Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Tak terasa tanggal 28 Agustus 2026 ini, telah 5 (lima) tahun kita ditinggal pergi selama lamanya oleh Mantan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit DT Malintang Panai (2016–2021) di RSUP M Jamil Padang setelah 6 hari sebelumnya menjalani perawatan di ruangan tulip ICU Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang karena dinyatakan positif Covid-19.
Almarhum kemudian dimakamkan di kampung halamannya Labuhan Tanjak, Air Haji, Linggo Sari Baganti, Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang dihadiri banyak pelayat, para pejabat, sanak saudara, pemerintah provinsi dan Pesisir Selatan serta lainnya.

Tak dapat dipungkiri perjuangan sosok Nasrul Abit selama 15 tahun membangun Kabupaten Pesisir Selatan sebagai daerah sejuta pesona menjadi daerah kabupaten layak kunjung bagi semua orang dan 5 tahun pula menjadi Wakil Gubernur di Sumatera Barat, kiprahnya sangat dirasakan masyarakat yang dimulainya dari bawah dengan banyak pengalaman selama di pemerintahan.
Nasrul Abit, lahir 24 Desember 1954, anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Abit (ayah) dan Syamsinar (ibu) itu mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 06 Air Haji (tamat 1969) dan Sekolah Teknik Negeri Nomor 2 Kambang, Balai Selasa (1972), Sekolah Teknik Menengah Negeri Padang (1975).

Dalam catatan, Januari 1976 Nasrul Abit merantau ke Kota Bandar Lampung mencari petuntungan disana. Sepuluh bulan lamanya, ia sempat bekerja menjadi tukang, kenek mobil umum, dan belajar menjahit. Berbekal ijazah STM jurusan bangunan gedung, Nasrul Abit mengikuti seleksi menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 1977 di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan (Kanwil Depkes) dan dinyatakan lulus.
Sebagai PNS, Nasrul Abit menjalani berbagai tugas di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Lampung sejak 1977 hingga 2000. Dalam kurun waktu tersebut Nasrul Abit pernah menjadi Staf Sub-Bagian Umum (1977–1991). Kepala Sub-bagian Perlengkapan (1991–1995), Pimbagpro Prasarana Fisik Fasilitas Kerja (1997–1999), Penjabat Sementara Kepala Sub-bagian Umum (1999), dan terakhir sebelum peindah ke Pesisir Selatan menjadi Kepala Bagian Tata Usaha (1999–2000). Ia juga menjadi Asisten Teknis Proyek Peningkatan Rumah Sakit Umum Lampung (1990–1995).

Sambil bekerja, Nasrul Abit juga menyempatkan diri mengambil gelar diploma III bidang Administrasi Niaga di Akademi Administrasi Niaga Bandar Lampung. Menamatkannya tahun 1986. Hingga melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bandar Lampung hingga berhasil meraih gelar sarjana Administrasi Negara (1989).
Maju Sebagai Wakil Bupati dan Bupati Pesisir Selatan
Sebelas tahun kemudian di tahun 2000, Nasrul Abit maju sebagai calon wakil bupati mendampingi Bupati Darizal Basir periode kedua dalam pemilihan Bupati melalui DPRD dan berhasil menduduki jabatan Wakil Bupati Pesisir Selatan dan dilantik pada September 2000.

Tahun 2005, Nasrul Abit maju sebagai calon Bupati dengan menggandeng birokrat Syafrizal dalam pemilihan umum Bupati Pesisir Selatan 2005. Pasangan ini diusung PAN (Partai Amanat Nasional) yang pemilihannya dilaksanakan 1 Agustus 2005 hingga berhasil terpilih dan dilantik 17 September 2005.
Di tahun 2010, Nasrul Abit maju kembali sebagai calon bupati dengan menggandeng birokrat Editiawarman dalam pemilihan umum Bupati Pesisir Selatan yang diusung koalisi Partai Demokrat, PAN, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Gerindra. Hasilnya, Nasrul Abit–Editiawarman memenangkan pemilihan dengan persentase 33,41% suara sah kemudian dilantik 17 September 2010.
Kedigdayaan Nasrul Abit pernah menjadi orang nomor dua dan nomor satu di kabupaten Pesisir Selatan selama satu setengah dekade menjadikan daerah Pesisir Selatan dengan luas 5.749,89 km² yang secara geografis berada sebelah utara berbatasan dengan Kota Padang, sebelah timur Kabupaten Solok dan Provinsi Jambi, sebelah selatan Provinsi Bengkulu dan sebelah barat Samudera Indonesia kian makin tacelak dalam banyak sektor.
Lihatlah betapa meningkatnya kunjungan wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara ke daerah Pesisir Selatan yang secara priodik terus berkembang dengan pesat. Kepadatan arus lalu lintas sebagai salah satu “penanda” bahwa pertumbuhan ekonomi daerah cendrung tumbuh dan berkembang secara signifikan cepat teratasi dengan baik.
Kabupaten Pesisir Selatan terletak di pinggir pantai, dengan garis pantai sepanjang 218 km dengan topografinya terdiri dataran, gunung dan perbukitan merupakan perpanjangan gugusan bukit barisan. Berdasarkan penggunaan lahan, 45,29 persen wilayah terdiri dari hutan, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Koto XI Tarusan, dan rawa gambut.
Sebuah catatan yang pernah dilansir Semangatnews.com tahun 2019 lalu menyebut bahwa ; perkembangan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Pesisir Selatan saat itu telah memberikan gambaran positif sebagai kemajuan pelaksanaan pembangunan dan ekonomi secara baik dan benar, telah dirasakan masyarakatnya dengan baik.
Perjuangan 15 tahun mengabdikan sebagai Wakil Bupati (5 tahun) bersama Bupati Dasrizal Basir (2000-2005) dan 10 tahun menjadi Bupati Nasrul Abit telah memberi arti penting dalam merobah mainset dan image masyarakat yang dahulu dikenal sebagai daerah tertinggal, miskin, terbelakang penuh tuba dan racun, ternyata melalui tangan dingin Nasrul Abit menjadi maju dan terbuka.
Karena itu tak berlebihan jika Nasrul Abit merupakan satu diantara banyak putra terbaik Pesisir Selatan yang mampu membanggakan Sumatera Barat. Kenapa tidak, didasari rasa kecintaan memajukan daerah, Pesisir Selatan saat itu dikenal banyak orang, baik regional, nasional bahkan internasional.
Dimulai dengan perhatian terhadap pembanguan pendidikan, sekolah-sekolah disetiap nagari, perhatian pelayanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur jalan, penataan wilayah, pemekaran nagari menjadi kekuatan besar Pesisir Selatan secara lebih terbuka hingga gerbong masyarakat yang sebelum tahun 2000 an diam tertutup kemudian bergerak kearah berkemajuan yang signifikan.
Persoalan-persoalan kondisi perkembangan daerah yang dialami masyarakat juga terangkat menjadi pembicaraan hangat di kalangan media, mulai dari jalan, sarana prasarana pendidikan, rumah tak layak huni hingga, jembatan gantung yang rusak, dimana ada beberapa siswa SD bergantungan menyeberangi sungai menjadi viral dan trending topic saat itu.
Sosok Nasrul Abit tak pernah panik, ia semakin berkerja keras bersama perangkat daerah guna melakukan pendekatan dengan pemerintah provinsi hingga ke pemerintah pusat. Para perantau dan investor lainnya Nasrul Abit mengajak ikut serta memajukan pembangunan Pesisir Selatan untuk keluar dari daerah tertinggal.
Ketika bencana gempa bumi 2007 lalu di kabupaten Pesisir Selatan berduka hebat terdapat banyak korban jiwa, rumah-rumah penduduk hancur dan rusak. Presiden RI ke enam Susilo Bambang Yudoyono dan ibu Ani datang menyaksikan langsung ke lapangan, dan menyatakan turut berduka yang amat dalam.
Disisi lain Susilo Bambang Yudoyono dan Ani Yudoyono memuji dan senang, apa-apa yang telah dilakukan sosok Nasrul Abit bersama masyarakat dalam membangun dan memajukan Pesisir Selatan diantaranya sebagai daerah wisata sejuta pesona dengan beragam destinasi yang ada, bukan hanya dikenal secara regional, nasional bahkan internasional.
Maju Sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur Sumatera Barat
Satu priode sebagai Wakil Bupati dan dua periode menjadi Bupati Pesisir Selatan, Nasrul Abit melanjutkan perjuangangannya untuk maju sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat mendampingi Gubernur Irwan Prayitno periode kedua pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2015 yang diusung PKS dan Gerindra.
Jalan mulus berada di tangan pasangan ini. Pemilihan Kepala Daerah 9 Desember 2015 tersebut dimenangi Irwan Prayitno–Nasrul Abit atas Muslim Kasim–Fauzi Bahar dengan persentase 58,62% suara sah. Pasangan Irwan Prayitno–Nasrul Abit kemudian dilantik di Istana Negara 12 Februari 2016 oleh Presiden Joko Widodo.
Sebagai wakil gubernur dan sejak 11 Desember 2019, Nasrul Abit juga diangkat sebagai Ketua Dewan Penasehat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Sumbar.
Pada pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2020, Nasrul Abit maju sebagai calon gubernur menggandeng Bupati Agam Indra Catri. Pasangan ini diusung Partai Gerindra yang cukup memenuhi persyaratan jumlah kursi DPRD Sumatera Barat untuk mencalonkan diri. Pemilihan dilaksanakan 9 Desember 2020 dan diikuti empat pasang calon. Nasrul Abit–Indra Catri memperoleh sebanyak 30,3% suara sah, berada di posisi kedua setelah Mahyeldi–Audy Joinaldy.
Perhatian Terhadap Kebudayaan dan Kesenian
Selama bertugas wakil calon gubernur Sumbar, Nasrul Abit bersama Irwan Prayitno banyak turun ke lapangan menemui masyarakat yang dipimpinnya, untuk terus berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat di lapangan tak terkecuali dengan teman teman seniman dalam berbagai kesempatan.
Dalam suatu kesempatan Festival Budaya generasi muda Batipuh patut kita apresiasi karena menjadi inspirasi budaya Minangkabau yang merupakan suatu tradisi berkembang di tengah masyarakat secara turun-temurun dan telah diakui terus dihidupkan.
Mengingat pelestarian dan keberadaannya di Batipuh menjadi salah satu percontohan, serta menjadi kebanggaan bagi kita sebagai salah satu upaya melestarikan adat Minangkabau di kalangan generasi milenial,” ujar Nasrul Abit saat membuka iven festival budaya Batipuh dengan tema “Baradaik Ka Batipuh Barajo Ka Pagaruyuang, Adaik Salingka Nagari” di Jorong Batang Gadih, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Tanah Datar.
Kehadiran Wakil Gubernur Sumbar disambut gembira para Ninik Mamak Nagari Batipuh Baruah, yang dipelihatkan dengan tari pasambahan dan tari gelombang berupa ; “silek, tari piriang, dan siriah carano”.
Setiap gerak dan makna tari pasambahan merupakan budaya tradisional Minangkabau sebagai bentuk ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu yang baru saja sampai serta diiringi musik tradisional Minangkabau seperti gendang tambua dan talempong.
Masyarakat Minangkabau yang memiliki filosofi masyarakat Minang ; “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” merupakan proses pergulatan antara Adat, Islam. “ABS SBK bagaikan filosofi Ilmu Pengetahuan dimana dalam kerangka filosofis memaknai ekstensi manusia sebagai Khalifatullah di dunia. Manusia memainkan peran menjaga lingkungan alam, menjaga hubungan sesama dan taat sebagai ibadah kepada Allah SWT,” ujar Nasrul Abit saat itu.
Wagub Sumbar juga menyebut ; sebagian masyarakat mengkhawatirkan budaya ini akan hilang akibat perkembangan zaman, tetapi daerah Batipuh tidak, disini tempat orang beradat yaitu di Kabupaten Tanah Datar. Terkait Tanah Datar ini kental dengan adat dan budaya Minangkabau yang turun temurun dari orang terdahulu. Dengan adanya festival budaya di Batipuh ini tentunya dapat menjadi contoh bagi generasi kedepan nanti.
“Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh”, artinya kehidupan kekerabatan di Minangkabau, walau pun pengaruh dari luar datang begitu besar, namun karena ikatan adat yang kuat maka sistem kekerabatan tersebut tidak akan goyah, inilah yang harus dipertahankan,” kata Nasrul.
Kemudian, dalam beberapa kali pameran sejak 2019 sd 2020 Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit tetap meluangkan waktunya mengunjungi Taman Budaya Sumatera Barat, bertemu dengan seniman dan menyaksikan karya karya yang terpajang bahkan tanpa diminta orang nomor dua Sumbar ini rela mengorbankan waktunya untuk mengadakan diskusi sambil duduak baselo dengan teman seniman. Satu diantaranya pameran “Perspektif” merupakan gabungan dua perguruan tinggi seni di Sumbar ; Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan FBS (Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang) Universitas Negeri Padang (UNP) dengan menampilkan karya seni rupa murni dan seni terapan dari puluhan peserta yang turut berpartisipasi.
“Sebagai seniman tentunya, dengan ajang berekspresi melalui karya seni, diharapkan teman teman seniman jangan pernah berhenti berkarya,” harap Wakil Gubernur.
Nasrul Abit bangga dengan karya seni dari UNP dan ISI Padang Pajang bahkan seniman diluar lembaga pendidikan tinggi tersebut. Karenanya saya berharap agar pemerintah provinsi maupun Pemkab/Pemko bisa memberi motivasi dan peduli terhadap para seniman beserta kehidupannya.
“Tentunya kita ingin karya seni diakui oleh banyak orang, namun jangan sampai orang-orang seni tersebut lari ke luar semuanya dari Sumbar mengingat tak ada ruang kehidupan untuk mereka,” ujar Wagub.
Pada kegiatan lain juga pertemuan silaturrahmi juga dengan seniman, Wagub yang meluangkan waktu bertemu dengan sejumlah tokoh seniman dan musisi di kota Padang persisnya dikediaman Agus taher, Rimbo Data, Lubuk Kilangan, Padang. Nasrul Abit berharap masyarakat di Sumatera Barat lebih-lebih generasi mudanya untuk tetap senantiasa mencintai dan menggali kekuatan-kekuatan budaya lokal dengan terus mempelajari dan menggali isi kekuatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan seni lainnya seperti seni tari, pertunjukkan rabab, saluang, indang dan beragam seni tradisi serta seni rupa yang menjadi salah satu etalase seni rupa nasional dan terus menggeliat dengan kehadiran karya-karya terbaik setiap ruang dan waktu.
Dunia seni kita dalam perspektif budaya diharapkan bukan sekedar mendapat pengakuan tetapi lebih jauh memberi arti yang sangat positif, terutama dalam upaya pelestarian budaya dan mampu memberikan spirit atau motivasi kepada generasi muda untuk mencintai, menyenangi serta mewarisi nilai-nilai budaya yang kita miliki,” setiap ruang dan waktu, ujar Nasrul yang diakui dekat dengan dunia seni dan penciptanya.
Budaya bukanlah sesuatu yang kaku dan mengekang. Sebaliknya, dengan mencintai budaya, kita memberikan ruang bagi inovasi dan kreativitas untuk berkembang. Budaya adalah sumber inspirasi yang tak terbatas, terutama ketika kita memadukannya dengan pengetahuan dan ide-ide baru. Dalam kehidupan yang serba modern ini, membawa unsur budaya dalam aktivitas sehari-hari bisa menjadi pengingat betapa kaya dan uniknya asal usul kita.
Dari aktivitas demi aktivitas di banyak sektor pembangunan, juga sektor kebudayaan dan kesenian, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam waktu yang begitu singkat semasa hidupnya pada orang nomor dua di eranya ini selain banyak sektor pembangunan yang dikelolanya bersama Gubernur dan jajarannya, ia banyak menghabiskan waktunya untuk sektor pembangunan kebudayaan dan kesenian, dengan melihat, menyaksikan dan berkominikasi dengan sejumlah pelaku dan seniman guna mendengar dan menerima masukan dengan sejumlah tokoh tokoh seniman, budayawan, kurator dan media massa yang ada di daerah ini.
Tapi sayang waktunya terlalu singkat, ia telah dipanggil keharibaan Allah SWT untuk selama lamanya. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun. (***)
Catatan Redaksi :
Muharyadi, seniman, kurator dan jurnalis

