Catatan : Muharyadi
JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Masih segar dalam ingatan, Rano Karno (65 th) aktor, sutradara dan Wakil Gubernur DKI Jakarta anak Sokarno M Noor asal Bonjol Pasaman Timur, Sumatera Barat bertemu satu meja dengan pematung nasional Yusman (62 th) asal Suka menanti Pasaman Barat di Studio Yusman, Tegal Senggotan RT 02/RW 11, No. 53, Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Dalam dialog ringan Rano Karno dengan Yusman, Rano menyatakan kekagumannya sekaligus mengapresiasi kegiatan seni budaya Sumatera Barat yang kini terus menggeliat di tengah-tengah kemajuan dan perkembangan zaman, baik di daerah maupun diperantauan.

Ungkapan tersebut disampaikan Rano Karno saat bersilaturahmi ke studio pematung Yusman di Yogyakarta, yang merupakan teman dekat dan sahabat yang telah lama di kenalnya melalui dunia seni rupa khususnya seni patung.
Menurut Rano Karno, ayahnya Soekarno M. Noer semasa masih hidup didukung sumber-sumber lain yang ditelusurinya, mengaku banyak belajar tentang kebudayaan Minangkabau terutama dalam persoalan seni budaya leluhur kelahiran orang tuanya itu.
Disebutkan, tokoh-tokoh Sumatera Barat umumnya Minangkabau khususnya sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, banyak menjadi pemimpin di medan perang, pemikir di kancah diplomasi dan kreator pemerintahan, apalagi dalam dunia seni dan banyak lagi.
Sebagai generasi penerus generasi muda saat ini seyogyanya kita harus mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebur di tengah-tengah derasnya kebudayaan asing yang menggerogoti tanah air. Sebagaimana mengutip perihal sejarah perjuangan bangsa yang pernah dikemukakan Soekarno ; “Jangan sekali- kali melupakan sejarah dalam perjuangan bangsa dan negara ini,” ujar Rano Karno menceritakan.
Hal yang menarik, Rano Karno juga menyatakan kekagumannya atas kegiatan dunia seni rupa Sumatera Barat, baik oleh seniman di daerah sendiri maupun urang awak di perantauan setelah ia melihat langsung, membaca dan mengamati sejumlah katalogus dan pemberitaan pameran seni rupa dari media massa (cetak dan on line) dalam beberapa waktu terakhir, ujar Wagub DKI Jakarta itu menceritakan pengalamannya.
Rano Karno menceritakan masa kecilnya pernah tinggal di Kemayoran di Gang 7, yang disebut sebagai Gang Tai. Jangan dibayangkan masa kecil Rano Karno tampil sebagai orang hebat. Kedua orang tua saya hidup apa adanya. Bahkan saya makan sepiring berlima adik kakak dengan telur yang dipotong lima. Saat masih anak-anak bersekolah dulu, tiap hari jalan kaki dari Kemayoran, hingga Gunung Sahari. Ini pulalah yang menjadi kekuatan almarhumah ibu saya untuk selalu bahagia ” ujar Rano Karno putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Soekarno M. Noer (Minang) dan Istiarti M Noer (Jawa).
Soal kunjungan silaturahmi Rano Karno ini, Yusman mengisahkan perjalanan hidupnya yang nyaris sama dengan Rano Karno yang masa penuh lika-liku hidup. Jika Rano Karno masa kecilnya saat berusia 12 tahun pernah menjual gorengan di kediaman orang tuanya di Jakarta sementara Yusman masa kecilnya pernah menjual es lilin di kampung halamannya, Pasaman, ujar pematung yang karya-karya monumentalnya telah bertebaran di banyak provinsi dan daerah di Indonesia.
Yusman pematung urang awak kelahiran Sukamenanti, Pasaman, Sumbar, 12 November 1964 dan telah 30 tahun lebih menetap dan berkarya di Yogayakarta, mengaku senang atas kunjungan Rano Karno ke studionya. Kunjungan tersebut sudah kedua kalinya dilakukan Rano Karno ke studionya , kunjungan pertama tahun 2020 lalu oleh putra Sukarno M Noer asal Bonjol Pasaman tersebut.
Selama kariernya sebagai pematung, studionya di Yogyakarta telah dikunjungi 5 Presiden RI beserta keluarganya, mulai dari keluarga Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono serta petinggi lainnya di Indonesia. Kunjungan SBY dilakukan menjelang akhir jabatannya tahun 2014 lalu sebagai persiapan pemasangan patung 6 enam Presiden RI di Istana Bogor saat itu.
Dalam catatan kita, Yusman telah membuat berbagai patung monumen di sejumlah daerah di Indonesia. Tahun 1995, ia dipercaya Presiden Soeharto untuk membuat karya Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat yang diresmikan oleh Presiden Soeharto dan membuat karya-karya monumen dan patung bertaraf nasional sejak era Presiden Soeharto hingga sekarang (2018). Karya Monumennya telah 17 kali diresmikan oleh Presiden-Presiden RI.
Mulai dari Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presdien Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Joko Widodo. Terakhir membuat relief perjalanan Tokoh Proklamator RI, Bung Hatta di SMP Negeri 1 Padang.
Semua itu tentulah bagian dari perjalanan hidup kami berdua saat masih anak-anak jelang remaja yang dapat menjadi bahan rujukan bagi anak-anak muda milenial saat ini, ujar Yusman yang disambut gelak tawa Rano Karno.
Dalam catatan kita, Rano Karno lebih dikenal dengan sebutan Bang Doel merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta (2025-2030) yang dikenal sebagai seorang pemeran, penyanyi, politikus, dan sutradara. Kiprahnya di legislatif sebagai anggota DPR RI merupakan langkah pertamanya setelah menyelesaikan tugas Gubernur Banten pada 2017.
Pada Pemilu Legislatif 2024, Rano Karno mundur dari jabatannya sebagai Anggota DPR RI periode sebelumnya dan tidak ikut dilantik walaupun berhasil terpilih pada Pileg tersebut untuk mendaftar sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2024.
Ia adalah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sejak awal masa Reformasi Indonesia setelah sempat menyertai Golongan Karya sewaktu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Golongan. Ia merupakan putra dari Soekarno M. Noor sekaligus adik dari Tino Karno dan kakak dari Suti Karno.
Karier pemeranan Rano dimulai saat masih muda dengan mendapatkan peran di film Malin Kundang (Anak Durhaka) (1971).
Namanya menjadi dikenal setelah menjadi pemeran utama film Si Doel Anak Betawi (1972). Rano terus berkarier sebagai aktor film dan meraih enam nominasi penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia dari tahun 1984 hingga 1992, memenangkan satu untuk perannya sebagai Giyon di film Taksi (1990). Setelah industri film Indonesia mengalami kemunduran di awal dekade 1990-an, Rano kembali memerankan tokoh Si Doel di serial Si Doel Anak Sekolahan (1994–2003) yang ia produseri sendiri. Sejak aktif menjadi politikus pada pertengahan dekade 2000-an, pekerjaan Rano di dunia hiburan juga menurun.
Rano dilahirkan pada 8 Oktober 1960 di Jakarta, putra dari Soekarno M. Noer dan Lily Istiarti berdarah Betawi-Banten. Ia besar di Kemayoran, Jakarta Pusat. Karena pendapatan ayahnya yang rendah, ia dibesarkan dalam kemiskinan; dia kemudian berkelakar bahwa keluarganya punya satu piring untuk memberi makan lima orang.
Meskipun keuangan keluarga tidak akan cukup untuk membiayai sekolahnya, ia dapat menyelesaikan sekolahnya setelah biaya dikurangi setengahnya. Sebagai pelarian dari kemiskinan keluarga, Karno pergi ke perpustakaan Balai Pustaka dan membaca karya-karya klasik sastra Indonesia, termasuk novel-novel seperti Salah Asuhan karya Abdul Muis dan cerita rakyat tradisional Malin Kundang.
Rano mengenyam pendidikan di SD Strada Van Lith Jakarta (1966–1973), SMP Van Lith Jakarta (1974–1976), dan SMA Negeri 6 Jakarta (1977–1980). Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara Jakarta pada 2013.
Kebiasaannya membaca kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan akting pertamanya. Pada usia sepuluh tahun, ia menghadiri audisi untuk produksi film Malin Kundang. Sutradara, terkesan dengan pengetahuan Karno tentang cerita, memberikan dia peran. Awalnya, ayahnya tidak mendukung pilihannya karena Noer yang lebih tua khawatir Karno akan terus miskin.
Sejak usia sembilan tahun, Rano sudah diajak ayahnya membintangi film Lewat Tengah Malam, memerankan tokoh anak. Namanya mulai dikenal lewat film Si Doel Anak Betawi (1972) karya Sjuman Djaja yang diangkat dari cerita Aman Datoek Madjoindo. Dalam film itu, putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Soekarno M. Noer dan Lily Istiarti berperan sebagai pemeran utama.
Sejak itu, prestasinya pun mulai kelihatan. Lewat film Rio Anakku (1973), Rano memperoleh penghargaan Aktor Harapan I PWI Jaya (1974). Kemudian, dalam Festival Film Asia 1974 di Taipei, Taiwan, ia meraih hadiah The Best Child Actor. Selanjutnya ia mendapat peran-peran remaja dan dewasa lewat film Wajah Tiga Perempuan (1976), Suci Sang Primadona (1977), Gita Cinta dari SMA (1979). Untuk mendukung niatnya terjun ke dunia film, Rano pun belajar akting di East West Player, Amerika Serikat.
Tahun 1990, Rano Karno beralih ke penyutradaraan ; melalui adaptasi serial Si Doel Anak Sekolahan, meskipun awalnya ditolak oleh studio karena terlalu “kedaerahan”, sangat sukses dan berjalan selama enam musim. Dari 1997 hingga 2002, ia menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, dari 2002 hingga 2007, Rano Karno menjabat sebagai Duta Niat Baik UNICEF, mempromosikan literasi.
Ketika industri film Indonesia mulai menurun, Rano beralih ke sinetron. Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron paling monumental yang digarapnya bersama saudara-saudaranya dalam Karnos Film. Dalam sinetron itu, di samping menjadi sutradara, penulis cerita dan skenario, Rano juga ikut main menjadi Si Doel. PT Karnos Film juga menghasilkan sinetron Kembang Ilalang dan Usaha Gawat Darurat.
Rano juga pernah terjun ke dunia tarik suara, pada tahun 1982. Album perdananya, Yang Sangat Kusayang terhitung cukup laku di pasaran. Pada tahun 1984, kemudian merilis album mereka Puspita dengan sekilas single hit Puspita ini sangat mirip dengan lagu “I’ve Been Waiting for You” dari grup musik Swedia, ABBA. Kemudian Rano juga menulis buku, dimana buku pertama Rano, The Last Barongsai, diterbitkan pada tahun 2010, tahun yang sama, ia merilis film lain, Satu Jam Saja.
Dalam catatan kita, Rano Karno dan pasangannya Pramono Anung secara resmi ditetapkan oleh KPUD DKI Jakarta tahun 2024 berhasil menjadi pemenang dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta dengan perolehan 50,07% atau 2.183.239 suara.
Hal ini membuat dirinya dan Pramono Anung menjadi pasangan Cawagub- Cagub- DKI Jakarta pertama dalam sejarah yang berhasil menang satu putaran pada pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta. Pramono Anung bersama Rano Karno resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Rano menikah dengan Dewi Indriati, 8 Februari 1988 dan mengadopsi 2 orang anak, Raka Widyarma dan Deanti Rakasiwi. Sebelumnya Rano pernah menikah dan berakhir dengan perceraian setelah 2 tahun berjalan.
Rano Karno juga pernah diangkat sebagai duta khusus Indonesia dalam bidang pendidikan oleh UNICEF, PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang bergerak dalam bidang pendidikan. Pengangkatannya sebagai duta UNICEF Indonesia merupakan rekomendasi dari Prof. Dr. Emil Salim, Mantan Menteri Kesehatan (alm.) Prof. Dr. Adhyatma, Ibu Prof. Singgih, Ibu Prof Murprawoto.
Belum lama ini pun, Rano Karno di sela sela kesibukannya masih meluangkan waktu untuk mengunjungi makam Leluhur kakeknya di jorong kampung Jambak kecamatan Bonjol Pasaman, Sumatera Barat. Kegiatan ini sebagai bentuk perhatian terhadap garis keturunan dari ayah kandungnya. Selain itu Rano menyempatkan diri mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang menjadi ikon perjuaangan Tuanku Imam Bonjol, antara lain Benteng pertahanan perang paderi di Bukit Tajadi Bonjol dan sejumlah daerah lain di Sumbar.
Kemudian juga Rano Karno meluangkan waktunya mengunjungi rumah tua dr. Ahmad Mochtar, mengenang jejak pahlawan medis nasional yang juga asal Pasaman. Rano Karno menyempatkan waktunya bersilaturahmi ke rumah Bako, di jorong Sianok Bonjol Rombongan yang disambut antusias masyarakat melalui tradisi Silek Songsong, makan bajamba, sebagai simbol kebersamaan dan kesetaraan adat Minangkabau.
Diakhir kegiatan Rano Karno di tanah kelahiran orang tuanya meninjau lokasi rencana pembangunan Rumah Gadang Soekarno M. Noor. Pembangunannya tidak hanya menjadi simbol penghormatan kepada almarhum sebagai tokoh bangsa, tetapi juga sebagai komitmen keluarga besar Soekarno M. Noor dalam melestarikan warisan budaya di tanah kelahiran. (***)

