Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Karya Rani Jambak (34 th) perempuan keturunan Minangkabau asal Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, merupakan satu dari belasan Perupa Perempuan Indonesia pada pameran Indonesia Women Artists#4 sejak 10 April sd 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia mampu mencuri perhatian pengunjung di suatu sudut ruangan yang dipenuhi bunyi lirih gesekan jarum, tarikan benang, hingga suara pembacaan naskah tua Minangkabau.
Rani Jambak mewujudkan instalasi interaktif yang terdiri dari empat Pamedangan (Gabungan sulaman tradisional Minangkabau dengan video dan komposisi audio), memungkinkan pengunjung berpartisipasi menghasilkan suara melalui aktivitas menyulam. Selain itu, komposisi suara hasil proses menyulam Rani turut dihadirkan sebagai bagian dari instalasi. Dan Kolaborasi ini dinilai merupakan wajah baru Seni Budaya Indonesia

Hal tersebut direfresentasikan Rani Jambak melalui pertunjukan performan bertajuk Mamasak Asa. Berbeda dari pertunjukan musik pada umumnya, Rani justru tampil menyulam di depan pengunjung pameran.
Di setiap tusukan jarum yang ia lakukan memunculkan suara elektronik yang berpadu dengan bunyi alam dan pembacaan Tambo Alam Minangkabau. Suasana ruang pamer pun berubah menjadi lanskap audio yang tenang sekaligus inti.

Melalui karya ini, Rani Jambak mencoba menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu identik dengan masa lalu. Menurutnya, tradisi justru masih bisa hidup dan berkembang lewat pendekatan baru.
“Saya ingin menunjukkan bahwa tradisi sebenarnya memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini,”. Karena dalam instalasi Pamedangan, pengunjung diajak ikut menyulam dan menghasilkan bunyi dari aktivitas tersebut.

Pengunjung disuguhkan dengan suara jarum yang menggores kain, tarikan benang, dan bunyi elektronik yang berpadu dengan pembacaan naskah kuno Minangkabau secara bersamaan.
Rani tampil di depan bingkai sulam tradisional Minangkabau yang dikenal sebagai pamedangan dan menggunakan teknik sulam sebagai medium bunyi. Rani menggabungkan seni sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi bunyi, serta memasukkan unsur video dan partisipasi publik ke dalam ruang seni yang harmonis.
Melalui pertunjukan performans bertajuk Mamasak Asa tampil menyulam. Setiap tusukan jarum yang ia lakukan memunculkan suara elektronik yang berpadu dengan bunyi alam dan pembacaan Tambo Alam Minangkabau. Suasana ruang pamer pun berubah menjadi lanskap audio yang tenang sekaligus intim. Suara tersebut berpadu dengan rekaman alam dan pembacaan Tambo Alam Minangkabau, menciptakan pengalaman artistik yang unik dan mendalam bagi banyak pengunjung yang hadir.
Karya Mamasak Asa merupakan pengembangan dari instalasi multimedia interaktif dalam ajang Indonesian Women Artists #4. Dalam karya ini, Rani menggabungkan seni sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi bunyi, serta memasukkan unsur video dan partisipasi publik ke dalam ruang seni yang harmonis.
Melalui Eksplorasi Sulam Tradisional Minangkabau dengan Musik, teknologi bunyi, video, dan partisipasi publik menjadi satu pengalaman artistik.
Karya tersebut diwujudkan sebagai instalasi interaktif yang terdiri dari empat Pamedangan, memungkinkan pengunjung berpartisipasi menghasilkan suara melalui aktivitas menyulam. Komposisi suara hasil proses menyulam turut dihadirkan sebagai bagian dari instalasi.
Secara visual dan konseptual, motif sulaman Rani terinspirasi dari lanskap Lasi di kaki Gunung Marapi. Aktivitas vulkanik gunung tersebut memunculkan rasa takut sekaligus kagum, yang diterjemahkan menjadi refleksi kultural dan ekologis perempuan Minangkabau modern.
Proses menyulam yang perlahan dan penuh ketelitian, yang mengajak kita memahami bahwa perubahan, baik dalam budaya maupun alam dan terjadi secara halus, menuju keindahan.
Pada pertunjukan yang terkesan unik itu, Gunung Marapi menjadi simbol utama yang diangkat. Rani menggunakan teknik sulam tradisional Minangkabau Suji Caia untuk membentuk motif gunung yang dipercaya sebagai bagian penting asal-usul masyarakat Minangkabau.
Menariknya, sulaman tersebut dibuat di atas kain tembaga anti-radiasi yang terhubung dengan perangkat elektronik. Setiap sentuhan jarum menghasilkan sinyal bunyi yang langsung diproses menjadi komposisi audio di dalam ruangan.
Karya ini berangkat dari kekaguman terhadap kekayaan budaya dan falsafah Minangkabau, yang sejak 2019 dieksplorasi oleh Rani melalui proyek #FUTUREANCESTOR. Fokus utamanya adalah pencarian dan pengenalan kembali identitas Minangkabau melalui eksplorasi suara.
Sebelumnya, Rani banyak bekerja dengan field recording dan penciptaan instrumen seperti Kincia Aia, namun dalam karya ini ia mengembangkan pendekatan baru dengan menggabungkan suara dan praktik sulam tradisional menggunakan alat Pamedangan. Pengalaman di Lasi, membuka jalan baginya untuk mempelajari Sulam Suji Caia dari Koto Gadang, sebuah teknik yang memiliki nilai historis penting.
“Ketika mendengar ledakan dan melihat abu vulkanik yang begitu tinggi, ada rasa kecil di hadapan alam. Tapi justru dari situ saya merasa perlu meresponsnya melalui karya,” kata Rani.
Karya Rani Jambak juga terhubung dengan sejarah perempuan Minangkabau, khususnya Rohana Kudus. Tokoh tersebut dikenal mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia pada 1915 sebagai ruang belajar perempuan melalui keterampilan menyulam.
Bagi Rani Jambak, sulam bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan bagian dari pengetahuan dan pemberdayaan perempuan lintas generasi.
“Dulu perempuan belajar dan berdaya melalui sulaman. Hari ini, mungkin kita melanjutkan semangat itu lewat seni dan pengetahuan,” ucapnya. Dalam proses pengembangan karya Pamedangan, Rani juga bekerja sama dengan penyulam tradisional dari Koto Tuo, termasuk penyulam generasi keempat, Essy Hariya.
Popularitas sulam ini tidak terlepas dari peran Rohana Kudus yang pada 1915 mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia sebagai ruang pemberdayaan perempuan Minangkabau. Semangat kolektif ini menjadi inspirasi utama karya, khususnya dalam melihat bagaimana perempuan mampu menciptakan ruang emansipasi melalui keterampilan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.
Dalam catatatan kuratorial pameran disebutkan ; Rani mengambil Gunung Marapi sebagai pusat narasi dalam pertunjukannya. Gunung yang memiliki makna penting dalam kebudayaan Minangkabau ini divisualisasikan melalui teknik sulam tradisional Suji Caia untuk membentuk motif gunung pada kain tembaga anti-radiasi yang terhubung ke perangkat elektronik. Gunung Marapi bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau, ujar Rani memberi ilustrasi.
Ada banyak sekali yang mau disampaikan bahwa dalam aktivitas menyulam ada dua teknik dasar.
Saya juga belajar kepada seniman sulam senior khas Minangkabau, pola aslinya dipajang di dinding galeri, ungkapnya kepada awak media.
Dalam instalasi Pamedangan, pengunjung bahkan diajak ikut menyulam dan menghasilkan bunyi dari aktivitas tersebut. Lewat sistem teknologi yang dibuatnya khusus, bebunyian itu akan keluar dengan indahnya. Rani cerita dari generasi ke generasi setiap perempuan Minangkabau selalu berkarya dari alam dan merespons lingkungannya. “Di sini ada empat kanvas sulaman buat pengunjung yang terhubung dengan sensorik.
“Ketika mendengar ledakan dan melihat abu vulkanik yang tinggi, saya merasa perlu meresponsnya melalui karya,” ujar Rani.
Pengalaman tinggal di kaki Gunung Marapi sangat mempengaruhi proses kreatifnya dalam menciptakan pertunjukan ini.
Para kurator dan pengunjung menilai pertunjukan ini menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda karena berhasil memadukan tradisi lokal dengan teknologi modern. Lewat Mamasak Asa, Rani mengajak publik untuk kembali mendengar hubungan manusia dengan alam serta sejarah budaya yang melekat di dalamnya. Jarum, benang, dan bunyi menjadi medium yang digunakan untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Minangkabau.
Secara visual dan konseptual, motif sulaman Rani terinspirasi dari lanskap Lasi di kaki Gunung Marapi. Aktivitas vulkanik gunung tersebut memunculkan rasa takut sekaligus kagum, yang diterjemahkan menjadi refleksi kultural dan ekologis perempuan Minangkabau modern. Seperti proses menyulam yang perlahan dan penuh ketelitian, karya ini mengajak kita memahami bahwa perubahan—baik dalam budaya maupun alam—terjadi secara halus,
namun pasti, menuju keindahan.
Gunung Marapi dimaksud bukan hanya gunung secara fisik, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau,” sebagaimana dikemukakannya kepada pengunjung. karya itu lahir dari pengalaman pribadinya tinggal di kawasan kaki Gunung Marapi yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Karena praktik seninya berfokus pada eksplorasi musik elektronik dan lanskap suara yang berakar pada berbagai wilayah di Indonesia, dengan perhatian pada hubungan antara alam,
dinamika sosial-budaya, serta warisan leluhur. Melalui pendekatan ini, Rani menelusuri dimensi filosofis tradisi Minangkabau dan mengembangkan gagasan #FutureAncestor, yakni upaya membayangkan masa depan berakar pada nilai spiritual dan pengetahuan leluhur.
Lewat karyanya, Rani juga menyatakan bahwa tradisi tidak selalu identik dengan masa lalu. Karena tradisi justru masih bisa hidup dan berkembang lewat pendekatan baru. Karena saya ingin menunjukkan bahwa tradisi sebenarnya memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini,” ungkap Rani.
Rani yang juga merupakan komposer, produser, perancang instrumen, dan vokalis yang praktik seninya berfokus pada eksplorasi musik elektronik dan lanskap suara yang berakar pada berbagai wilayah di Indonesia, dengan perhatian pada hubungan antara alam, dinamika sosial-budaya, serta warisan leluhur.
Melalui pendekatan ini, Rani menelusuri dimensi filosofis tradisi Minangkabau dan mengembangkan gagasan #FutureAncestor, yakni upaya membayangkan masa depan yang berakar pada nilai spiritual dan pengetahuan leluhur. Salah satu karyanya, Kincia Aia, adalah instrumen yang terinspirasi dari kincir air tradisional Minangkabau dan berfungsi sebagai refleksi kritis terhadap krisis iklim sekaligus reinterpretasi teknologi leluhur.
Karya karyanya selama ini telah dipresentasikan di berbagai festival dan pameran, termasuk Indonesian Contemporary Art dan Design, Biennale Jogja, dan Festival Tenggara, serta tur pertunjukan di Kanada, Australia, dan Korea. Saat ini Rani merupakan peneliti PhD dalam proyek Re : Sound dan penerima The Oram Awards 2022 atas kontribusinya pada praktik suara, musik, dan teknologi.
Rani Jambak bukan sembarang seniman dalam skema seni lokal. Karya perempuan urang awak ini bahkan telah mendunia dan melanglang buana melalui karya-karya inovatifnya.
Rani memajang empat alat buat menyulam yang mengajak partisipatif pengunjung untuk menyulam dengan benang dengan mendekatkan tembaga yang bakal mengeluarkan aneka bebunyian.
Dalam banyak teori menyebutkan fenomena kolaborasi antara seni dan musik. Misalnya pada teori sinestesia mengemukakan bahwa kita cenderung mengasosiasikan warna dan bentuk dengan nada dan melodi tertentu, sehingga seni visual dan musik sering saling melengkapi satu sama lain dalam menciptakan suasana yang mendalam dan kompleks.
Selain itu, teori psikologi estetika menunjukkan bahwa persepsi kita terhadap seni visual dan musik dipengaruhi oleh konteks budaya dan pengalaman pribadi, yang membuat kolaborasi antara keduanya menjadi sarana yang kuat untuk berkomunikasi dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
Bagaimana pun kolaborasi antara seni visual dan musik menggabungkan elemen-elemen estetika dari kedua disiplin tersebut, menciptakan pengalaman multi-sensori yang unik. Seni visual memberikan dimensi visual yang kaya dan ekspresif, sementara musik menghadirkan elemen auditori yang membangkitkan emosi dan atmosfer. Ketika dua bentuk seni ini bertemu, mereka saling memperkuat dan melengkapi satu sama lain, menciptakan keselarasan yang memukau bagi penonton. (*)

