Rupiah Jatuh ke Rp17.614 per Dolar AS, Alarm Bahaya Ekonomi Kembali Menyala

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat pagi setelah menyentuh level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap kondisi ekonomi dunia dan memanasnya tensi geopolitik internasional. Investor disebut ramai-ramai memburu dolar AS yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat melemah dibanding posisi penutupan sebelumnya. Tekanan ini memperlihatkan bahwa sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang masih sangat kuat.

Analis pasar keuangan Ariston Tjendra menyebut kombinasi faktor eksternal menjadi penyebab utama pelemahan rupiah kali ini. Konflik di Timur Tengah yang belum mereda membuat harga minyak dunia tetap tinggi dan memicu penguatan dolar AS.

Selain faktor geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid juga memperbesar tekanan terhadap rupiah. Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS atau The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi Amerika Serikat ikut naik dan semakin menarik minat investor global. Akibatnya, aliran modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi terus keluar menuju aset berbasis dolar.

Pelemahan rupiah juga terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan, baht Thailand, hingga yen Jepang tercatat ikut melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.

Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa depresiasi rupiah berpotensi memicu kenaikan harga barang impor di dalam negeri. Jika kondisi berlangsung lama, tekanan terhadap inflasi nasional dapat semakin meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah stabilisasi dinilai penting agar pelemahan mata uang tidak berkembang menjadi kepanikan di pasar keuangan domestik.

Pelaku usaha juga mulai mewaspadai dampak lanjutan terhadap biaya produksi dan aktivitas perdagangan. Sektor yang bergantung pada bahan baku impor disebut menjadi kelompok paling rentan terkena dampak pelemahan rupiah saat ini.

Kini perhatian pasar tertuju pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Jika tekanan global terus berlanjut, rupiah diperkirakan masih menghadapi periode penuh tantangan dalam beberapa waktu ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.