletak jauh dari dari pusat jalan raya Padang menuju Bukittinggi, ujar salah seorang tokoh masyarakat dan wali nagari Anduriang, Ahmad Basri dalam suatu kesempatan.

Di kenegarian Anduriang ini pula masyarakatnya pernah berbagi hasil panen mereka berupa padi yang menjadi penghasilan utama masyarakatnya, yakni sebagian diserahkan untuk pejuang dan sebagian lagi untuk keperluan keluarga. Bahkan saat itu ada kesepakatan para pendahulu dan tokoh-tokoh masyarakat kenenagarian Anduring untuk mesyarakatnya seperti yang punya ternak, berupa kambing, ayam, itik, sapi bahkan kerbau dapat diserahkan untuk para pejuang demi mempertahankan negara ini, ujar Ahmad Basri menceritakan kilas balik peran strategis Anduring saat era pra Kemerderakaan RI.

Khusus padi hasil pertanian masyarakat Anduriang, banyak masyarakat dari daerah lain yang langsung membeli kesini, karena hasil padinya setelah ditumbuk menjadi berasnya sangat putih dan berkualitas tinnggi yang dapat menyamai kualitas beras Solok saat panen tiba yang jumlahnya ber ton-ton. Begitu juga hasil durian di Anduriang saat musimnya datang ratusan masyarakat dari luar berdatangan membeli buah berduri yang lezat itu.

Tidak Lagi Bisa Ditanami Padi

Semenjak jembatan Anduriang putus, banyak persawahan penduduk yang jumlahnya tak sedikit tidak lagi bisa ditanami padi, karena “kapalo banda” sebagai irigasi sungai batang anai untuk mengairi area persawahan penduduk dari Lubuk Aur hingga Kampuang Tangah bahkan sampai hingga ke Kampung Tangah bahkan sampai ke Asam Pulau rusak berat. Akibatnya masyarakat tidak bisa memanen padi sebagai penghasilan utama masyarakat sejak November 2025 bahkan hingga kini.

Selain itu area persawahan disepanjang sungai batang anai dari Padang Lapai hingga sebagian ke Asam Pulau kini telah rata dengan bebatuan hingga susah menentukan sawah yang terdampak banjir milik siapa, karena telah berubah menjadi tumpukan bebatuan dan kayu kayu yang hanyut di arus sungai saat kejadian.

Karena itu sudah saatnya kenegarian Anduriang, Kayu Tanam dengan penghasilan utama padi, coklat, durian, kelapa dan palawija lainnya itu sudah selayaknya memiliki jembatan permanen dan jalan aspal mulus untuk memperkuat ekonomi masyarakat Anduriang dan sekitarnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.