semangatnews.com, Jakarta – Pada dasarnya setelah pembuatan buku sejarah Siti Manggopoh tuntas oleh tim peneliti bersama Dinas Kebudayaan provinsi Sumatera Barat, kita juga akan memperjuangkan sebuah museum perang Belasting 1908 Sumatera di Nagari Manggopoh sebagai simbol perlawan rakyat atas kebijakan pemerintahan Hindia Belanda yang menyengsengsarakan rakyat pada masa itu.
Gagasan ini disampaikan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Ridwan Dt Tumbijo disela-sela kunjungan ke Arsip Nasional Republik Indonesia dalam rangka penghimpunan materi bahan-bahan dukumentasi sejarah perang Belasting dan Siti Manggopoh tahun 1908, Jakarta, Senin (11 Mei 2026).
Anggota DPRD Provinsi Sumbar ini juga menambahkan, Museum Perang Belasting di Nagari Manggopoh ini tidak terlepas dari pengaruh besar perjuangan perlawan rakyat kepada pemerintah Hindia Belanda tahun 1908, dimana Siti Manggopoh dan para pejuang perlawan rakyat itu berhasil menumpas para pasukan Belanda pada masa itu di Manggopoh.
“ Keberadaan museum perang Belanting, tentu juga tidak terlepas dari semangat kita bersama bagaimana Mandeh Siti dapat diakui sebagai sosok perempuan minang perang fisik secara heroik sebagai pahlawan nasional”, ungkap Ridwan.

Ridwan juga mengatakan, kami amat berkeyakinan para peneliti sejarah Sumbar, Zulqaiyyim dan kawan-kawan bersama dinas kebudayaan Sumbar akan mampu memberikan yang terbaik, melengkapi bukti data-data tentang perang Belasting lebih dari buku-buku Siti Manggopoh sebelumnya.
“Selama ini kita menyadari beberapa buku Siti Manggopoh yang telah terbit memberikan arti keberadaan perjuangan, dimana juga telah dibuatkan juga filmnya dan menjadi sajian dalam berbagai acara dan peringatan perang Manggopoh selama ini. Namun kita semua itu belum cukup mengantarkan Mandeh Siti sebagai pahlawan nasional, seperti para pahlawan lainnya,” ujarnya.
Disisi lain Kabid Jarahnitra Dinas Kebudayaan Sumbar Zardi Syahrir, SH.MM juga menyampaikan, program kunjungan tim peneliti ke ANRI Jakarta ini sebagai upaya mencari data-data dan informasi serta dukumentasi yang mampu memberikan kelengkapan pembuatan buku sejarah perjuangan Siti Manggopoh pada perang Belasting tahun 1908.
“Selama ini beberapa bulan ini tim peneliti sejarah Sumbar dibawah koordinator Dr. Zulqaiyyim, Dr.Danil Mahmud Chaniago, Fikrul Hanid, Helma Fitri dan beberapa pembantu peneliti lainnya telah bekerja menghimpun berbagai hal tentang perjuang Siti Manggopoh dengan beberapa narasumber yang bertemu dengan Mandeh Siti secara langsung dan beberapa orang pewaris pejuang lainnya tentang peristiwa perang Belasting Manggopoh,” jelasnya.
Zardi juga menyampaikan, niat baik Anggota DPRD Sumbar Ridwan Dt Tumbijo tentang gagasan pembanguan Museum Perang Belasting Sumatera tentu sesuatu yang amat baik dalam upaya mendorong banyak orang tahu, peduli akan peristiwan perang belasting itu bahagian penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dimasa penjajahan Belanda.
“Kita berkeyakinan jika ini dapat diwujudkan tentunya akan memberikan banyak pembelajaran bagi generasi muda, masyarakat Sumbar secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum, bahwa Indonesia adalah negeri pejuang yang tak kenal menyerah untuk meraih kemerdekaan yang dicita-citakan para pahlawan bangsa, mestipun sebelum kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diproklamirkan Soekarno-Hatta,” harapnya. (*)

