SAWAHLUNTO, SEMANGATNEWS.COM – Badan Pengelola Geopark Sawahlunto menggelar sosialisasi warisan geologi kepada masyarakat Kota Sawahlunto dalam bentuk focus group discussion (FGD), Rabu (13/5/2026), di Ruang Rapat Balaikota Sawahlunto.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kekayaan geologi sekaligus mendukung kunjungan edukatif di setiap lokasi geosite.
FGD dihadiri seluruh camat se-Kota Sawahlunto, kepala desa dan lurah lokasi geosite, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, penggiat Geopark Sawahlunto, serta mahasiswa Teknik Geologi Universitas Islam Riau (UIR).
Keragaman geologi Kota Sawahlunto yang dirangkum dalam konsep geopark “The Windows of Ombilin Basin” disebut menjadi jendela sejarah geologi masa lalu. Kawasan tersebut memperlihatkan beragam jenis batuan, fosil hingga struktur geologi yang terdapat pada Cekungan Ombilin.
Kementerian ESDM disebut telah meneliti 18 situs geologi yang direncanakan menjadi situs warisan geologi atau geoheritage untuk memperkaya Geopark Sawahlunto.
Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Rovanly Abdams, mengatakan geopark tidak hanya mencakup warisan geologi (geoheritage), tetapi juga warisan hayati (bioheritage) dan warisan budaya (cultural heritage).
“Seluruh stakeholder harus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan alam ini agar dapat bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Efdi, menjelaskan saat ini Geopark Sawahlunto memiliki empat geosite bernilai internasional, yakni geosite fosil Foraminifera zaman Permian, fosil ikan air tawar zaman Paleosen Tengah-Eosen, fosil jejak burung zaman Oligosen, serta batubara antrasit zaman Oligosen.
Selain itu, terdapat dua geosite bernilai nasional, yaitu fosil kerang dan siput zaman Trias serta ketidakselarasan sedimentasi antara batuan berumur Oligosen-Miosen yang berada langsung di atas batuan berumur Trias.
Ketua Program Studi Teknik Geologi Universitas Islam Riau, Budi Prayitno, menyebut kondisi geologi di Sawahlunto memiliki skala global sehingga menarik perhatian kampus yang bergerak di bidang ilmu kebumian dan pertambangan.
“Kami akan membawa mahasiswa praktik lapangan dan penelitian selagi masyarakat Sawahlunto menjaga warisan geologi dan bersedia menerima kunjungan,” katanya.
Budi Prayitno menambahkan peningkatan nilai geosite dari tingkat lokal menuju internasional dapat dilakukan melalui penelitian intensif serta publikasi pada jurnal internasional.
Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto juga menyampaikan bahwa Geopark Sawahlunto saat ini telah menjadi laboratorium lapangan bagi sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Negeri Padang, Universitas Islam Riau, Universitas Jambi, hingga Petronas dari Malaysia. (Nova)

