Lukisan “Neo Surealis” Riki Antoni Merefresentasikan Manusia, Tumbuhan dan Hewan Secara Konsisten Terjalin Menyampaikan “Subjek Nilai-nilai Kehidupan”

by
Lukisan “Neo Surealis” Riki Antoni Merefresentasikan Manusia, Tumbuhan dan Hewan Secara Konsisten Terjalin Menyampaikan "Subjek Nilai-nilai Kehidupan"
Riki Antoni

Oleh : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM
“karatau madang di hulu,
babuah babungo balun.
marantau bujang dahulu,
di rumah baguno balun”

Pantun ini mengajarkan kita (masyarakat Minang-Red) bahwa merantau bagi masyarakat di Minangkabau, terutama bagi kalangan anak anak muda merupakan suatu tahapan penting agar di perantauan bisa berfikiran matang, berprilaku baik, sopan santun serta saling menghargai antar sesama manusia dan alam sekitar.

Riki Antoni, Self love, 90x70cm, cat minyak, 2025
Riki Antoni, Self love, 90x70cm, cat minyak, 2025

Tak terkecuali bagi Riki Antoni (49 th) pelukis “urang awak yang” yang sejak tahun 1996 silam merantau dan menuntut ilmu di daerah istimewa Yogyakarta melalui pendidikan tinggi Institut Seni Indonesia (ISI) kemudian bertahan hidup di kota gudeg hingga kini yang sebelumnya memiliki akar melalui pendidikan di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) jurusan seni lukis, (dulu SSRi dan kini SMKN 4) Padang.

Saat dihubungi Semangatnews.com, Selasa Sore (18/08/26) menurut Riki Antoni ; dirinya sejak di Sekolah Dasar (SD) lebih menyukai menggambar daripada mata pelajaran lain dan sering mewakili sekolah dalam kompetisi menggambar. Tapi bukan berarti mata pelajaran lain tidak diikuti, yang banyak menghabiskan waktunya, ya memang menggambar ujarnya mengawali pembicaraan.

Riki Antoni, Benang Merah, 90x70cm, cat minyak 2025
Riki Antoni, Benang Merah, 90x70cm, cat minyak 2025

Sejak memasuki SMSR Negeri Padang sejumlah obyek yang dilukis dengan serius diantaranya “sepasang sepatu” untuk pertama kalinya menampilkan sosok suku Mentawai (suku yang aslinya tidak memakai sepatu).

KaryaDari sini pulalah dimulai perpaduan antara realitas dan imajinasi ekspresi pribadi saya. Meskipun saya belum sepenuhnya familiar dengan konsep surealisme dalam lukisan saat itu. Periode ini menandai awal melukis yang sepanjang fase ini, saya mulai melukis karakter boneka mata besar.

Riki Antoni, Beneficial Ranger, 150x100cm, cat Minyak, 2026
Riki Antoni, Beneficial Ranger, 150x100cm, cat Minyak, 2026

Menurut Riki Antoni subjek lukisannya — objek realitas dan dunia imajinas — tetap sangat dekat dengan saya yang terus mempengaruhi karya-karya yang lahir kepermukaan. Hal ini dikarenakan didasari pengalamannya melukis. Saya mulai memahami makna bentuk seni tersebut dan menghargai keindahan visual karya-karya yang saya refresentasikan kepermukaan. Alih-alih menggambar, saya mulai menciptakan lukisan saat itu,” jelas Riki.

Ketika saya melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1996) dalam lingkungan perkotaan dan universitas, saya belajar melukis berfungsi sebagai “ekspresi jiwa.” Saya juga menyadari keterkaitan dari tiga elemen karya berupa ; manusia, tumbuhan sebagai simbol alam berupa hewan—yang menjadi “cakrawala metaforis” dan dan hewan guna mengekspresikan ide-ide saya kepermukaan, bahkan hingga saat ini. Lukisannya adalah bentuk seni visual yang berbicara seperti puisi kehidupan, ujar Riki memaparkan.

Menurut adek bungsu almarhum Ady Rosa (dosen seni rupa. FBS, UNP Padang) dari 11 bersaudara ini, mengurai kombinasi manusia—terutama anak-anak—tumbuhan sebagai simbol alam, dan hewan membentuk dasar eksplorasi saya, yang bertujuan untuk menyampaikan “nilai-nilai kehidupan” kepada para penggemar seni.

Melalui penggambaran anak-anak dengan mata besar, saya menangkap kejujuran, kepolosan, dan harapan—kualitas yang seharusnya mendefinisikan kita sebagai manusia. Di balik mata yang lebar itu, saya melihat “semangat optimisme” untuk masa depan atau hari esok yang lebih cerahi,” ujar Riki.

Kita simak misalnya, di obyek lukisan-lukisannya, mata yang luas menyampaikan berkah dan kesedihan, menyelami kedalaman duka manusia. “Tanda makna” yang mendasarinya bersifat tanpa syarat, tidak seperti sifat interaksi orang dewasa yang seringkali bersyarat dan transaksional.

Sementara penggambaran tumbuhan sebagai simbol alam, mewakili “kelembutan” dan berfungsi sebagai metafora untuk kasih sayang yang tulus. Terlepas dari eksploitasi manusia untuk alasan ekonomi dan berbagai alasan lainnya, tumbuhan terus menawarkan “kesegaran” dan mempertahankan tempatnya di tengah-tengah kepentingan manusia, yang seringkali “penuh sesak.”

Berbeda dengan simbol tumbuhan, penggambaran tentang hewan terkadang berfungsi sebagai metafora untuk sifat dan perilaku manusia—sifat positif atau negatif. Namun, ikatan unik ada di antara mereka ; ketika manusia memelihara dan merawat hewan, “pemahaman tanpa kata” kian berkembang.

Ketiga elemen ini—manusia, tumbuhan, dan hewan—secara konsisten terjalin untuk menyampaikan “subjek nilai-nilai kehidupan” dalam lukisan. Ketiganya mewakili “Ruang Nilai” yang menjembatani kesenjangan antara realitas keras dan harapan akan kehidupan masa depan yang lebih baik, khususnya bagi anak-anak dan generasi mendatang. Inilah esensi Neo Surrealisme yang saya suasati,” ujar Riki Antoni!

Mozaik nilai-nilai kehidupan yang lahir dari konsep pribadi Riki Antoni dan bukan sekadar “kanvas kosong” yang ditutupi dengan teknik warna.

Merenung dan Memahami Proses Menciptakan Karya

Diakui, saya secara pribadi dalam kerja lukis melukis memiliki karakter pribadi yang berbeda. Karena saya banyak menghabiskan waktu di rumah dan studio untuk merenung dan memahami proses menciptakan karya seni, daripada bersosialisasi dengan teman-teman atau terlibat dalam banyak pertemuan. Tapi bukan berarti saya tidak berteman sama sekali, ujar tersenyum.

Saya tidak yakin mengapa ; mungkin itu melekat pada karakter saya. Seringkali, saya menjaga jarak tertentu ketika bersama orang lain, karena saya hanya fokus pada narasi saya bahkan mengalami kesendirian di tengah percakapan teman-teman.

Di karya karyanya ia mewujudkan gaya kreatif yang memadukan Surealisme Tradisional dengan budaya visual dunia modern. Gaya ini dicirikan oleh penggunaan penempatan unsur yang berdampingan secara tak terduga yang menyerupai mimpi, serta komposisi fantastis yang sering kali menimbulkan kesan disorientasi.

Dalam catatan yang ia pahami seniman Neo-Surealis memanfaatkan perangkat dan teknologi digital untuk menciptakan karya yang mengaburkan batas antara realitas dan imajinasi, sehingga menghasilkan seni yang sangat imajinatif sekaligus sangat personal. Salah satu aspek kunci Neo-Surealisme yakni penggunaan teknologi digital untuk menciptakan karya memadukan unsur nyata dan imajiner secara mulus yang memungkinkan menciptakan karya imajinatif namun yang tetap berakar kuat pada realitas.

Aspek penting kecendrungan “Neo-Surealis” yang disiasatinya fokusnya pada elemen-elemen fantastis dan nuansa mimpi yang menjadi ciri khas Surealisme tradisional. Melalui penggunaan penempatan unsur yang tak terduga dan komposisi fantastis, ia menciptakan karya yang memberikan efek disorientasi namun tetap memiliki resonansi mendalam.

Karena menurut Riki, Neo-Surealisme merupakan kecendrungan istimewa dalam menangkap esensi surealis sekaligus menghadirkan sentuhan personal yang kuat. Dengan memanfaatkan kekuatan teknologi digital, saya menciptakan karya yang benar-benar unik karena populer di kalangan desainer dan seniman visual yang tertarik menciptakan karya imajinatif sekaligus personal. Singkatnya, Neo-Surealisme merupakan kecendrungan kreatif memadukan Surealisme tradisional dengan budaya visual dunia modern.

Kecendrungan ini dicirikan oleh penggunaan penempatan unsur yang berdampingan secara tak terduga, citraan yang menyerupai mimpi, komposisi fantastis yang sering kali menimbulkan kesan disorientasi.

Paul Klee, Eugene Henri Paul Gauguin, dan Henri Matisse Menginspirasinya

Dalam perjalanan kariernya sebagai pelukis ia jujur mengakui bahwa sosok seniman ternama dunia seperti Paul Klee, Eugene Henri Paul Gauguin, dan Henri Matisse turut mempengaruhi karya karyanya dan saya terinspirasi oleh karya-karya yang dihasilkan ketiga seniman, meskipun sebelumnya saya tidak menyadarinya.

Terus terang, karya yang saya ciptakan tidak dipengaruhi oleh trend pasar seni lukis kontemporer sejak tahun 1992 hingga sekarang, saya hanya berfokus mengeksplorasi kecendrungan lukisan yang saya refresentasikan kepermukaan untuk terus belajar, mengembangkan dan mendalaminya.

Riki Antoni merupakan sosok yang cenderung menyendiri dari hingar bingarnya masalah duniawi, karena saya menghabiskan banyak waktu di rumah dan studio untuk merenung serta memahami proses penciptaan karya seni, alih-alih bergaul dengan teman atau bertemu banyak orang. Bahkan sering kali, saya menjaga jarak saat bersama mereka dan hanya menyimak cerita-cerita mereka. Terkadang, saya bahkan merasa kesepian di tengah riuhnya obrolan teman-teman sesama seniman, karena saya merasa bahagia saat berada di studio, terutama ketika sebuah ide muncul sebagai konsep dasar, membuat sketsa di atas kertas, kemudian mengeksekusi lukisan kepermukaan.

Dalam proses penciptaan setelah memilih ide, aspek “harmonisasi” menjadi poin penting bagi saya. Secara teknis, saya selalu menggunakan cat minyak; karakteristik cat ini padat dan mampu membentuk garis serta objek dengan tegas, berbeda dengan cat akrilik.

Hal ini menjadi salah satu tantangan tersendiri baginya ; karena lukisan bagi saya harus tetap memiliki sisi lembut dan menenangkan. Saya berupaya mengubah “fakta realitas” menjadi sesuatu yang lebih emosional dan imajinatif, sehingga tercipta karakter sesuai jati dirinya.

Hal itu pulalah makin mengasyikkan, karena baginya menganggap studio lukis dapat menjadi laboratorium kecil untuk melahirkan karya karya bernilai estetis tinggi dalam ranaj kreativitas berolah seni,” ujar Riki mengakhiri. (***)

Catatan Redaksi
Muharyadi, Seniman, kurator dan jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.